Lorong yang berujung ?

Aku berjalan sangat jauh disini. Memandang sekitar hanya tembok yang sangat berdekatan yang menghimpitku yang dapat kulihat. Aku ragu dan bimbang sebenarnya karena sampai sejauh ini aku hanya melihat kegelapan diujung sana. Dan akupun enggan untuk kembali karena dibalik punggung ini pun sudah menjadi terlalu gelap.

Aku hanya bisa berjalan dan terus maju ke depan. Berjalan seperti ini tidak pernah menyenangkan. Seakan aku tidak tau apa yang menungguku di depan sana. Bisa saja tiba-tiba aku terjatuh sangat dalam dan masuk ke lubang terlupakan. Atau aku bertahan berjalan terus namun ternyata ujung semua perjalanan ini tidak pernah ada dan memang hanya kegelapan yang tersisa.

Aku ingin menghindar. Aku ingin berlari. Keluar dari lorong yang sangat panjang ini. Namun akupun sudah lupa bagaimana dunia luar sana. Aku terbiasa dengan jalan sempit ini. Bahkan aku menyamankan diri dengan semua keadaan ini. Aku takut kalau aku pun bisa meninggalkan ini semua aku bakal merindukan keadaan ini. Karena jika aku memutuskan untuk pergi , maka tidak akan ada jalan untuk kembali. Apa sih yang menyenangkan dari merindu yang tidak tersampaikan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.