K O P I

t !!
t !!
Aug 8, 2017 · 5 min read

Menyoal kopi memang nggak ada habisnya sekarang, teman-teman sebaya saya menggilai kopi bahkan hampir seperti menggilai klub sepakbola dari luar negeri. Fanatik sekali. Banyak diantaranya yang menyukai kopi Italia dengan expresso dan latte-nya, ada yang menyuka kopi seduhan manual kopi arabika tanpa gula yang rasanya cenderung asam dan memiliki aroma yang beragam.

Perkembangan kopi pada saat ini sangat maju sekali, harus diakui masa Third Wave Coffe di Indonesia sekarang mulai menjadi umum. Di Jogja saja sampai ada idiom bahwa setiap bulannya ada sekitar 10 kedai kopi baru tapi ada 7 kedai juga yang pailit. Sampai pada saat tulisan ini disunting, Jogja sedang mengalami bubble kedai kopi. Saya selalu melihat fenomena bertumbuhnya kedai kopi dengan pandangan yang baik. Senang banyak teman-teman saya suka kopi, apalagi jika teman saya tahu dan menyuka jenis kopi manual brewing. Setipe sama saya. Ha ha

Masa-masa dimana lidah kita terbiasa dengan kopi hitam pahit dan ditambah gula adalah masa dimana perkembangan kopi Indonesia masih dalam pengaruh kolonialisme Belanda. Jika saya boleh menyebutnya demikian. Belanda memulai melakukan perdagangan dan tanam paksa kopi dikebanyakan pulau Sumatera, Sulawesi, Papua dan NTT. Komoditas kopi diperdagangkan dengan melakukan tanam kopi robusta dan diekspor dalam jumlah besar ke Belanda dan wilayah Eropa lainnya. Selanjutnya banyak tuan tanah berdarah Indo yang menekuni bisnis ini. Masih bisa dijumpai di Aceh, pemilik perkebunan kopi dan pengekspor utama kopi ke Belanda yang beberapa waktu lalu melakukan klaim merk dagang “Gayo” untuk memonopoli penawaran kopi di Belanda. Banyak deh cerita pahitnya, sesuai juga dengan rasanya.

Ya, masa dimana kopi diproduksi masal didistribusikan dalam bentuk bubuk dan kualitasnya sulit dikembangkan. Sedikit tentang kopi, biji kopi yang baru digiling memiliki rasa yang lebih enak, lebih segar. Masa ini adalah masa dimana kopi pabrikan yang dinikmati dengan standar rasa yang ditentukan pabrik dan sebagai konsumen diuntungkan bisa mengaksesnya dengan harga yang lebih terjangkau. Tidak jarang, kopi dicampur juga dengan jagung, tapioka dan bahan lain untuk menambah kekhasan rasa dari pabrikan. Jadi jika boleh saya katakan, kopi di Indonesia (dulu), peminum kopi yang umum belum diberitahu rasa kopi itu sendiri gimana.

Kita yang biasa ngopi bersama Bapak sambil merokok di teras rumah pasti ingat rasa kopi pahit ini, sambil memahami dunia yang sama pahitnya, walau juga sudah diberi gula.

Tapi, sejenak ayo dipikirkan lebih. Ada hal-hal yang bisa lebih dimaksimalkan dalam rantai panjang kopi di Indonesia. Bermula dari tanaman kopi, hingga kopi yang sudah siap diminum digelas. Pengalaman saya dengan kopi menuntun saya untuk sedikit tahu dengan mendengar teman-teman saya yang bercerita soal kopi disela-sela obrolan sore panjang antara gelas-gelas kopi di Jogja.

Lazim kita tahu, jika kopi diproduksi masal dengan bentuk bubuk, tinggal seduh air panas, sudah ada takar dan racikannya, jadi ngapain repot-repot beli kopi biji? beli alat giling dan alat seduh yang tidak terjangkau, lebih lagi, repot sekali kalo hanya sekedar minum kopi? Terbawa tren anak muda nih! atau sebagaimana tren yang lainnya, kadang mencapai titik jenuh yang trennya akan turun juga. Jadi udah deh, itu mungkin cuma angin-anginan kaya fidget spinner. Itu adalah resume komentar teman-teman yang saya buatkan kopi ketika ada waktu lengang dan mampir ke kosan.

Tanaman kopi bermula dari petani yang melakukan proses tanam, petik dan jemur. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi rasa kopi dari tangan petani ini, utamanya adalah kandungan tanah, jenis kopi arabika merupakan jenis kopi yang lebih sensitif dari jenis kopi lain dan sangat mudah terpengaruh oleh hal ini. Karena kopi adalah tanaman yang mudah menyerap rasa. Dan blaa blaa blaa… Singkatnya, rasa kopi dimulai dari petani dan bisa jadi tidak konsisten. Terlebih, jenis tanah tiap pulau di Indonesia bisa jadi sangat beragam, jadi memungkinkan untuk Indonesia memiliki banyak rasa dan jenis kopi dan semoga banyak menjadi Specialty (Zero Defect hah!). Hebat bukan? Hanya saja, sekarang, hal ini membutuhkan peran dari konsumen untuk makin mengembangkan ragam jenis kopi.

Untuk selanjutnya adalah peran tukang seduh dan roaster, banyaknya jenis kopi ini bisa jadi membingungkan dan memiliki banyak cara yang berbeda untuk membuat biji kopi memiliki rasa yang terbaik. Tukang seduh bisa jadi lebih pusing lagi untuk memikirkan cara seduh dengan kombinasi banyak jenis sajian kopi, misalnya saja ragam sajian latte asal Italia, atau Vietnam, atau sajian asal kopi lokal Indonesia, atau sajian jenis Third Wave Coffe. Baru kopi disajikan di gelas dan konsep kedai masing-masing untuk sampai ketangan kita.

Terkesan panjang, akan tetapi iya, bagi saya, ketika menikmati kopi, bukan hanya soal rasa yang sampai pada lidah, tapi juga kesungguhan ceritera kopi dan pastinya imajinasi soal rasa yang muncul dari kopinya. Perjalanan cerita biji kopi ini dari asal sampai ke gelas yang saya minum, dan peran saya dalam menikmati biji kopi untuk juga dengan harap akan berkembangnya ragam jenis kopi di Indonesia. Yang membuat saya selalu penasaran dengan rasa kopi.

Di Jogja, tempat saya membeli biji kopi, banyak kedai kopi membeli langsung biji kopi ke petani. Banyak juga dari mereka memberikan edukasi ke petani kopi di banyak daerah di Indonesia, untuk meningkatkan kualitas rasa kopi. Misalnya saja, kopi Gayo, Geisha dan Puntang yang melegenda dan banyak daerah lain yang juga yang berhasil dikembangkan kualitas kopinya. Banyak dari mereka menyebutnya Direct Trade, yang tujuannya juga untuk memotong rantai tengkulak kopi yang memonopoli rasa. Teman-teman ini, mengeksplorasi diri mereka untuk terus mencari biji kopi, dimana mereka bisa menemukan kopi yang menurut mereka enak, kopi yang menurut mereka memiliki rasa yang khas, kopi yang pantas untuk disajikan dan dibagikan dengan peminum kopi di kedai mereka. Dan tak jarang perjalanan mereka sampai ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Hebat sekali.

Untuk perkebunan sendiri bahkan ternyata Indonesia menjadi negara yang memiliki perkebunan terluas kedua di Dunia, dan terluas pertama di Asia Tenggara. Tapi belakangan, produktifitas ekspornya masih kalah dibanding negara tetangga di Asia Tenggara. Artinya secara kasar, bisa dikatakan jika perjalanan kopi di Indonesia selama ini tidak begitu mulus, dan perkembangannya cukup terhambat. Faktor utamanya mungkin kalah saing dengan kualitas kopi di perkebunan negara lain, dan mungkin juga di Indonesia, penyuka kopi terlalu jarang mengeksplorasi rasa kopi dan tidak cukup bisa memiliki keleluasaan bereksperimen untuk menemukan rasa kopi yang khas. Sehingga, tidak memiliki daya saing.

Saya percaya jika semua kopi itu enak, tapi kopi yang enak selalu berangkat dari kesungguhan.

Jadi kopi akan terus berkembang jika komunikasinya juga terbangun dengan baik. Dari segala arah, teman saya di salah satu kedai kopi di Pasar Kranggan Jogja bilang “Kopi itu media yang bagus mas buat belajar, belajar apa saja. Sebagaimana belajar, tentu nggak satu arah kan?” Sebagai penikmat kopi, jangan sungkan untuk bilang ke tukang seduh, roaster, atau bahkan petani untuk berbagi tentang pengalaman rasanya. Karena dari ngobrol itulah, pengetahuan tentang kopi akan mengalir. Terus dan terus, hingga kopi akan terus memperbaharui diri menjadi lebih enak.

Dengan begitu, semua tentang kopi bisa menjadi akan lebih menarik. Iya lewat obrolan. Saya sekarang juga sedang mencari rasa kopi yang belum pernah saya minum. Mencoba sejauh apa saya bisa menemukan banyak rasa dalam kopi. Jadi, kapan kita ngobrol? ..

Meja brewing rangkap dapur rangkap meja belajar.
t !!

Written by

uwuwuw mu

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade