Ribut-ribut Kartini
Hari ini SD dekat tempat tinggal saya sedang merayakan Hari Kartini. Para siswi berkebaya dan para siswa berbaju pendekar silat. Saya pun kembali teringat tentang kontroversi “kenapa harus Kartini, bukan Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika atau lainnya”.
Saya pikir jawabannya sederhana. Bukan bermaksud menafikkan jasa-jasa perempuan tangguh pengusir penjajah, melainkan Kartini memang spesial karena dia mengkomunikasikan kegelisahannya lewat tulisan. Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Malahayati, Rohana Kudus hidup dalam kekuasaan kerajaan Islam yang cenderung tidak membeda-bedakan perlakuan laki-laki dan perempuan. Mereka tentu saja berjuang, tapi mereka tidak menulis (cmiiw). Sebaliknya, Kartini hidup dalam cengkraman feodalisme Jawa. Paham kan bagaimana kehidupan feodal? Rakyat jelata harus mengesot di depan ningrat; pendidikan bumiputra hanya boleh diakses oleh laki-laki borjuis; raja-raja banyak menikahi perempuan proletar umur 14 tahun hanya untuk dicampakkan begitu saja setelah dihamili, apalagi kalau ternyata perempuan tersebut melahirkan bayi perempuan; petani dan buruh miskin diperas keringatnya untuk membiayai kehidupan keluarga kerajaan yang bermegah-megahan; jahiliyah banget deh pokoknya. Baca deh buku-buku sejarah kalau ngga percaya.
Keberanian Kartini untuk berkorespondensi dengan sahabat-sahabat intelektualnya di negeri Belanda sana tentu menjadi sebuah langkah besar yang harus diapresiasi. Bahkan, isu yang menjadi concern Kartini pun masih relevan hingga saat ini. Masih banyak lho budaya mengesampingkan pendidikan anak perempuan di Indonesia.
Intinya, saya menghargai semua jasa pahlawan perempuan tersebut dengan porsi yang sama, baik perjuangan fisik, harta, tulisan, keluarga. Hanya saja, negeri ini butuh sebuah hari untuk memperingati isu-isu perempuan Indonesia (berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kekerasan, tenaga kerja, dll) dan Kartini adalah orang yang berjuang pada jalur tersebut melalui tulisan.