Alun-Alun Bandung!
Srek! Srek! Srek! Srek!
Begitulah kiranya bunyi lidi yang menggaruk tanah siang ini untuk mengumpulkan dedaunan yang jatuh meninggalkan rantingnya. Sapu lidi. Alat yang dibuat dan digunakan oleh manusia untuk membersihkan halaman,jalan,lapangan dari debu dedaunan yang sering jatuh terbawa angin yang segar. Mata ini memandang seperawakan orang yang menggunakan pakaian rompi hijau sedang menggerakkan sapu lidi. Membersihkan jalanan agar terlihat tampak indah setiap saat walaupun terik matahari tidak menyembunyikan amarahnya.
Hari ini hari minggu. Hari dimana kebanyakan orang bahkan diriku mempergunakan waktu Sepanjang hari untuk mencari ketenangan dari kepenatan kehidupan ini. Oh sungguh nikmatnya, duduk dibawah pohon rindang untuk menghindari pancaran sinar mentari, dengan menikmati alunan melodi kendaraan bermotor kesana kesini, dan udara yang begitu sejuk tanpa terhingga jumlahnya. Ditemani secangkir minuman hitam pekat, pahit, untuk menyeimbangkan rasa manis hari ini. Sungguh ku bersyukur padamu Tuhan!
Sayang, semua kenikmatan ini tidak berlaku bagi dia yang berpakaian rompi hijau itu. Hari libur, jangankan hari libur, waktu senggang pun mungkin jarang mereka dapatkan. Memang dalam bekerja pasti ada penggantinya, ada shift yang menggantikan. Tetapi dibalik semua itu, mereka harus siap jika dipanggil untuk membersihkan jalanan dari debu debu dedaunan. Entah berapa yang didapatkan sehari atau sebulan, tetapi wajah mereka tampak menunjukkan "keterpaksaan" dalam menjalani pekerjaan yang mulia itu. Mulia, ya sangat mulia, Percayalah wahai kau yang disana, apa yang telah kamu lakukan, membersihkan jalan, lebih baik daripada membuat jalanan berdebu dan kotor. meskipun pada akhirnya kau pun tau, besok, lusa, dan seterusnya, kamu akan tetap membersihkan jalan itu.
jreng! jreng! jreng! jreng!
itulah bunyi yang dihasilkan dari balik rompi hijau. kumemandang jauh kesana kemudian kutemukan seseorang yang sedang memainkan gitar kecilnya. Dia memainkan alat musik itu dengan diiringi suaranya yang khas seperti sedang melakukan konser perdananya. Keras, berirama, dan tanpa rasa malu dia menghibur orang-orang yang menyukai musiknya dan yang mendengarkan musik itu. Dengan mengharap imbalan yang pantas untuknya, dia rela bermain musik sambil duduk ditepian kendaraan umum. Naik, turun, naik lagi, dan turun lagi begitu seterusnya sampai banyak kendaraan umum yang sudah terjamah olehnya.
Pemain musik ini tidak mendapatkan penghasilan yang tetap seperti rompi hijau tadi. Tidak pasti berapa yang didapat sebulannya, mungkin seharian pun dia bisa bisa tidak mendapatkan apa apa. Meskipun begitu keadaannya, pemain musik ini tetap bernyanyi dan menghibur yang mendengarnya dengan senyum ramah terpentang dari wajahnya. Bernyanyi dan bermain musik itulah yang bisa dia lakukan hari ini. Itulah sumber penyambung hidupnya dari waktu ke waktu.
Dua kegiatan tadi adalah sebagian dari banyaknya kegiatan yang manusia lakukan di satu tempat yang bernama alun-alun ini. Tempat dimana semua kalangan dan golongan saling berinteraksi, saling bersosial, dan saling mencari kenikmatan hidup untuk menghilangkan kepenatan kesehariannya. Tempat yang begitu luas, begitu lebar yang mampu menampung banyak orang. Ceritamu ini tidak akan mungkin sampai disini saja, wahai alun-alun bandung!
