Undangan #OneDayInSoekamti

Masih sering geli sendiri mengingat reaksi dan ekspresi beberapa kawan saat menerima undangan launching album terbaru Endank Soekamti, bertajuk Soekamti Day, pada pertengahan Februari 2016 lalu.

Ada yang terkejut karena baru mengetahui saya menjadi bagian dari Endank Soekamti, sekaligus heran dan bertanya saya di sana ada di bagian apa.

Biasanya ini terjadi pada kawan-kawan yang secara personal dekat dan sudah lama kenal, serta kebetulan diundang ke acara launching album tersebut.

Ada pula yang saat menerima undangan, ekspresinya campuran antara heran dan sedikit cemas.

Nampaknya si penerima undangan heran karena kok bisa-bisanya dapat undangan peluncuran album ke-7 Endank Soekamti, padahal dalam kegiatan keseharian, mereka nyaris tidak pernah bersentuhan dengan band ini.

Ini kebanyakan terjadi saat mengantarkan undangan ke para tokoh seni, budaya, media, dan lain sebagainya, yang dengan segala kerendahan hati sengaja diundang untuk memperkenalkan sekaligus memperlihatkan apa yang telah dilalui dan dicapai band asal Yogyakarta ini selama 15 tahun perjalanannya.

Kecemasan yang terlihat saat menerima undangan juga dapat dimengerti karena saat mendengar Endank Soekamti, yang terbayang adalah konser di lapangan luas, dengan ratusan muda-mudi Kamtis berpesta. menyanyi, dan menari di sana. Sementara tokoh penerima undangan yang secara usia telah menginjak tahap “matang” itu, tentu saja berpikir dua kali jika harus turut jingkrak-jingkrak seperti anak-anak muda tersebut.

Jika melihat ekspresi seperti ini, langsung penjelasan tentang bagaimana format launching album ini nanti dilaksanakan segera meluncur dari mulut saya.

Menjelaskan bahwa ini formatnya bukan konser, bahwa ini diselenggarakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta yang kondisi ruangannya tidak memungkinkan untuk menampung Kamtis sebanyak itu, juga menerangkan bahwa nanti porsi acara akan lebih banyak ke screening film dan presentasi tentang perjalanan Endank Soekamti serta album barunya ini.

Meskipun masih menyisakan sedikit kebingungan, namun setidaknya ekspresi kecemasan sudah sirna dari wajah para penerima undangan tersebut. Lebih menyenangkan lagi, mereka akhirnya terlihat datang ke acara malam peluncuran album.

Mungkin terasa aneh, jika melihat keputusan mengundang tokoh-tokoh yang biasanya berada jauh di luar “lingkaran” Endank Soekamti — selain tentu saja pasti mengundang para sahabat, kerabat, handai taulan, dan mitra band ini — ke peluncuran album ke-7 di malam itu.

Tapi semua itu dilakukan karena setelah 15 tahun perjalanan, setelah melewati perjalanan panjang yang nampaknya masih jauh dari berhenti, band ini ingin membagikan kisah, pengalaman, pencapaian, dan suka-duka, pada semua hadirin.

Bukan untuk menyombongkan diri, tapi apa yang telah dilalui sejak dulu hingga saat ini, serta mimpi-mimpi yang akan diraih kelak, rasanya amat sayang jika hanya disimpan sendiri.

Originally published at temukonco.com on June 6, 2016.

Like what you read? Give Iwan Pribadi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.