Mieke Amalia Bangga Tora Sudiro Jadi Indro di Warkop DKI Reborn

Mieke Amalia mengaku bangga dengan keterlibatan sang suami | Kontak Perkasa Futures

PT. Kontak Perkasa Futures — Film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 8 September 2016 mendatang. Serangkaian kegiatan promosi film pun sudah dilakukan oleh Tora Sudiro, Vino G Bastian dan Abimana Aryastya sebagai tokoh sentral sejak pekan lalu.

Selain Tora, dua aktor ternama Indonesia juga dinobatkan untuk peran anggota Warkop DKI lainnya. Adalah Abiman Aryastya sebagai Dono dan Vino G. Bastian sebagai Kasino. Secara penampilan, ketiganya harus diubah agar terlihat mirip, pun dengan gaya bicara mereka di film ini.

Menurut Mieke, banyak sisi dalam diri Tora yang memiliki kesamaan dengan Indro, seperti hobi, selera hingga gaya sehari-hari. Ditambahkan Mieke, dirinya dan Tora sudah lama mengenal baik sosok Indro dan keluarga. “Kebetulan secara personal saya dan Tora juga sudah kenal dengan pakde Indro dan keluarganya. Jadi memang cocok ya,” lanjutnya.

Di tempat berbeda, Tora pernah mengemukakan bahwa dirinya sudah kerap disapa Indro lantaran terlibat di film besutan Anggy Umbara ini. “Kalau gue ke gym, semua orang bilang, ‘gile lu, Ndro’. Nama gue udah berubah jadi Indro nih. Pas fitness mereka juga bilang, ‘angkat Ndrooo’,” papar Tora.

“Kesan saya sebagai istri yang pasti punya kebanggaan tersendiri. Karena dari pihak Falcon ataupun keluarga besar Warkop sangat selektif dalam menentukan pemain untuk karakter DKI (Dono, Kasino, Indro) dan pasti bukan sembarang pemain yang mereka pilih dan suami saya ada di dalamnya,” Ujar Mieke Amalia.

Mieke Amalia mengaku bangga dengan keterlibatan sang suami, Tora Sudiro, di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1. Aktor kelahiran Jakarta, 10 Mei 1973 itu dipercayakan peran sebagai Indro. Mieke mengatakan, kebanggaannya semakin bertambah ketika mengetahui aktor yang dipilih merupakan yang terbaik dan melalui proses seleksi yang panjang. 

Siapa Sangka, Warkop DKI Promosi Wisata Indonesia Lewat Film | PT Kontak Perkasa

​Menurut Indro, penonton suka kalau dikasih gambar pemandangan alam dalam film. Bahkan, pemandangan pantai lebih disuka dari pemandangan gunung. Namun, syuting di destinasi wisata adalah tantangan tersendiri untuk Warkop DKI.

“Kita dari dulu pengennya Bali dong, Yogya dong. Tapi dulu itu faktornya susah, bukan susah uang. Tapi karena semua orang mau nonton Warkop syuting,” jelasnya.

Indro bercerita mereka pernah syuting di Jonggol, ketika belum populer sebagai destinasi trekking, sepeda dan outdoor seperti sekarang. Tetap saja, animo orang untuk menonton luar biasa. Suasana sampai seperti pasar malam.

“Tanaman orang sampai rusak, kan kita nggak enak. Dari cuma keamanan pihak syuting sampai akhirnya minta tolong Kodim sama Polres, buat bantu jaga,” ungkapnya.

Syuting di Dieng, Wonosobo kata Indro ramai juga, tapi suasana lebih terkendali. Wonosobo adalah setting ketika Dono menjadi Slamet, anak juragan tembakau kaya raya di film Gengsi Dong.

“Syuting di Pelabuhan Ratu juga susah, banyak yang mau menonton. Tapi kalau syuting di hotelnya (Samudra Beach-red) aman. Tapi kita kalau syuting weekdays yang tidak terlalu ramai,” tutupnya.
Semua film komedi Warkop DKI telah mengocok perut jutaan orang Indonesia. Siapa sangka di dalam film itu terselip promosi berbagai destinasi wisata.

Sebelum ada ‘Laskar Pelangi’ yang mengangkat Belitung, atau ‘5 CM’ yang mengangkat Semeru, aneka film Warkop DKI sudah menampilkan wajah destinasi Indonesia saat itu. Kawasan Puncak, Pantai Anyer dan Pelabuhan Ratu adalah beberapa spot yang muncul dalam film Dono, Kasino dan Indro.

Indro Warkop mengobrol santai dengan detikTravel, sambil promosi film ‘Warkop DKI Reborn’. Indro Warkop mengatakan dulu mereka memang sengaja ingin menampilkan berbagai destinasi di Indonesia. Itu dilatari dari kegemaran personel Warkop DKI naik gunung semasa kuliah.

“Warkop kan semua pecinta alam. Kita selalu ingin menampilkan gambar yang fresh. Kita kasih hijau (gunung-red) dan birunya laut. Karena kita pecinta alam, kita pengen gambar yang alam banget. Masak penonton dikasih asap knalpot,” kata Indro di kantor detikcom, Jumat (12/8/2016).

Kalau Ada Wisata Warkop DKI, Indro Bangga Betul | PT Kontak Perkasa Futures


Misalnya ketika film Warkop DKI diputar di layar tancap lantas jadi hiburan orang banyak dan rakyat kecil bisa berjualan makanan untuk penontonnya. Pun demikian ketika orang berdatangan ke bekas lokasi syuting Warkop DKI.

“Ketika kemudian tempat syuting yang dulu kosong, sekarang orang bernostalgia di sini. Di tempat ini nih si Dono ditabok bodyguard, digoda bencong. Itu membanggakan, karena film kami berhasil punya arti,” lanjutnya.

Lantas, kalau mau mencoba wisata bertema Warkop DKI, harus pergi kemana? Menurut Indro, artikel detikTravel berjudul Gile Lu Ndro! 6 Destinasi Liburan Kocak Ala Film Warkop DKI dinilanya sudah sangat representatif. Di situ ada kawasan Puncak, Taman Situ Lembang dan Dunia Fantasi di Jakarta, Dieng di Wonosobo, Pantai Anyer di Banten dan Pantai Pelabuhan Ratu di Sukabumi

“Pas gue lihat (artikel detikTravel) ih gila nih. Itu bener semua. Puncak iya, Taman Situ Lembang betul, Dufan waktu zaman Eva Arnaz, Wonosobo yang cerita anak juragan tembakau, Anyer sering, Pelabuhan Ratu sering,” tutupnya.
Jelang peluncuran film ‘Warkop DKI Reborn’, fans bisa bernostalgia berwisata ke berbagai lokasi syuting film originalnya. Indro Warkop sangat senang kalau ada wisata bertema Warkop DKI.

Film-film legendaris dunia membuat lokasi syutingnya menjadi destinasi dunia. Di Indonesia pun begitu. ‘Eat, Pray, Love’ melambungkan nama Bali dan ‘AADC2’ melambungkan nama Yogyakarta.

“Ketika ada orang-orang berinisiatif napak tilas wisata syuting Warkop, tambah bangga lah saya. Bangga banget,” kata Indro Warkop dalam obrolan santai dengan detikTravel di kantor detikcom, Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Menurut Indro, Warkop DKI tidak hanya sekedar ingin mencari uang lewat film. Mereka ingin film mereka bisa punya multiplier effect menjadi penggerak perekonomian rakyat kecil.

Sumber


Originally published at ptkontakperkasafuturesnews.weebly.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.