Masa Kecil

Sekarang saya sedang makan siang di McDonalds, saya makan burger keju sendiri sedangkan di sebelah kiri saya terdapat rombongan delapan anak kecil dengan tiga orang dewasa yang saya kira datang dari panti asuhan (karena mereka tidak memakai seragam sekolah), dan di depan saya arena bermain. Suatu kebetulan seluruh anak kecil di lantai dua restoran cepat saji ini berkelamin perempuan.

Saya tidak terlalu suka anak kecil. Mereka berisik, tidak bisa berjalan dengan normal (selalu berlarian dengan suara sepatu yang mengganggu). Tapi memangnya anak kecil bisa apa?

Saya tidak ingat pernah bermain di arena bermain seperti ini, saya tidak pernah diajak ke wahana bermain, seumur hidup saya tidak pernah main di Timezone, dan saya juga tidak pernah punya boneka Barbie. Orang tua saya memberi saya permainan seperti puzzle dan boneka-boneka hewan.

Terasa aneh mengingat-ingat masa lalu. Karena saya merasa saya telah membunuh masa kecil saya. Rasanya saya ingin melihat diri saya diumur anak-anak kecil di sekitar saya, seperti apa tingkahnya? Apa saya akan membenci diri lampau saya sendiri?

Saya yang berwujud anak kecil tidak akan menyangka bahwa ia akan tumbuh menjadi seperti ini, sejujurnya saya memang tidak pernah membayangkan diri saya yang sedang berkuliah. Saya ingat dulu waktu di bangku SMP saya membayangkan diri saya di SMA favorit di kota, yang akhirnya terwujud. Tapi saat itu saya tidak membayangkan perubahan apa yang terjadi di diri saya, apalagi secara moral.

Kehidupan saya selama ini membentuk saya menjadi orang yang tertutup, lebih menyukai kesendirian, bahkan ignoran terhadap agama. Tetapi saya orang yang bermoral kok walaupun saya tidak percaya tuhan. Saya bukan orang yang buruk. Tapi mungkin pendapat orang tua saya lain.

Saya tiba-tiba ingin menulis dalam bahasa saya sendiri, Bahasa Indonesia. Saya sedang membaca buku berjudul Bilangan Fu, mungkin karena itu saya jadi tidak ingin menulis dalam bahasa inggris. Lagipula tujuan saya menulis ini juga hanya sekedar menulis, memangnya siapa yang akan baca tulisan ini?

Saya akan menulis lagi malam ini.

Like what you read? Give Thia Aulia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.