Thesa Nurmanarina
Jul 28, 2017 · 1 min read

Aku ingin mati sekali lagi.

Setelah jutaan hari, saya tau saya bertahan. Seribu kemudian, saya tau saya mampu. Tapi kelak ada yang meragukanmu. Gilanya, malah mendukungmu untuk ragu. Dan, itu hari ini.
Aku ingin mati sekali lagi.
Dengan, hakikat ini, saya cukup menerima. Peranan saya habis ludes dihangus rasa kecewa. Hati saya sedang cacat lalu ditambah pula menjadi lumpuh, sekarang? Jangan harap, disuntik mati!
Hari ini, kekacauan besar terjadi. Dia pikir saya bercanda. Padahal akibatnya, cengkraman pisau sudah ada tiap nadi saya, siap digesekan sewaktu ia bangun. Memang mesti se-drama itu. Memang seharusnya aku mati menatap bengis binatang-binatang yang hanya haus akan instingnya. Dan satu binatang istimewa yang mencambukiku sampai mendidih. Butuh katanya.
Sambil menyeret kaki, aku hanya bisa tertawa miris bercampur sumpah-serapah. sampah. Anjing juga! Beliau-beliau itu berjudi tentang hikmatnya seorang menyesapi kepingan dirinya, dan ditukar mesra dengan desakan.
Lalu, aku, memang, mati, sekali, lagi. Bangkai bau busuk. Mereka mati, sewajarnya, mereka mati abadi membusuk dalam titik paling sentimen di pojok rasa.
Apa boleh buat.
Aku, memang, mati, sekali, lagi. Sampah!
Biarlah ini akan jadi hukuman atas surga yang sudah saya minta sebelum waktunya. Tapi, barangkali, masih adakah untuk saya celah-celah untuk menerima angan yang mungkin tidak seberapa itu?

    Thesa Nurmanarina

    Written by

    unlimited