(FIKSI) RITUAL PAGI

Membuat kopi susu adalah kata kerja bagi kebanyakan orang, ada perilaku melakukan suatu kegiatan disitu, tetapi tidak untukku. Membuat kopi susu adalah kata sifat. Terlalu banyak rasa yang terlibat dalam kegiatan itu sehingga berubah dari kata kerja menjadi kata sifat. Ini berlaku untukku, hanya untukku. Tanpa bermaksud menyalahi aturan bahasa.

Ritual membuat kopi susu untukmu, ini yang kumaksud. Sederhana memang, hanya mencampur kopi dengan susu dalam gelas. Proses sederhana yang melibatkan banyak rasa. Sama seperti kamu yang sederhana namun membangkitkan banyak rasa yang terekam dalam otakku.

Sederhananya kamu itu sesederhana kopi susu yang setiap pagi kuhidangkan atas permintaanmu. Hanya kopi susu yang sayangnya rasanya tak pernah sama. Aku ahli dalam menciptakan varian rasa dari dua bahan dasar itu, eh tiga jika air panas masuk dalam hitungan. Rasa kopi yang terlalu tajam atau rasa susu yang tercampur kopi setetes atau rasa kopi yang tidak keluar sempurna karena waktu merebusnya tak tepat atau rasa campuran kopi dan susu yang tepat atau malahan rasa kopi dan susu yang tak menyatu. Aku tahu pasti bagaimana rasa di cangkir yang kuhidangkan setiap pagi karena sebagai pembuatnya sudah menjadi kebiasaan aku menutup prosesi pembuatan dengan mencicipi sesendok kopi susu itu dan memasukkan sendok bekas mulutku itu ke cangkir untuk adukkan terakhir, ini tanpa kusadari awalnya. Sebagai peminum kopi, aku tak menikmati rasa di cangkir itu yang menurutku lebih sering kacau. Bubar jalan.

“Aku mau kopi susu ya.” Mantra pembuka ritual setiap pagi yang selalu sama, kamu yang merapalnya. Takut, itu rasa yang muncul pada pagi pertama. Takut yang bergandengan dengan khawatir. Bagaimana jika rasanya tak sesuai dengan harapanmu? Bagaimana jika aku gagal meraciknya? Apalagi pada pagi itu tak kutemukan bubuk kopi di dapurmu. Hanya ada biji kopi di rak dan susu segar dalam lemari pendingin. Seolah ada terjemahan di atas kepalaku, dengan senyummu yang menawan kamu menunjuk panci bergagang dan stoples biji kopi untuk menjawab kebingunganku. “Kopinya direbus pakai panci itu.” Baiklah, ini tidak seperti biasanya aku menyeduh kopi. Biji kopi itu direbus. Kapan memasukkan biji kopinya, aku tak pernah tahu mana yang sesuai dengan seleramu. Awalnya kukira ketika air mendidih biji kopi dimasukkan itu yang tepat. Namun ketika sekali waktu aku memasukkan biji kopi sejak awal memasak air, itu juga tak salah. Belum lagi masalah kapan mencampur susu segarnya. Susu dituang ke cangkir lalu kopi menyusul atau kopi dulu lalu susu kemudian? Tak juga kutahu mana yang tepat. Seberapa banyak susu yang harus dicampur itu juga menjadi kebingunganku. Setengah, sepertiga, dua pertiga, seperempat atau tiga perempat? Kopi susu atau susu kopi? Yang jelas aku tahu pasti dari awal adalah jangan ada gula yang tercampur karena “Manisnya cukup dari yang buat saja.” Ah, tersipu aku mendengarnya. Itu alasanmu dan itu satu-satunya hal yang pasti. Rasa manis itu mungkin muncul dari sendok bekas aku mencicipi kopi susu itu. Gombalanmu di pagi pertama itu adalah mantra penguatku.

Rasa takut dan khawatir itu berubah menjadi marah ketika berulang kali aku tak mendapatkan kepastian akan seleramu. “Sedap dan mantap.” Selalu dua kata itu yang kamu ucapkan setelah menikmati tegukan kopi susu itu yang diikuti oleh kamu menghampiriku dan mendaratkan kecupan di pipi kiriku tepat di lesung pipit sambil berkata “Terima kasih ya, kopinya enak. Kayak kamu.” pujimu. Dari sejak pagi pertama mantra itu selalu membuatku tersipu dan salah tingkah. Tak ada balasan dariku karena aku terlalu sibuk menenangkan gejolak di hatiku. Marah dan kesal itu dengan cepat berganti dengan rasa senang ditambah sedikit malu yang aku tak tahu kenapa ikut muncul.

Entah berapa pagi berlalu sejak pertama kamu menambah ramuan kopi susu kacau ke dalam ritual pagimu. Entah berapa pagi pula tanpa kusadari pujianmu menjadi mantra yang ampuh untuk memulai pagiku. Ritual kopi susu dan mantra ini sudah seperti upacara adat di pagi kita. Aku masih ingat kapan semua itu bermula tetapi tidak pernah ingat sudah berapa kali ritual itu kita lakukan. Kalau aku mau repot sedikit sebenarnya tinggal menghitung berapa hari yang telah terlewati sejak kamu mengambil alih tanggung jawab atas diriku dari bapak. Ini jelas tidak akan kulakukan, terlalu merepotkan.

Mantramu selalu sama dengan urutan yang juga sama. Mantrakulah yang sering berubah sesuai dengan suasana hati. Tergantung omelan pagiku tentang apa. Tentang biji kopi yang tidak sama seperti sebelumnya atau tentang susu yang kualitasnya tidak sama atau tentang tukang susu yang tidak rutin datang pada jam yang sama atau tentang kompor yang bermasalah hingga yang paling terakhir tentang kebiasaanmu meminum kopi susu.

Aku tahu kamu tidak terlalu suka kopi bubuk. Ini karena suatu pagi aku menggunakan kopi bubuk ketika tak kutemukan biji kopi di stoples dan warung terdekat dari tempat kita hanya menjual kopi bubuk. Kamu masih memberikan respon yang sama, hanya saja senyummu yang tak sama. Matamu yang menawan itu tidak ikut tersenyum walaupun mantra yang sama tetap kamu ucapkan.

Sekian pagi berlalu aku mengenali polamu. Kamu akan duduk sambil menungguiku membuat kopi susu dari awal hingga terhidang dan menutupnya dengan mencuci sendiri cangkir bekasmu. Aku akan menemukan sedih di matamu ketika aku memulai lebih dulu sebelum kamu mengucapkan mantra pertama. Ini membuat aku tahu bahwa penting untukmu melihatku dari awal prosesi, sehingga sejak kudapati sedih itu berulang akhirnya aku memulai ritual pembuatan kopi susu setelah mantra “Aku mau kopi susu ya.”

Kadang pagi kita tidak terjadi di rumah. Ritual pagi kita pun perlu penyesuaian bahkan ditiadakan. Kalau ini terjadi, kamu akan berkomentar “Pagi ini kurang kopi susu.” Lalu dengan senyum menawanmu itu kamu mengecup pipiku tanpa mantra penutup dan hal itu membuat pagiku pun kurang.

Pagi kita berlalu dengan banyak cerita hingga suatu pagi aku tak sanggup untuk membuatkan kopi susu untukmu. Aroma rebusan biji kopi membuatku mual dan akan membuatku mengeluarkan isi perut hingga aroma itu hilang sepenuhnya. Kamu membeku sesaat ketika ini pertama kali terjadi lalu kemudian mengambil inisiatif meniadakan kopi susu di pagimu. Kukira aku akan senang tetapi ternyata senang itu hanya bertahan beberapa hari. Berikutnya aku sedih karena pagiku tak lengkap. Tak ada ritual yang telah kita jalankan selama ratusan pagi. Itu juga yang aku lihat terjadi padamu walaupun kamu menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja tanpa ritual pagi. Tak kusangka ritual pagi kita begitu berperan untuk kita memulai hari. Pagimu tanpa kopi susu akan membuat pagiku pun terasa kurang lengkap.

Kamu mencoba untuk membuat kopi susu sebelum aku bangun. Ini kamu lakukan untuk melindungiku. Beberapa kali kudapati kamu sedang mencuci cangkir bekas kopi susu ketika aku masuk dapur. Aku merasa bersalah.

Hingga suatu pagi aku terbangun saat kamu sedang merebus biji kopi. Kamu terkejut ketika melihatku di dapur sedangkan proses merebus biji kopi hampir selesai. Kamu salah tingkah. Kutunggu reaksi tubuh terhadap aroma kopi yang tercium. Sedetik, dua detik hingga semenit kemudian tak ada reaksi apapun dari sistem metabolismeku. Tak ada mual yang terpicu karena aroma kopi. Hal ini memunculkan senyum di mata dan mulutmu. Senyum itu semakin melebar. Kamu mendapatkan jalan keluar dari konflik pagi ini. Sepertinya ritual pagi bisa kembali dijalankan. Proses pembuatan kopi susu kamu selesaikan. Aku terpancing untuk mencicip sesendok seperti biasanya. Sayang kamu tak mengizinkan.

Keesokan paginya, ritual pagi kita mulai lagi. Ketika rebusan biji kopi mulai mengeluarkan aroma, sontak isi perutku berontak keluar. Tak sempat kujangkau kamar mandi sehingga lantai dapur pun jadi korban. Kamu merasa bersalah dan aku menangis karena merasa gagal. Apakah yang terjadi sehari sebelumnya hanya kebetulan? Pagi itu tak ada kopi susu.

Pagi berikutnya aku terbangun tepat di saat rebusan biji kopimu mulai mengeluarkan aromanya. Aneh, tak ada reaksi apapun dari tubuhku. Sama seperti kejadian sebelumnya. Pun beberapa hari berulang, tubuhku tetap tidak bereaksi. Ini membuat kita berdua tertawa karena betapa berpengaruhnya siapa yang merebus kopi terhadap reaksi tubuhku. Aku akan mual jika aku yang merebus biji kopi, tetapi tidak akan terjadi apapun jika kamu yang merebusnya. Walaupun aku duduk di dapur dari awal ritual.

Sejak kita tahu polanya, mantramu berubah. “Aku bikin kopi susu ya.” Itu mantra pertamamu. Kamu tetap mengakhiri ritual dengan mengecup pipi kiriku dan mengucap “Terima kasih ya, sudah menungguku minum kopi susu.” Mantra penutupmu juga berubah dan ritual pagi kita pun berubah dengan menghasilkan lebih banyak rasa. Kita kaya rasa.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tia Aja’s story.