Iib

Iib baru saja pulang dari rumah saya, dia tiba-tiba datang ke rumah jam dua siang tadi. Dia dari toko elektronik sehabis membeli setrika baru untuk kosannya di Depok. Dia seorang mahasiswa ilmu komunikasi di Universitas Indonesia. Saya senang dia datang karena kemarin ia sedang merasa tidak baik. Agar lebih asyik, sore harinya saya mengajak teman kita Nida untuk datang ke rumah. Kami berbagi waktu yang menyenangkan. Kami memesan pizza dan Iib bermain keyboard saya. Selera musik kami berbeda tetapi ada juga yang kami sama-sama suka. Kami menyanyikan lagu High Hopes dari Kodaline.

Iib tipikal orang yang tidak bisa ditebak, alur pemikirannya sulit dipahami, mungkin karena ia terlalu pintar. Dia mengatakan seperti ia selalu memikirkan suatu hal, bahkan saat berenang. Saya sangat heran akan hal tersebut karena saat saya berenang yang saya pikirkan hanyalah bagaimana agar terus berenang.

Dia sangat aktif di sekolah, bahkan saat SMP dia aktif mengikuti kepramukaan sedangkan saya langsung pulang naik angkutan umum setelah selesai jam pelajaran. Di SMA dia lebih aktif lagi, dimana-mana ia terlibat. Tapi belakangan ini ia bercerita bahwa hal tersebut sebenarnya juga sebagai distraksinya. Distraksi akan, entahlah, kekosongan yang ia rasakan.

Dia merasa kosong dan tidak bahagia. Dia bilang dia tidak punya siapa-siapa di tanah perantauan, saya kira orang sekuat Iib tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu. Tetapi nyatanya ia mati-matian berjuang disana.

Ia merasa kosong dan tidak bahagia. Tapi memangnya kita bisa sehidup apa? Man, I mean, he got life. Dia bukan orang yang menganggur dan tidak punya kehidupan. Dia terkadang terdengar seperti nihilis, tapi untuk mati pun ia punya banyak hal untuk disayangkan. Sama seperti saya. Iib saya asosiasikan seperti umbi lapis. Saat saya buka selambunya, terdapat lembaran lainnya. Saya rasa saya tidak akan pernah memahaminya.

Kami bertemu di SMP, lalu masuk ke SMA yang sama, dan ikut ekstrakurikuler kepecintaalaman (akan saya bahas sendiri nanti) dimana kami bertemu dengan Nida dan teman-teman yang lain.

Saya sangat menyayangi Iib. Tapi saya tidak tahu apakah saya mengharapkan yang lebih dari ini. Saya merasa ini seperti cinta tanpa pengharapan. Saat Anda merasa sayang dan perhatian terhadap seseorang tetapi bahkan tidak peduli apakah ia merasakan hal yang sama. Bukan lagi menanyakan apakah ia tahu, tetapi menanyakan apakah saya ingin tahu? Seperti saat Anda bertanya-tanya apakah ia sudah aman berada di rumah, tetapi mengurungkan niatan menghubunginya karena Anda tahu dia bisa menangani segalanya dan dia pasti baik-baik saja. Ya benar, pertanyaannya bukanlah apakah perasaan ini resiprokal, tetapi apakah saya ingin tahu? Perasaan saya kepadanya merupakan urusan saya, dan ia berhak mencintai siapapun dan itu bukan urusan saya untuk saya ketahui.

Pernah sekali saat kami memanjat Tebing Surowiti di Gresik, kami tidur bersebelahan, lalu esok paginya saya mendapati wajahnya hanya berjarak tiga senti dari wajah saya. Di tempat yang sama satu tahun kemudian, kami tidur berdampingan kembali dan saya dapat merasakan napasnya di tengkuk saya. Malam itu saya tidak bisa tidur. Kali ini saya mengasosiasikan Iib seperti angin malam. Dimana hembusannya membuat saya terjaga tak bisa lelap, tetapi saya bukan merasa awas melainkan damai mengetahui ia disana.

Saya tidak pernah mempunyai hubungan romantis dengan siapapun, bahkan saya tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadap siapapun. Jika saya memang pernah mencintai seseorang, orang itu pastilah Iib. Dan saya yakin tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.