Teruntuk: yang ada -semoga tidak hilang-

Kalau diingat, awal perkenalan kita lucu ya.

Random.

Awal bertegur sapapun obrolan hanya sebatas basa-basi saja. Tidak menarik.

Kupikir dulu kamu membosankan, kolot, tak paham humor, dan semua kalimat yang menggambarkan kekosongan serta kebosanan akrab denganmu, tapi ternyata hanya aku saja yang cepat sekali menyimpulkan saat belum dalam menyelamimu.

Belakangan kita bisa bertukar kata hingga larut, semua kita obrolkan seolah itu adalah hal terpenting dan hidup kita bergantung padanya.

Mas, sekarang denganmu seolah semua menjadi lebih mendebarkan untuk dibincangkan.

Hal hal sulit yang membutuhkan nalar seperti terorisme, toleransi dengan sesama, atau isu politik terbaru terasa mudah diramu jika bersamamu.

Hal sepele yang jarang mendapat perhatian lebih seperti rasa sambal pecel Jogja dan Jombang yang berbeda, atau betapa hectic-nya saat rumah kos yang kau tinggali bocor bahkan menjadi topik yang menyenangkan.

Sesederhana itu,

Sesederhana itu bahagiaku bersamamu.

Mas, terimakasih sudah perlahan memberi warna.

Terimakasih sudah ada.

Jombang, 8 November 2018