Emosi, Bunyi dan Kehidupan

-Taufiq A Prayogo

Bahasa apa yang akan digunakan manusia, jika semenjak dilahirkan ia tak diajarkan dan diperdengarkan bahasa apa pun? Apakah si manusia akan menggunakan bahasa Ibrani, Suryani, Urdu, Arab dan lain-lain, yang notabene Tuhan gunakan ketika mengucap titahnya kepada sang Nabi? Apakah ada bahasa “Tuhan”? Apakah Sang Tuhan akan mengintervensi manusia soal bahasa?

Pada abad ke 16, Raja Henry, sang penguasa Sisilia dibuat penasaran oleh pertanyaan itu. Akhirnya, ia mengeluarkan perintah kepada para ilmuan untuk meneliti perkara tersebut. Beberapa ilmuan utusan sang raja mengambil belasan bayi yang baru lahir untuk diteliti. Bayi-bayi tersebut dibawa ke laboratorium kedap suara; tak boleh diajak bicara, dan tak boleh juga diperdengarkan bahasa. Ibu si bayi hanya diperkenankan merawat: memberi makan, memandikan, dan menggantikan baju. Di ruangan itu, suara adalah sesuatu yang haram dilahirkan.

Setelah beberapa tahun, apa yang terjadi? Semua bayi-bayi itu mati, tanpa sisa. Apa alasannya? Padahal si bayi tidak kekurangan makanan, tidak kekurangan nutrisi, mereka pun tinggal di lingkungan yang sehat dan tidak kumuh. Para ilmuan menjelaslan bahwa bunyi adalah faktor vital pada manusia, khususnya pada saat mereka masih bayi. Proses belajar mendengar bunyi pada bayi sangat penting dan tak bisa dipandang remeh, pasalnya, hal tersebut sangat memengaruhi tumbuh kembang, baik itu perkembangan embriologi, anatomi tubuh, neurologi dan tentu saja audiologi.

Pada bayi yang mengalami gangguan pendengaran, biasanya mereka mengalami pula keterbelakangan mental, gangguan emosional dan gangguan wicara. Kemahiran manusia dalam berbahasa dan berbicara tak akan bisa didapat bila input sensorik audiotorik dan motorik pada otak tidak dalam keadaan normal.

Namun, apakah mungkin tidak diperdengarkannya suara dan bahasa menjadi sebab belasan bayi menjadi tuli dan mati? Secara teori, hal tersebut tak mungkin terjadi. Sebab kedokteran modern1 telah mengklasifikasikan penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada bayi dan anak. Antara lain, gangguan pada masa kehamilan dan kekurangan zat gizi atau infeksi bakteri dan virus seperti rubella, herpes dan sifilis. Bisa juga karena bayi lahir dengan berat badan yang rendah atau lahir dengan kondisi bayi tidak menangis (asfiksia)

Dugaan Lain

Dalam Homo-Deus2, Harari menjelaskan bahwa baru di tahun 1950 dan 1960-an, konsensus ahli baru mengetahui tentang pentingnya kebutuhan emosional. Jauh sebelum itu, di tahun 1920, John Watson, suatu otoritas perawatan anak popular masih beranggapan bahwa tangisan anak tak akan membuat mereka terluka. Menurutnya, justru menggendong anak yang sedang menangis hanya akan membuat mereka lemah dan manja.

Untuk membantah teori tersebut, seorang pakar dalam bidang psikolog, Harry Harlow, memisahkan beberapa induk kera dengan anaknya. Si anak kera malang tersebut dibawa ke sebuah ruang isolasi untuk memilih induk baru untuknya. Bukan dari jenis spesies yang sama, calon induk anak kera tersebut terbuat dari logam dengan dilengkapi dot berisi susu yang gurih dan calon induk yang lain berupa boneka kera terbuat dari bulu nan lembut. Tak butuh waktu lama bagi si kera untuk menentukan mana calon induk baru untuknya. Hampir semua dari monyet tersebut memilih boneka dengan bulu yang lembut walau tanpa susu. Harry Harlow berhasil membuktikan bahwa, makhluk bernyawa tak bisa hidup hanya dengan makanan, mereka butuh ikatan emosional.

Tragisnya, si kera mengalami stres luar biasa dikarenakan sang induk tiruan berbulu mereka tak merespon segala gerak dan teriakan. Tak lama kemudian, mereka mati semua.

— — — — — — — — — — — — — — -

1.Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Fakultas Kedokteran UI, 2007

2.Homo Deus, a Brief History of Tomorrow, 2015.

Like what you read? Give Taufiq Agung Frayogho a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.