Wajah Penipu
Hari ini usiaku 25 tahun 7 bulan. Artinya, 4 bulan lagi aku akan meninggalkan angka sakti yang mereka sebut sebagai quarter life.
Aku adalah seorang pengangguran, seorang alumni magister kimia, penghuni salah satu kota pelajar di bagian barat negeriku, dan seorang pemimpi besar. Aku masih sering bolak-balik ke kampus 5–6 hari dalam sepekan tanpa kejelasan status. Ketika teman-teman mahasiswa yang lain ingin segera meninggalkan kampus yang telah berdiri sejak zaman pendudukan Belanda ini, aku malah justru tetap beraktivitas di lab dengan ritme kerja yang sama seperti selama satu setengah tahun aku berjibaku dengan tesisku.
Selera fashionku sungguh payah. Aku masih memakai kerudung anak-anak sekolah produksi Robbani hampir setiap hari. Jika stok kerudung instan Robbani sedang habis di lemari dan berpindah ke tumpukan cucian kotor, aku beralih ke kerudung segi empat murah milik sejuta umat. Jangan salah, aku pun punya lho pashmina mahal berjumlah enam helai. Awalnya kubeli pashmina bagus itu untuk melindungiku leher dan dadaku dari dinginnya kotaku di bulan Desember sampai Maret. Namun, pada akhirnya aku memilih kepraktisan di atas segala-galanya: kembali lagi ke kerudung instan dengan jaket.
Itu baru soal kerudung. Soal pakaian, aku punya puluhan rok atau atasan dengan model yang itu-itu saja. Banyak di antara pakaianku benar-benar sama dilihat dari segi apapun. Aku pernah diprotes ibuku karena beliau mengira aku tidak ganti pakaian berhari-hari sampai akhirnya ibuku menyadari bahwa aku memiliki banyak pakaian yang identik sama. Belakangan kutahu Mark Zuckerberg juga memiliki sederet kaos dan jeans berwarna sama untuk menghemat alokasi waktu dalam memilih pakaian. Okay, setidaknya aku sudah punya modal menjadi orang besar seperti Mark dan aku bangga.
Tasku adalah backpack berukuran sedang berwarna biru merek kebanggan Indonesia, Eiger. Teman-temanku selalu menganggap tas punggungku adalah tas anak SMP, tetapi aku selalu berkilah, “Ini backpack untuk perempuan, bukan anak SMP.” Lalu, teman-temanku selalu saja mengomentariku, “Iya, perempuan yang duduk di bangku SMP.” Biasanya aku diam untuk mengakhiri pembicaraan menyebalkan ini.
Sepatu? Aku belum pernah memakai wedges dan heels seumur hidupku. Ketika momen wisuda pun aku masih memakai sepatu flat. Sekali lagi, kepraktisan dan kenyamanan adalah dewa.
Mungkin itulah mengapa aku sering dikira mahasiswa TPB yang berumur tujuh tahun lebih muda dari usiaku sebenarnya. Tak jarang aku pun dikira masih SMA. Padahal aku merasa justru wajahku ini sungguh boros karena sudah tampak tanda-tanda penuaan dini di usia 20-an.
“Kuliah, Dek?
“Iya, Bu/Pak,” aku selalu refleks menjawab bahwa aku masih kuliah.
“Semester berapa?
Selalu kujawab dengan jumlah semester yang aku tempuh sejak mulai S-2. Saat ini kujawab, “Semester enam.”
“Wah, sudah akan tingkat akhir ya? Saya kira masih tingkat pertama.”
“Iya..hehe..” lalu, barulah aku tersadar bahwa aku sudah tidak kuliah lagi, aku sudah lulus S-2, dan aku sudah tujuh tahun lebih tua dari perkiraan mereka.
Ah, wajahku sungguh menipu.