arti lamunan bagi saya

Melamun, sesuatu yang ‘berkesan’ buang-buang waktu. Tapi, ada hal yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Sebenarnya, ketika menjadi pelamun kita jauh lebih bisa menghargai hidup, dan yang memberikan kehidupan itu sendiri.

Berdasarkan KBBI, lamun atau melamun adalah termenung sambil pikiran melayang ke mana-mana ; dan itu bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi, yang kita lakukan dalam rangka berkontemplasi, bermenung atau introspeksi diri.

lebih dari itu (sesungguhnya) dalam diam kita (akan) bisa menyimak alam sekitar dan orang-orang lewat. Maksudnya, manusia-manusia yang kita amati di bandara, kafe, warung kopi, mal dan lain sebagainya.

Buat apa kok anda kurang kerjaan, Non?

Kabar gembiranya terutama bagi saya, ini bukan dialami oleh saya saja.Tapi juga seorang penulis kenamaan Bernard Batubara. Berikut ini link-nya (silahkan meluncur, bila ada ingin yang membaca).

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan pemuda asal Pontianak itu. Berangkat dari tulisannya asal muasal artikel ini bermuara.

******

Menurut artikel yang saya baca beberapa tahun silam, tempat yang paling asik buat melamun yakni ; pantai, bandara atau sedang dalam suatu antrian dan tempat-tempat umum lainnya.

Bagi saya, pantai meninggalkan kesan tersendiri. Sejauh mata memandang kita disuguhi pemandangan oleh sang pemberi kehidupan yang kadang suka kita tak sadari ‘kemagisannya’.

Perpaduan biru laut dan cakrawala yang membentang luas. Kita diajak untuk mendengar suara angin, pergerakan ombak dan kehidupan biota laut. Bukan kah itu sangat menyenangkan?

Dengan cara apa kita ‘mendengar’ mereka, ya tentu dengan melamun. Sekali lagi, menjadi pelamun tidaklah dosa.

Bandara pun juga begitu.

Bayangkanlah, segala macam karakter dan perilaku manusia menjadi satu di sebuah ruangan. Di sana ada siapa pun yang berangkat dari suatu daerah ke daerah lain, begitu juga sebaliknya. Sesungguhnya disadari atau tidak, kita menjadi lebih menghargai keberagaman lewat ‘mengamati’ siapa pun yang lewat atau aktivitas apa pun yang mereka lakukan.

Tahu nggak sih, Gabo membuat salah satu cerpen ketika dirinya sedang berada di ruang tunggu sebelum berangkat ke suatu tempat. Selain memang untuk mengamati “tingkah laku” manusia, bandara dapat menjadi ajang menggali inspirasi, terutama untuk menulis.

Bila saya sedang dalam keadaan mengantri, saya mencoba menghilangkan kebosanan dengan ‘mengamati pekerjaan’ orang lain di suatu tempat di mana saya secara nggak sengaja menyimak mereka.

Sesungguhnya, lamunan bila ditujukan untuk sesuatu yang bermanfaat, tidak buruk-buruk amat. Nggak percaya? Anda bisa tengok blog-nya Bara karena di sana tulisannya sangat puitis dan mengena tentang lamunan.

Sekedar tambahan, lamunan bisa membuat kita jauh lebih bersyukur kepada sang Maha Pencipta. Itu artinya kita sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Jadi, buat kita terlalu serius bahkan berlebihan untuk berlomba-lomba dalam menggapai harta dan tahta?

Berjuang boleh dan sah-sah saja, tapi kalau sudah saling menyudutkan dan bahkan menjatuhkan, apakah itu bukan suatu bentuk “lupa ingatan” bahwa ada yang jauh lebih berkuasa yaitu : sang Maha Pemberi Kehidupan.

SAS.