Biologi untuk jurusan IPS
Sepuluh sampai sebelas tahun lalu aku adalah seorang siswi program IPA di sebuah sekolah negeri di ujung barat laut Pulau Jawa. Aku selalu sukses mengamankan peringkat pertama di sekolah selama tiga tahun berturut-turut. Namun, tolong jangan beri aku pertanyaan seputar biologi karena itu adalah salah satu kelemahan terbesarku.
Sebenarnya nilai biologiku selalu bisa kuamankan di atas 80, berkat kerja kerasku menghafal bab demi bab, bukan karena aku memahaminya. Aku jauh lebih menikmati matematika yang dianggap menakutkan oleh banyak orang. Maksudku, aku dapat memahami hakikat belajar matematika sejak aku SMA, bahwasanya matematika adalah alat logika dan alat hitung, bukan sekedar pelajaran berhitung. Sayangnya, hingga hari ini aku belum memahami hakikat belajar biologi, kecuali sebagai obat tidur.
Aku kuliah di program studi kimia. Ada satu ilmu hasil pernikahan biologi dan kimia bernama biokimia. Tentu saja, tak ada yang dapat kunikmati dari biokimia, kecuali sebagai dongeng pengantar tidur jika aku sedang insomnia. Biokimia selalu kuanggap sebagai biologi berwajah kimia, suatu sosok yang penuh kepalsuan.
Ah, aku sudah terlalu bertele-tele rupanya.
Begini, kapan kamu mulai memahami bab reproduksi? Percayakah kamu jika aku baru mulai memahami topik yang konon menjadi favorit murid laki-laki ini setelah aku kuliah di tingkat dua? Ya, harus kuakui bahwa kemampuan biologiku memang sepayah itu!
Suatu hari di momen yang sunyi pada medio 2010, ketika aku sedang menikmati diriku sendiri, pikiranku melayang pada pelajaran IPA di bangku SD.
“Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari di atas kepala putik,” suatu definisi yang kuhafalkan dari buku teks IPA kelas 6 SD karya Haryanto yang diterbitkan oleh Erlangga, seperti halnya aku masih ingat hafalanku yang lain, “Kapilaritas adalah peristiwa meresapnya air melalui celah-celah kecil.”
Aku masih memanggil sisa-sisa hafalanku, “Pembuahan adalah bertemunya sel kelamin jantan dan sel kelamin betina.”
Saat itu aku selalu menganggap bahwa proses pembuahan pada manusia terjadi karena sel telur dan sperma diambil dari tubuh manusia, lalu dipertemukan dalam suatu cawan petri. Setelah bereaksi dalam cawan petri, zigot (atau embrio?) disuntikkan ke dalam rahim perempuan. Nah, di situlah kupikir fungsinya dokter kandungan selain untuk memeriksakan kandungan dan membantu persalinan, yaitu sebagai tukang suntik agar terjadi kehamilan. Lalu, belakangan aku menyadari bahwa konsep yang barusan aku sebutkan tadi sesungguhnya adalah prinsip bayi tabung.
Pertanyaan lain muncul dalam benak seorang aku berusia dua puluh tahun saat itu, “Jadi, pembuahan yang normal itu seperti apa?”
Sekelebat kenangan muncul bersahut-sahutan tak lama kemudian.
“Keputihan itu bisa menular ke laki-laki,” ujar teman SMAku bernama Isti yang otaknya tokcer sekali di biologi.
“Pergaulan bebas sebangsa dengan seks bebas. Seks bebas membuat pihak perempuan hamil tanpa suami yang sah. Seks bebas adalah penyebab penyakit menulat seksual,” kali ini adalah Bu Ninin yang sedang menerangkan materi reproduksi manusia di depan kelas.
“Vagina itu berbeda dengan uretra (atau ureter?). Letaknya aja beda kok,” kali ini candaan entah siapa aku tak ingat.
Lalu aku tersadar, ada banyak sekali guyonan yang tak aku mengerti, tetapi orang-orang tertawa terbahak-bahak karena mereka menganggap guyonan itu lucu. Ketika aku tanyakan ke temanku maksud guyonan tersebut, malah akulah yang justru ditertawakan. Belakangan baru aku tahu bahwa itu adalah guyonan nakal.
“Gini deh, kamu ngga pernah lihat hewan kawin?” tanya Wita keheranan karena kuceritakan perihal aku yang telat “dewasa” itu.
“Pertama, aku takut semua binatang, kecuali yang sudah tersaji sebagai makanan. Kedua, lingkungan rumahku memang isinya rumah semua. Aku ngga pernah lihat binatang bertingkah macam-macam,” ujarku meminta pemakluman.
“Tapi kan itu common sense penanda kedewasaan,” Wita seperti menghakimiku dengan cara yang jenaka.
“Aku pertama kali haid umur 11 tahun 3 bulan lho. Aku lebih duluan dewasa dibandingkan kamu kalau kamu mau lomba siapa yang lebih dulu dewasa,” jawabku membela diri.
“Itu artinya kamu ngga paham apa yang terjadi pada tubuh kamu sendiri padahal kamu udah haid sejak umur sekecil itu,” Wita mengkritik cukup tajam.
Okay, aku kalah.
“Tapi aku memang ngga suka sih dengan jokes yang nyerempet-nyerempet ke seks. Itu kan natural aja terjadi dalam tubuh kita. Kalau hal itu ditertawakan, berarti kita menertawakan diri sendiri dong?” Wita mulai melanjutkan opininya.
Harus kutegaskan lagi mungkin. Aku adalah perempuan — kata orang aku pintar — tapi aku baru tahu di usia 20 tahun bahwa darah haid tidak keluar dari saluran yang sama untuk mengeluarkan urin padahal di usia tersebut sudah sembilan tahun aku rutin kedatangan tamu bulanan. Bahwa tempat keluarnya haid adalah jalan normal keluarnya bayi pun baru aku ketahui kemudian. Lima tahun kemudian aku baru tahu bahwa ibu hamil mengeluarkan cairan ketuban beberapa saat menjelang kelahiran.
Namun, aku tahu sejak SD lho bahwa perempuan hamil tidak haid selama kehamilannya dan bahwa perempuan mengeluarkan darah nifas selama lebih kurang empat puluh hari setelah melahirkan. Dua hal inilah yang menurutku sebagai common sense.
Aku kemudian berpikir, “Aku yang anak IPA aja telat ngerti perihal bab reproduksi ini, gimana anak IPS ya? Mereka baru paham umur berapa ya? Lebih cepat atau lebih telat dibandingkan aku ya?”
Dan aku yakin jawabannya adalah yang kedua walaupun program IPS tidak belajar biologi.