#KuyNgafalQuran !

Assalamu’alaikum…

Teman-teman yang insya Allah senantiasa dalam kebahagiaan, barangkali kita sudah mengetahui, juga menjadi kewajiban meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang diturunkan Allah untuk dijadikan pedoman hidup bagi manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia. Sebanyak 6236 ayat Al-Qur’an akan selalu menjadi pedoman hidup yang wajib diyakini manusia, dan tidak akan ada penambahan atau pengurangan sedikitpun hingga hari kiamat tiba.

Allah memberikan keutamaan bagi orang-orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Contohnya, orang yang membaca Al-Qur’an akan diberi imbalan berupa 1 pahala kebaikan untuk setiap huruf yang dibacanya, dan 1 pahala tersebut akan dilipatgandakan menjadi 10 kali lipat. Tentu sebuah investasi akhirat yang besar, bukan? Selain membaca, kita juga dapat berinteraksi dengan cara menghafal Al-Qur’an. Allah memberikan keutamaan yang sangat besar bagi para penghafal Al-Qur’an. Untuk lebih lengkapnya, silakan klik di sini (website Ummi).

Semangat #KuyNgafalQuran !

Pada saat ini, kita bisa menyaksikan dengan mudah di media sosial para penghafal sekaligus qori’ muda seperti Muzammil Hasballah, Fatih Seferagic, dan Taqy Malik. Ada juga Wirda Mansur seorang hafizhah 30 juz yang merupakan putri dari Ust. Yusuf Mansur, dan yang lainnya. Kehadiran mereka cukup memotivasi para kalangan muda untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Kita juga bisa menjadikan mereka sebagai pelecut untuk mulai menghafal Al-Qur’an. Mereka saja bisa menghafal, masa sih kita enggak? Allah sendiri bilang Al-Qur’an itu mudah loh, hehe. Kalau sudah begitu, #KuyNgafalQuran !!!

Pertanyaan selanjutnya setelah punya keinginan menghafal adalah, gimana caranya? Saya sendiri pernah ditanyai beberapa teman, “Thor/Riq, ente/elu/kamu kalo ngafal gimana caranya?”. Tetapi, saya sering memberikan jawaban yang kurang memuaskan karena bingung sendiri, hehe. Di sini saya akan mencoba menjelaskan semampu saya cara menghafal yang dapat dilakukan oleh kalangan umum. Beda kalau teman-teman ikut program karantina tahfizh yang memang lebih intensif.

Menentukan Target

Sebelum mulai menghafal, terlebih dahulu kita menentukan target menghafal per satuan waktu. Misalnya, menentukan target hafal 1 halaman dalam waktu 1 minggu, atau 5 baris dalam 1 hari, atau 1 halaman dalam 1 hari, atau yang lainnya sesuai keinginan diri. Namun, dalam menentukan target ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu kemampuan diri dan kepadatan waktu.

Kemampuan diri biasanya tergantung dari pengalaman menghafal kita sebelumnya. Jika baru mulai menghafal, kita bisa memasang target yang relatif sedikit terlebih dahulu. Misal, target hafal 1 halaman dalam 1 minggu. Kalau konsisten memenuhi target tersebut, lama-kelamaan kita akan semakin terbiasa dan mampu meningkatkan target hafalan kita. Jika ingin meningkatkan target, naikkan sedikit demi sedikit levelnya sesuai dengan kemampuan. Contoh, dari target hafal 1 halaman per minggu naik menjadi 5 baris per hari, kemudian naik menjadi setengah halaman per hari, lalu naik lagi menjadi 1 halaman per hari.

Kemudian tentang kepadatan waktu yang berkaitan dengan ketersediaan waktu menghafal yang kita miliki. Kalau punya jadwal yang padat seperti kuliah dan sebagainya, lebih baik memasang target yang relatif ringan menurut kita. Kalau sedang memiliki waktu luang seperti liburan atau yang lainnya, barulah kita bisa memasang target yang lebih tinggi.

Mencari Teman

Untuk memudahkan kegiatan menghafal, meminta tolong kepada teman untuk menjadi tempat menyetor hafalan bisa menjadi opsi. Teman kita akan menjadi pengoreksi bacaan pada hafalan kita. Dengan itu, kita bisa mengetahui letak kesalahan bacaan pada hafalan kita lalu memperbaikinya. Biasanya kita tidak menyadari adanya kesalahan bacaan pada hafalan kita jika tidak meminta tolong kepada teman.

Sebenarnya kita tidak harus meminta tolong kepada teman. Bisa saja kita menyetor hafalan kepada ustadz yang kita anggap sudah bepengalaman dan mumpuni. Hal tersebut justru menjadi nilai tambah tersendiri untuk perkembangan proses menghafal kita.

Menghafal sambil muroja’ah

Sambil menghafal, kita juga melakukan muroja’ah. Namun yang kita muroja’ah adalah ayat/halaman/juz yang sedang dihafal. Ketika sedang menghafal sebaiknya berhenti dahulu untuk me-muroja’ah hafalan yang lain. Untuk penjelasannya, mari kita bahas lebih lanjut.

1 juz Al-Qur’an rata-rata terdiri dari 20 halaman (Al-Qur’an Madinah/pojok). 20 halaman tersebut kita bagi menjadi beberapa bagian, bisa dibagi menjadi 4 bagian yang terdiri dari 5 halaman per bagiannya, bisa juga dibagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari 4 halaman per bagiannya (ini yang biasa saya lakukan).

Dibagi menjadi 5 bagian
Dibagi menjadi 4 bagian

Fungsi dari membagi-bagi ini adalah agar kita mempunyai pola pada juz yang kita hafalkan sehingga hafalan kita menjadi teratur. Selain itu, akan lebih mudah juga jika kita menghafal bagian per bagian dimulai dari bagian pertama, kemudian lanjut ke bagian kedua, bagian ketiga, dan seterusnya dibandingkan jika kita menghafal 1 juz keseluruhan tanpa dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang teratur. Analoginya kira-kira seperti kita menyusun beberapa keping puzzle agar menjadi kesatuan yang utuh.

Untuk penjelasan lebih rinci, mari kita mulai dari halaman pertama juz yang akan dihafal. Saya akan menerangkan metode 5 bagian (4 halaman per bagian) dengan menghafal 1 halaman per harinya.

Note: Teman-teman dapat memilih pembagian yang lain atau menentukan sendiri jumlah baris/halaman yang akan dihafal per satuan waktu.

Bagian pertama adalah halaman ke-1 sampai ke-4, bagian kedua adalah halaman ke-5 sampai ke-8, dan seterusnya sampai berakhir pada bagian kelima, yaitu halaman ke-17 sampai ke-20.

Hari pertama kita hafalkan halaman ke-1, hari kedua kita hafalkan halaman yang ke-2, dan setelah hafal kita mengulang dari halaman ke-1. Besoknya, halaman ke-3 kita hafalkan dan kita mengulang lagi dari halaman ke-1, begitu juga setelah menghafal halaman ke-4, kita ulang lagi dari halaman ke-1. Setelah menghafal 4 halaman tersebut, berarti kita telah berhasil menghafal bagian pertama dari juz yang sedang kita hafalkan. Pastikan kita sudah benar-benar hafal dengan mengulang-ulang kembali keempat halaman tersebut.

Kemudian kita lanjut ke bagian kedua, yaitu halaman ke-5 sampai ke-8. Ada sedikit perbedaan dengan menghafal bagian pertama. Kita mulai dengan menghafal halaman ke-5 dan setelah hafal kita mengulang dari halaman ke-1. Besoknya, kita hafalkan halaman ke-6. Setelah hafal halaman ke-6, kita melakukan pengulangan dua kali. Pertama, kita mengulang dari halaman ke-5. Lalu yang kedua, kita mengulang dari halaman ke-1. Begitu juga setelah menghafal halaman ke-7, kita mengulang dari halaman ke-5 kemudian mengulang lagi dari halaman ke-1.

Jadi untuk bagian pertama, kita melakukan pengulangan hanya dari halaman ke-1. Untuk bagian kedua sampai kelima, kita melakukan pengulangan dua kali, yaitu dari halaman awal bagian yang sedang dihafalkan, kemudian mengulang lagi dari halaman ke-1.

Halaman awal per bagian (5 bagian)

Contoh, jika kita sudah menghafal sampai halaman ke-11, pertama lakukan pengulangan dari halaman ke-9 yang masih satu bagian dengan halaman ke-11, yaitu bagian ketiga. Setelah lancar kita mengulang dari halaman ke-1. Contoh lain, jika kita sudah menghafal sampai halaman ke-19 yang termasuk bagian kelima, maka pertama-tama lakukan pengulangan dari halaman ke-17 yang juga termasuk bagian ke-5, kemudian lakukan pengulangan dari halaman ke-1. Tujuannya adalah agar kita terus mengulang-ulang halaman yang telah kita hafalkan, sehingga hafalan kita insya Allah lebih melekat.

Metode dari Hafizh 30 Juz

Saya juga akan menerangkan cara menghafal sambil muroja’ah yang dilakukan oleh teman saya yang merupakan adik kelas saya di SMA, seorang hafizh 30 juz, Fatih namanya. Cara menghafalnya adalah dengan membagi 1 juz menjadi 4 bagian, yang berarti 1 bagian terdiri dari 5 halaman. Dia menghafal 1 halaman per harinya. Sampai pada halaman yang ke-5, dia jeda terlebih dahulu waktu menghafalnya beberapa hari untuk me-muroja’ah 5 halaman yang telah dihafalnya agar kuat di dalam ingatan.

Setelah yakin sudah lengket di kepala, dia lanjut ke bagian kedua yaitu halaman ke-6 sampai ke-10. Tetapi sebelum memulai menghafal bagian yang baru, dia mengulang terlebih dahulu 3 halaman sebelum halaman yang akan dihafal, yaitu halaman ke-3 sampai ke-5. Begitu seterusnya sampai selesai menghafal 1 juz penuh. Selesai menghafal 1 juz, dia terus mengulang-ulang juz tersebut beberapa hari sampai benar-benar lancar, kemudian lanjut ke juz yang berikutnya.

Keep Istiqomah!

Istiqomah sangat penting dalam kegiatan menghafal kita, sekaligus paling sulit. Menghafal maupun me-muroja’ah hafalan harus kita lakukan secara istiqomah. Saat menghafal, kita berusaha untuk selalu memenuhi target yang kita pasang. Misal kita memiliki target menghafal 5 baris dalam 1 hari, kita usahakan agar bisa memenuhi target tersebut setiap hari. Kalau kendor sehari karena suatu alasan, usahakan esok harinya kita lanjut lagi memenuhi target. Jangan sampai berhenti di tengah jalan, kemudian seterusnya kita tidak lanjut lagi.

Kemudian, muroja’ah harus kita biasakan. Setelah menghafal, kita ulangi lagi hafalan secara kontinyu. Sayang kalau setelah menghafal, hafalan kita lepas begitu saja. Jaga selalu hafalan agar selalu melekat dalam ingatan. Teman saya yang seorang hafizh 30 juz, Haqi namanya, benar-benar menjaga hafalannya dengan baik melalui muroja’ah. Dia me-muroja’ah 30 juz penuh sebanyak 2 kali dari hari Senin — Jum’at, kemudian meluangkan waktu untuk hal lain pada hari Sabtu dan Minggu. Tentukanlah pola muroja’ah kita sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Yang terakhir adalah, jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah. Minta agar selalu dimudahkan dalam menghafal dan dijaga hafalan kita. Jangan ragu lagi untuk memulai menghafal Al-Qur’an, karena kita bisa mendapatkan keutamaan di mata Allah. #KuyNgafalQuran !!! Wassalamu’alaikum.

Depok, 5 Dzulqaidah 1438 H,

Muhammad Thoriq Al Fatih.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muhammad Thoriq Al Fatih’s story.