What Friends Really Are
Semakin hari saya semakin merasa manipulatif. Maksud saya adalah bertingkah laku dengan bahagia dan carefree padahal banyak layer yang dipendam. Layer-layer tersebut seperti namanya hanya dipendam. Dalam kondisi super lelah dan tekanan tinggi ya jadinya crack juga. Ada salah satu prinsip yang dipegang TNI kalau gak salah “Never crack under pressure”, ya sebenernya pasti ada waktu mereka crack setiap crack tapi dijadikan pembelajaran untuk lebih baik.
Beberapa hari ini saya jadi berpikir selama ini manusia sering mempalsukan dirinya, apakah dalam hubungan antar sesama adanya adalah sebuah kepalsuan juga? Saya pernah membaca sebuah kutipan yang menurut saya sangat mengena di hati. Ketika semua atribut seperti dimana anda sekolah, anda pernah melakukan apa, apa yang sedang anda kerjakan, apa prestasi anda, berapa uang anda dilepaskan dari anda. Masih adakah yang ingin berteman dengan anda?
Saya jadi sadar bisa jadi semua pertemanan saya berdasarkan unsur siapa saya dan kuasa yang saya miliki. Dan bukan saya sebagai seorang manusia.
Teman Seperti Apa?
Sebenarnya ketika ditanya menurutmu teman apa pasti saya akan berhenti sejenak. Definisi ini terus berubah, karena untuk mendefinisikan teman perlu proses panjang. Dan setiap awal dan akhir dari pertemanan intensif selalu berakhir dengan definisi baru. Untuk sementara saya akan menjawab
Teman adalah yang mendorong kamu menjadi lebih baik. Terlepas jarak maupun frekuensi komunikasi. Mereka adalah ikatan yang gak akan kamu lepas walaupun mungkin hubungan kalian sudah tidak intens.
Oh ya sebelum salah paham saya bukan penganut dikotomi teman dan sahabat. Dikotomi yang saya pakai teman dan kenalan.
Ketika mereka mendorong kamu menjadi pribadi lebih baikpun sebenernya multitafsir. Bisa dia teman yang memberi teladan. Teman yang memberi nasehat ketika salah. Teman yang memperbaiki suasana hati yang sedang sedih. Teman yang berlomba dalam kebaikan.
Untuk saat ini itu definisi teman saya.
Aristoteles Sang Filsuf
Berdasarkan dialektika Aristoteles tingkatan perteman dibagi menjadi 3 jenis:
- Pertemanan dengan keperluan
Ini adalah jenis pertemanan paling basic dan paling masuk akal. Kalian temenan karena kalian saling memanfaatkan. Entah itu teman karena yaudah untuk pansos, teman untuk sekadar ngisi bukang tugas osjur. Ya pertemanan macam itu. Pertemanan ini selesai ketika tujuannya sudah tercapai.
- Pertemanan Karena Kesamaan Minat
Kenikmatan bersama merupakan tujuan dari pertemanan ini. Biasanya ditemui dalam teman seminat atau sehobi. Misal kita teman karena kita sama-sama suka travelling. Kita teman karena kita suka nonton bola. Ini beneran that kind of friends for specific condition. Misalnya dia temen karaoke lu tapi bukan teman travelling. Jadi kalau anda tiba tiba udah malas karaokean otomatis byebye sama orang ini. Biasanya hubungan dengan pertemanan ini hilangnya tak diduga.
- Terakhir adalah Pertemanan atas dasar kebaikan
Saya akan mengutip sebuah website saja karena penjelesannya cukup komprehensif.
Orang-orang yang Anda sukai untuk diri mereka sendiri, orang-orang yang mendorong Anda untuk menjadi orang yang lebih baik. Motivasinya adalah bahwa Anda peduli terhadap orang itu sendiri dan karena itu hubungan jauh lebih stabil daripada dua kategori sebelumnya. Persahabatan ini sulit ditemukan karena orang yang dikatakan “berbudi luhur” sulit ditemukan. Aristoteles menyesalkan keleluasaan persahabatan semacam itu, tapi mencatat adanya kemungkinan antara dua orang yang berbudi luhur yang bisa menginvestasikan waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan ikatan semacam itu.
Sementara Aristoteles mendorong kita untuk mencari bentuk persahabatan “Sejati”. Dia tidak selalu mengira Anda orang jahat karena memiliki teman dari dua jenis sebelumnya. Kita semua memilikinya. Sementara dia mengakui bahwa beberapa kesenangan buruk bagi Anda, dia juga menyebut kesenangan itu baik yang orang ingin nikmati. Masalah sebenarnya dalam persahabatan ini adalah ketika Anda gagal memahami bahwa mereka berasal dari jenis yang lebih rendah dan tidak berusaha untuk menemukan persahabatan yang lebih baik.
Perbanyak Koneksi, Pererat Kedekatan
Sebagai makhluk sosial punya banyak teman tentu ada pro dan kontranya. Tapi satu yang pasti adalah kita harus mencari teman yang dekat. Kenalan biarlah tetap jadi kenalan. Teman jangan biarkanlah menjadi kenalan. Dan seperti kata Aristoteles, gak ada salahnya punya temen banyak tapi pastikan untuk mencari teman dalam kebaikan. Sebelum mencari pastikan anda orang yang baik dan tulus.
Sudah tuluskah anda dalam menjalin hubungan?
