Jika kamu belum membaca artikel sebelumnya, kamu bisa membacanya:

Design Jogging bukanlah sebuah parodi atau lelucon atas Design Sprint, melainkan untuk mengajak pembaca melihat dengan sudut pandang berbeda dari metode Design Sprint.

Jika sprint adalah lari cepat dengan jarak pendek dan batasan waktu — Konteksnya dalam design sprint adalah sebuah cara dalam berinovasi, menentukan strategi, mencari solusi bagi bisnis, membuat prototype dan mengujinya dalam waktu singkat. Satu minggu saja.

Sedangkan jogging mencerminkan sebuah latihan, rutinitas, keseharian (dengan penekanan/ekspetasi lebih rendah dari Design Sprint)…


Siap untuk design jogging di hari Kamis? Sebuah tujuan, batasan waktu dan fokus pada pengguna.

Sumber gambar

Jika kamu belum membaca artikel sebelumnya, kamu bisa membacanya:

Design Jogging bukanlah sebuah parodi atau lelucon atas Design Sprint, melainkan untuk mengajak pembaca melihat dengan sudut pandang berbeda dari metode Design Sprint.

Jika sprint adalah lari cepat dengan jarak pendek dan batasan waktu — Konteksnya dalam design sprint adalah sebuah cara dalam berinovasi, menentukan strategi, mencari solusi bagi bisnis, membuat prototype dan mengujinya dalam waktu singkat. Satu minggu saja.

Sedangkan jogging mencerminkan sebuah latihan, rutinitas, keseharian (dengan penekanan/ekspetasi lebih rendah dari Design Sprint) untuk mempraktekkan nilai-nilai…


Sumber gambar

Jika kamu belum membaca artikel sebelumnya, kamu bisa membacanya:

Design Jogging bukanlah sebuah parodi atau lelucon atas Design Sprint, melainkan untuk mengajak pembaca melihat dengan sudut pandang berbeda dari metode Design Sprint.

Jika sprint adalah lari cepat dengan jarak pendek dan batasan waktu — Konteksnya dalam design sprint adalah sebuah cara dalam berinovasi, menentukan strategi, mencari solusi bagi bisnis, membuat prototype dan mengujinya dalam waktu singkat. Satu minggu saja.

Sedangkan jogging mencerminkan sebuah latihan, rutinitas, keseharian (dengan penekanan/ekspetasi lebih rendah dari Design Sprint) untuk mempraktekkan nilai-nilai dari Design Sprint dalam proses…


Meetup Insight — Maret 2019

Akhirnya acara meetup (temu dan diskusi) Insight yang pertama di tahun 2019 dapat terlaksana juga. Ini semua berkat bantuan dan semangat beberapa teman yang sudah tergabung sejak meetup yang pertama di tahun 2017.

Acara ini sebenarnya bukanlah acara resmi yang diadakan dengan secara berkala melainkan sifatnya lebih sporadis dan terbatas dalam jumlah pesertanya.

Bukan karena ekslusif. Semata tujuannya ingin bentuknya lebih akrab dan santai.

Keadaannya adalah yang mau ikut banyak tetapi saya sendiri belum menemukan pola yang tepat bagaimana mungkin bisa mengakomodasi lebih banyak orang tetapi masih dalam bentuk kelompok kecil.

Saat ini semangatnya ingin tetap sebagai kelompok kecil saja…


Sumber gambar

Jika kamu belum membaca artikel sebelumnya, kamu bisa membacanya di sini.

Design Jogging bukanlah sebuah parodi atau lelucon atas Design Sprint, melainkan untuk mengajak pembaca melihat dengan sudut pandang berbeda dari metode Design Sprint.

Jika sprint adalah lari cepat dengan jarak pendek dan batasan waktu — Konteksnya dalam design sprint adalah sebuah cara dalam berinovasi, menentukan strategi, mencari solusi bagi bisnis, membuat prototype dan mengujinya dalam waktu singkat. Satu minggu saja.

Sedangkan jogging mencerminkan sebuah latihan secara rutin (dengan penekanan/ekspetasi lebih rendah dari Design Sprint) untuk mempraktekkan nilai-nilai dari Design Sprint dalam proses dan cara berpikir kamu sehari-hari.

Hari Selasa (pada Design Sprint)

Pada Design…


Sumber gambar

Metode Design Sprint tentunya tidak asing lagi di telinga teman-teman. Jika ada yang belum mengetahui apa itu Design Sprint, kamu bisa cek di laman website resminya.

Design Sprint menjadi sebuah buzzword yang keren untuk didengar dan diperdagangkan sekalipun pada aplikasinya beberapa orang menilainya sebagai sebuah cara yang tidak pragmatis. Tidak sedikit saya mendengar cerita dari mereka yang ingin menerapkan metode ini tetapi gagal untuk mendapatkan dukungan dari internal.

Lain lubuk lain ikannya, begitulah kesimpulan saya.


Sumber gambar

Masih melanjutkan seri Menjadi Designer Produk Digital, saya berterima kasih atas tanggapan-tanggapan yang positif untuk seri tulisan saya ini. Saya menjadi semangat untuk membagikan apa yang menjadi isi pikiran saya.

Pada sesi tanya jawab di sebuah internal talk yang saya bawakan untuk suatu tim desain, seseorang bertanya kepada saya, “Apa sajakah Golden Rules yang bisa diterapkan saat mendesain User Interface?”


Sumber foto: Unsplash

Melanjutkan seri Menjadi Designer Produk Digital, kali ini tulisan saya terinspirasi dari ngobrol-ngobrol untuk podcastnya Dimas Wibowo–Sit, Talk, Design. Obrolan yang ngalor-ngidul dan santai tersebut membawa kembali ke sebuah pesan yang sempat saya bawakan sewaktu mengisi talk di Dribbble x Gojek Meetup, yaitu Generalis di Pemikiran, Spesialis di Pekerjaan.

Sebelum melanjutkan, saya akan memberikan konteks secara singkat apakah generalis dan spesialis.

Generalis secara singkat, seseorang yang memiliki beberapa kemampuan. Kemampuannya ini bisa berhubungan dengan kemampuan utamanya atau di luar dari itu. Misalnya, seseorang designer yang bisa membuat ilustrasi, membuat animasi, koding, mengerti ini dan itu — intinya orang ini serba bisa. …


Topik ini adalah topik yang cukup sering dibicarakan dan ditanyakan kepada saya sekalipun latar belakang saya bukan berasal dari graphic design.

Pertanyaan yang pernah saya dapatkan melalui email atau saat bertemu di meetup adalah “Mas Thomas, saya lagi mulai menekuni Product Design (Digital) nih mas, tetapi saat ini saya sedang bekerja menjadi Graphic Designer. Kira-kira bagaimana mas supaya saya nanti bisa bekerja di area Digital Product Design?”

Ada juga anak kuliahan pernah mengirimkan email dan bertanya “Mas saya kan sekarang kuliah DKV, kira-kira bisa masuk ga di bidang Digital Product Design? …


Pemuda asal Yogyakarta dengan design studionya yang siap membantu kebutuhan UI & UX design startup kamu.

Anggit Yuniar

Kita semua tahu, Yogyakarta merupakan kota yang dipenuhi dengan talent-talent di bidang seni maupun teknologi. Ada cukup banyak UI/UX Design Studio berdiri di Yogyakarta. Salah satunya adalah Omnicreativora yang berhasil saya ajak untuk berbagi ceritanya. Saya sendiri terkesan dengan sosok humble-nya Mas Anggit (pendiri dari studio Omnicreativora) dan penuh humor sewaktu saya mewawancarai beliau.

Yuk, mari kita simak saja hasil wawancara saya dengan Mas Anggit.

Hi, Mas Anggit lagi sibuk apa nih?

Sibuk membangun dan mendesain Omnicreativora saja mas.

Bagaimana Mas Anggit dapat memulai Omnicreativora?

Sebelum membangun Omnicreativora, saya banyak bekerja sebagai freelance. Lalu saya sempat bekerja di Go-Jek. …

Thomas Budiman

Designer · thebuddyman.com

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store