Pribumi yang Bukan Pribumi

Guns, Germs, & Steel. Buku yang ditulis Jared Diamond ini merupakan pemenang Pulitzer Award tahun 1998 kategori non-fiksi. Buku ini menceritakan tentang riwayat masyarakat manusia pada masa prasejarah; bagaimana penyebaran dan perkembangan manusia saat itu, siapa saja bangsa yang lebih unggul, dan yang terpenting, mengapa sebagian bangsa unggul diatas bangsa yang lain.
Salah satu hal yang sangat menarik dari buku ini adalah penjelasannya mengenai sejarah masyarakat Indonesia yang bahkan tidak pernah dipelajari ketika sekolah dahulu sehingga mungkin mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengetahui hal ini. Bahkan, mungkin beberapa orang tidak akan memercayai akan kebenarannya. Hal yang dibahas secara rinci dalam buku ini adalah mengenai asal-usul masyarakat Indonesia.
Ketika ditanya mengenai suku dan etnis yang ada di Indonesia, mungkin kita akan bisa menjawab dengan mudah; Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Padang, Tionghoa, Papua, dll. Namun apabila dilihat secara genetis, sebenarnya hampir semua suku dan etnis itu tidak jauh berbeda, kecuali satu: Papua. Hal ini dapat kita lihat secara sekilas cukup dari fisiknya. Kemungkinan kita akan kesulitan membedakan mana orang Sunda dan mana orang Batak ketika hanya melihat dari fisiknya. Namun kita akan dengan mudah membedakan mana orang Sunda dan mana orang Papua bahkan dari kejauhan sekalipun. Apabila kita melihat negara-negara kepulauan lain, biasanya secara fisik mereka tidak akan berbeda terlalu jauh dengan negara tetangganya.
Sebagai contoh, orang Jepang masih mirip dengan orang Tiongkok, begitu pula orang Filipina masih mirip dengan orang-orang di Asia Tenggara lainnya, dan orang Inggris masih mirip dengan orang-orang Eropa Barat. Tapi, mengapa orang-orang Papua sangat berbeda dengan orang-orang di kepulauan sekitarnya?

Menurut penelitian, manusia pertama muncul di muka bumi di benua Afrika pada sekitar 7 juta tahun yang lalu. Kemudian pada 1 juta tahun lalu, manusia mulai menyebar hingga ke Timur Tengah. Melalui Timur Tengah, manusia menyebar ke seluruh dunia hingga saat ini, termasuk ke Indonesia. Manusia mulai memasuki Indonesia melalui Pulau Sumatera pada 40.000 SM dan mencapai Pulau Papua pada 33.000 SM. Manusia pun berkembang selama puluhan ribu tahun di kepulauan Indonesia.
Ada satu hal yang menarik selama puluhan ribu tahun kehidupan manusia di Indonesia. Hal itu adalah munculnya domestikasi tanaman di dataran tinggi Papua pada 7000 SM. Tanaman yang didomestikasi tersebut ialah tebu dan pisang. Domestikasi tanaman tersebut menunjukkan adanya peralihan dari masyarakat pemburu ke masyarakat bertani di Papua. Begitu masyarakat Papua beralih ke pertanian, berarti mereka unggul satu tingkat diatas masyarakat pemburu. Masyarakat yang bertani akan dapat melakukan inovasi yang tidak mungkin dilakukan para pemburu, seperti memiliki tempat tinggal tetap, membuat sistem organisasi politik, peralatan yang lebih canggih, dll karena tidak semua orang bertanggung jawab untuk mencari makanan. Orang yang bertani tentunya akan memiliki persediaan pangan yang sangat banyak, bahkan terlalu banyak jika hanya dikonsumsi keluarganya sendiri. Oleh karena itu, mereka menukarkan persediaan makanan yang mereka miliki dengan peralatan yang dibuat orang lain yang tidak bertani. Orang yang tidak bertani pun tidak bertanggung jawab untuk mencari makan sehingga memiliki waktu untuk berinovasi, contohnya berinovasi membuat peralatan yang canggih. Masyarakat berburu tidak akan dapat melakukan hal diatas karena seluruhnya bertanggung jawab untuk mencari makanannya masing-masing. Selain itu masyarakat berburu juga hanya hidup dalam keluarganya sendiri dan nomaden sehingga secara jumlah pun mereka kalah jika dibandingkan dengan petani yang hidupnya menetap. Menariknya, domestikasi pangan di Indonesia hanya terjadi di Pulau Papua, tidak terjadi di pulau lainnya. Hal ini dikarenakan faktor geografis dan ketersediaan tanaman pangan yang dimiliki Papua. Selain di Papua, domestikasi tanaman juga terjadi di Asia Barat Daya (8500 SM), Cina (7500 SM), Mesoamerika (3500 SM) dan beberapa daerah lainnya.
Kejadian penting lainnya yang terjadi di Indonesia terjadi pada 4000 SM. Saat itu, bangsa Austronesia yang berasal dari Taiwan (pulau kecil di sebelah timur Cina) berlayar ke pulau-pulau di Indonesia. Mereka pun berhadap-hadapan dengan penduduk asli Indonesia yang sejak awal ada di sana. Mereka pun dikalahkan, dihabisi, atau dikawini oleh orang-orang Austronesia hingga saat ini ras penduduk asli tersebut hampir tersisa. Namun, ada satu daerah yang tidak berhasil mereka kuasai, yaitu Papua. Penyebabnya adalah bangsa Austronesia berhadapan dengan masyarakat Papua yang sudah memiliki kemampuan militer yang seimbang karena sudah mengembangkan pertanian sejak 3000 tahun sebelumnya. Sedangkan di pulau-pulau lainnya, bangsa Austronesia mampu unggul karena mereka hanya berhadapan dengan pemburu yang tidak memiliki keunggulan sebagaimana masyarakat yang bertani.
Peristiwa ini pun menjawab pertanyaan yang diajukan di awal tadi, mengenai perbedaan antara orang-orang Papua dengan orang-orang di pulau-pulau lain yang dekat dengan Papua. Nenek moyang kedua bangsa ini sudah terpisah sejak lebih dari 40.000 tahun silam, dan evolusi selama itu cukup untuk membuat perbedaan yang sangat besar. Bangsa Austronesia saat ini adalah mayoritas masyarakat di Indonesia, yang nantinya menjadi Suku Sunda, Jawa, Batak, Padang dsb. Sementara itu masyarakat Papua tetap berada di Papua dan beberapa diantaranya menikahi bangsa Austronesia dan mendiami pulau-pulau terdekat Papua, contohnya Maluku.
Kejadian menarik pun kembali terulang pada zaman modern ini. Diskriminasi terhadap ras tertentu marak terjadi, dan mayoritasnya dilakukan oleh orang-orang yang mengaku “pribumi”. Ironisnya, orang-orang yang mengaku “pribumi” ini, sekitar 6000 tahun yang lalu mengambil alih tanah Indonesia dari orang-orang yang sesungguhnya lebih “pribumi” lagi. Lebih ironisnya lagi, orang yang lebih “pribumi” ini hidup di Papua yang infrastrukturnya sangat minim, paling rendah rasio elektrifikasinya, dan memiliki daerah 3T(Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) terbanyak di Indonesia. Kalau begitu, apakah pantas ketika orang melakukan diskriminasi hanya karena mereka lebih “pribumi” daripada yang lain? Sementara itu orang yang sesungguhnya lebih “pribumi” memiliki banyak keterbatasan dibanding orang lain?
Bhinneka Tunggal Ika, atau persatuan diatas perbedaan yang ada, mungkin awalnya terdengar sederhana dan mudah dilakukan. Tetapi realita memang kadang tak bisa diperkirakan. Bahkan, di muka bumi ini, perpecahan selalu timbul karena adanya perbedaan, entah itu ras, agama, ideologi, nasionalisme, preferensi politik, hingga ekonomi. Namun dibalik semua perbedaan yang ada, ada satu persamaan yang kita semua miliki yang mungkin bisa dijadikan alasan untuk membuat persatuan: kita sama-sama manusia.
Referensi
Diamond, Jared. 2005. Guns, Germs, & Steel : Rangkuman Riwayat Manusia. Jakarta: KPG
