Masalah, Masa lah, Masal ah, Mas a lah, Ma salah

source: www.instagram.com/teyetriyanti

Pernahkah kamu mengalami sebuah masalah yang begitu rumit, membuat kamu tidak bisa tidur berhari-hari, atau membuatmu mengunci dirimu dalam kamarmu berminggu-minggu?

Setiap masalah atau persoalan yang datang kepada hidupmu seperti sebuah pedang yang memiliki dua sisi. Sisi pertama akan membunuhmu, dan sebaliknya dengan sisi yang kedua. Yang jadi persoalannya, bukan seberapa besar masalah datang kepadamu, tapi seberapa besar kemampuan kita untuk menerima masalah tersebut.

Kenapa bukan seberapa besar masalahnya yang jadi persoalan?

Karena definisi “besar” ini sangat relatif. Banyak faktor yang menentukannya. Mulai dari bagaimana ia di didik, dimana ia tumbuh, seperti apa lingkungan dan teman-temannya, buku apa yang ia baca, tontonan apa yang ia sering lihat, apa yang sering ia dengarkan sampai kejadian apa yang telah terjadi di sepanjang perjalanan hidupnya. Bagi orang yang terbiasa makan di restoran mewah selama ia tumbuh dan di besarkan, akan jadi masalah besar jika ia harus makan di warteg pinggir jalan. Pun jika orang yang biasa makan di rumah dengan sederhana atau makan di warteg di pinggir jalan dengan memakai tangan tanpa pakai sendok, duduk bersila, mungkin akan jadi masalah besar jika ia makan di restoran berbintang dengan segala peraturan table manner yang ada, di siapkan banyak sekali sendok dan garpu, di suguhi appetizer, main course dan dessert. Meskipun ada kalangan yang memang bisa berada dalam kedua situasi tersebut.

Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya.

Apa pun masalah yang datang kepadamu, bisa jadi itu bisa melemahkanmu, bisa jadi juga ia akan membuatmu tumbuh menjadi lebih kuat dari sebelumnya. 
“Then, surely with hardship comes ease.”
“Surely, with hardship comes ease,”
(Q.S Al Insyirah 5–6)
Yang perlu kamu lakukan pertama kali dalam menghadapi masalah ialah menerima. Ini awalan justru yang paling berat. Kenapa? Karena secara otomatis manusia akan membela dirinya sendiri. Entah kepada masalah, kepada Tuhan nya atau kepada orang lain. Itu sudah sifat alamiah manusia. Akan sulit menghadapi masalah jika kita tidak berusaha untuk menerima terlebih dahulu. Yang kedua, berpikirlah secara positif terlebih dahulu. Apa pun yang kamu lihat, apa pun yang kamu rasakan cobalah berfikir positifnya. Tentu saja ini juga berat. Tapi semua ini memang pilihan. Dan semua pilihan itu ada di dalam dirimu sendiri. 
Misal, jika kamu kehilangan seluruh harta keluargamu. Iya, ini sungguh berat. Kamu mungkin akan berfikir,”Aduh bagaimana kuliahku?”, “Besok aku makan apa?” dan lain sebagainya.
Cobalah berfikir yang lebih positif, Bisa jadi segala hal yang hilang itu justru akan meringankan hisab mu kelak di akhirat, sehingga kelak kamu tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas hartamu
Dan yang Ketiga, ialah berusaha menyusun rencana kedepan kembali. Ini tidak mudah, iya tau kok. Tapi percayalah bahwa, takdir yang sudah terjadi tidak akan mungkin kembali terulang lagi. Tidak usah menyesali, segera lakukan rencana selanjutnya. Jangan sampai masalah mengalahkanmu, membunuh masa depanmu. Kamu di takdirkan untuk mendapatkan masalah tersebut, jadi Tuhan sudah tahu, bahwa kamu kuat dan kamu bisa melewatinya. Kemampuan menganalisa segala masalah dengan segala beban dan kesedihan menjadi sebuah pemikiran positif adalah sebuah pilihan. Maka, dekatkan dirimu bersama orang-orang yang positif juga. Lingkungan dimana kamu tumbuh sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan keputusanmu.

Jangan menghindari masalah.

Masalah tidak akan selesai dengan cara dihindari. Kamu hanya akan jadi pengecut yang tidak akan berkembang sama sekali. Mungkin kamu selamat, tapi pikiran, pola pikirmu dan karaktermu tidak akan selamat. Kamu tidak akan pernah baik-baik saja. 
Kata Tere Liye begini,
”Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.” 
Hadapilah masalah yang datang padamu, karena justru ia yang akan membuatmu kuat. Lari bukanlah sebuah keputusan bijak. Mungkin kamu justru akan menyesalinya jika kamu lari dari masalah. Kenapa? Karena mungkin masalah itu tidak akan pernah menghampirimu lagi, dan kamu melewatkan satu ujian yang memberimu banyak sekali pembelajaran.

Masalah, Masa Lah, Masal Ah, Mas A Lah, Ma Salah.

Tujuh huruf yang berbeda makna, tergantung bagaimana kita menempatkan spasinya. Begitu pula setiap masalah yang datang padamu, ia akan menjadi berbeda makna dan pembelajaran yang di dapat akan berbeda, tergantung bagaimana kamu menyikapinya. Seberapa pun berat masalahmu, seberapa pun sakit rasanya, jangan pernah menyerah kepada keadaan. Kamu tidak sedang sendirian. Kamu bersama milyaran orang yang mengalami kesedihan yang sama, kesakitan yang sama, dan kesunyian yang sama. Jadikan segala masalahmu sebagai pelajaran yang mampu menghebatkanmu dan orang lain. Karena masalah, mempunyai dua sisi, kamu tidak sedang bertaruh seperti melempar dadu yang punya enam sisi. Hanya ada dua, hidup atau mati. Dan kamu sendirilah yang menentukannya.

Selamat belajar bersama masalah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tri Yanti’s story.