Chug Bar

Pukul setengah dua dini hari tadi aku baru kembali ke rumah. Iya aku dari bar. Iya pertama kali.

Ada event musik di sebuah bar dan aku diajak oleh temanku Ivan. Yah bisa dibilang kami teman baru yang cepat akrabnya. Pukul 7 aku dijemput Ivan di McDonalds, lalu kami pergi ke rumah Afif (ini teman Ivan tapi ini sudah kali ketiga kami bertemu.) Di rumah Afif kami menunggu mungkin 20 menit, lalu saat ia keluar dari rumah tiba-tiba ia berhenti didepan sebuah rumah, lalu seorang perempuan berkerudung keluar. Membuatku sejenak berpikir, like seriously?

Chug Bar ternyata dekat dengan kampus, sebelum masuk kartu identitas kami diperiksa. Aku spontan saja bilang terima kasih dan memberi senyum pada penjaga pintu, tapi kata Ivan itu tidak diperlukan disini. Padahal I’m just being polite. Okay lesson 1. Kami naik dan aku sudah masuk. Tempatnya tidak terlalu besar, dari tangga paling atas kamu sudah bisa melihat stage (yang rata dengan lantai), di sebelah kanan ada bar, yang terdapat tulisan neon diatasnya seperti di foto, di sebelah kiri terdapat meja dan kursi, yang malam ini diisi oleh bintang tamu.

You know what bar means? Free to smoke indoor. Langit-langit bar lumayan tinggi, plafonnya tidak seperti pada umumnya, aku tidak tahu itu bahan apa, tetapi terlihat mengkilap. Pendingin ruangan, yang kata Ivan berdaya 2 PK, mungkin diatur di suhu 16 derajat celcius. Pertanyaanku, kemana asapnya pergi? Menurut Ivan ada blower di beberapa sudut saja, tetapi aku tidak melihatnya. Aku sendiri menikmati merokok di dalam ruangan dan bebas membuang puntungnya di lantai.

Kami duduk bersandar di salah satu meja di pojokan ruang sebelah kiri yang saya ceritakan tadi. Teman Afif yang bernama Diva ini ternyata tadinya tidak tahu dia dibawa kemana, rupanya Afif agak brengsek juga. Diva memakai sweater dan ripped jeans. Dan berkerudung. Dan memakai masker. Aku rasa pakaian tersebut sangat tidak pada tempatnya. Seharusnya dia ke kamar mandi lalu melepas kerudung dan maskernya agar tidak terlihat mencolok. Tapi yasudahlah. Aku sendiri memakai kaos bergaris-garis dengan lengan 3/4, dan celana lebar dengan panjang 7/8, serta pastinya dengan sneaker Vans kesukaan saya. Kata Ivan aku tidak terlihat gembel dan itu cukup, tadinya aku merasa perlu memakai riasan tapi dengan penerangan dan penampilan band seperti ini tidak ada yang melihat warna bibirmu.

Aku habis dua batang rokok saat Ivan kembali membawa empat botol bir San Miguel dengan kadar alkohol 2%. Aku diberi gelas terisi setengah penuh, dingin berwarna kuningan, kutenggak dan lidahku merasakan hal tidak enak. Rasanya seperti air rebusan dedaunan (yang ada benarnya karena bir adalah fermentasi tumbuhan), atau balsem, atau entahlah aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Beberapa menit aku merasakan panas di perut, itulah kenapa pendingin ruangan disini harus benar-benar dingin, agar pengunjung membeli bir lebih banyak.

Pembawa acara didepan menyerukan sesuatu menyambut bintang tamu Timeless, lalu Ivan berkata akan maju lebih dekat dengan stage, dan aku bilang aku mau ikut. Aku sebenarnya tidak terlalu bisa menikmati yang bising-bising seperti ini, aku pendengar musik yang tidak bisa lepas dari earphone, tapi aku tidak pernah benar-benar menikmati konser (mungkin karena aku tidak pernah menghadiri konser pemusik yang kusenangi.) Kali ini aku juga tidak bisa dibilang menikmati, tapi ini untukku suatu atmosfir baru. Live music dengan suara berdentum-dentum sehingga aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, lampu panggung yang berganti warna dengan lembut, menyinari kerumunan yang penuh asap, termasuk yang aku hembuskan dari mulut sendiri.

Musik menjadi lebih keras, penonton mulai menggila. Mereka mulai saling mendorong dan kurasa itu cukup kacau untuk tempat yang terbatas seperti ini. Ivan yang sedari tadi memegang bahuku mengulurkan lengannya untuk menghindarkanku dari orang-orang yang saling dorong. Aku secara spontan juga berpegangan padanya. Dalam hati saya berpikir sebenarnya Ivan juga tidak terlalu brengsek. Lalu tiba-tiba Afif berjalan melewati kami dan bilang dia hendak mengantar Diva pulang. Awalnya aku ragu untuk mengiyakan ajakan Ivan karena merasa tidak enak dengan teman-temannya, tetapi sekarang kami hanya berdua.

Sekitar pukul sepuluh Ivan mengajak keluar sebentar, sekedar mengambil nafas karena didalam memang penuh sesak dan penuh asap. Aku minum bir dari botol terakhir yang diberi Afif tadi, tapi aku tidak kuat menghabiskannya rasanya terlalu tidak enak. Dengan itu berarti aku hampir minum satu botol malam ini. Kami mencoba menghubungi Afif tetapi tidak bisa. Lalu Ivan mengajak kembali keatas karena bintang tamu utama sudah on stage, Kelompok Penerbang Roket. Yang aku tidak tahu. Kami naik dan mendapati bar lebih sesak daripada tadi.

Kami berdiri didekat tangga, aku bersandar pada pegangan tangga sedangkan Ivan disampingku yang entah sejak kapan tangan kirinya merentang dibelakang punggungku. Musik semakin keras dan lagi Ivan melindungiku dari kerumunan yang kacau. Sebenarnya saat kami menonton konser di JakCloth bersama Afif dan temannya Dika beberapa saat lalu, Ivan juga bertindak begini. Tapi saat ini beda, karena entah sejak kapan kedua tangan Ivan sudah melingkar di badanku. Tanganku didekapnya, terasa hangat telapaknya. Interaksi ini terasa salah karena dia punya pacar dan dia tahu saya tidak tertarik padanya. Tapi mungkin suasana membuat kami nyaman. Aku mencoba melepaskan tanganku dengan membenarkan kacamataku tapi tanganku ditangkap lagi olehnya. Jemariku diantara jemarinya. Aku merasakan pelipisnya bersandar pada pelipisku. Aku sepenuhnya sadar bahwa semua gerakan ini dia yang memulai. Tapi aku tidak menolak.

Karena sebenarnya aku tahu aku ingin yang seperti ini, aku butuh. This sensual interaction I never had it before. I long for it. And he gave it to me. Aku tidak berharap mendapatkan ini dari Ivan, tapi hangat tangannya mengingatkanku pada hangat tangan orang lain. Mungkin Ivan juga sedang memikirkan tubuh pacarnya. Sudah merupakan sebuah kebutuhan psikologis saat kita semua menginginkan rasa nyaman dan affection. Hal yang sangat wajar, namun seringkali susah terpenuhi. Aku sendiri juga tidak ada gambaran akan orang yang bisa memberikanku hal itu. Mungkin aku memang perlu cari pacar.

Tepat tengah malam aku akhirnya merasa pusing dan tidak fokus, Ivan melepaskan pelukannya lalu mengajakku turun.

(Dibawah kami bertemu Afif lalu kami pergi ke warung untuk makan mie instan, sekitar pukul satu mereka mengantarku ke McD untuk mengambil motor, dan akhirnya aku pulang dan berhasil masuk rumah dengan kunci yang aku gandakan tadi siang.)

Like what you read? Give Thia Aulia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.