Pesona Penyihir Marvel

Berbagai filosofi tentang alam semesta maupun supranatural berhasil disampaikan secara baik agar bisa masuk ke cerita. Ada banyak hal yang membuat film ini sangat lengket dengan unsur fantasi serta fiksi ilmiah.

Kalau Anda berfokus pada efek visual serta adegan aksinya, ada hal-hal yang masih asing untuk ukuran sebuah film. Klimaksnya pun menjadi sesuatu yang jarang ditemukan di dunia sinema. Sehingga, Doctor Strange bisa menebarkan sensasi baru kepada para penonton. Hanya saja, beberapa gambaran visual film ini mungkin akan memusingkan sebagian penonton.

Beberapa kekurangan film ini ialah terlalu cepatnya alur cerita yang berjalan. Ada momen yang kadang membuat bingung karena lompatan antara adegan hening ke adegan mendebarkan, digambarkan terlalu cepat. Kemampuan Doctor Strange yang terlalu cepat menjadi ahli sihir tanpa memperlihatkan prosesnya, mungkin bakal mengernyitkan dahi sejenak.

Di luar itu semua, Doctor Strange tetap menjadi satu film menarik yang berpotensi memperkuat franchise Marvel Cinematic Universe. Seperti biasa, jangan beranjak dulu dari kursi setelah ujung credit film berakhir.

Tak ingin semakin tenggelam dalam kesialan, Stephen Strange bertekad menyembuhkan kondisi tangannya, bahkan sampai ke Nepal.

Di sana, Strange bertemu dengan penyihir bernama The Ancient One (Tilda Swinton). Ancient One kemudian mengangkat Strange menjadi muridnya agar bisa menjadi pelindung umat manusia. Sayangnya, sifat tinggi hati Strange begitu susah disingkirkan. Ancient One memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membuat Strange bisa berpikir bahwa realitas di dunia tak hanya satu. Dan tujuan dari Ancient One ialah mendidiknya menjadi perantara dimensi manusia dan dimensi lain.

Secara keseluruhan, Doctor Strange memang sangat menarik dan berbeda ketimbang film-film yang sudah ada, terutama untuk ukuran genre superhero. Konsep dimensi paralel, dimensi alternatif, dan multisemesta yang disajikan, membuat film ini sangat unik dari segi visual, aksi, hingga alur cerita.

Meskipun tak memiliki banyak karakter dengan durasi 115 menit, namun penyajian sutradara Scott Derrickson mampu membuat film ini terasa sangat padat. Scott mampu mengarahkan para pemain agar bisa memunculkan watak yang sangat pas dengan cerita film ini. Kegemaran Scott Derrickson terhadap komik Doctor Strange, jadi terasa tak sia-sia.

PENGGEMAR superhero memang sudah lama menunggu penayangan Doctor Strange. Kisahnya pun dibuat lebih menarik dari versi komik maupun animasi. Seperti halnya Iron Man, Thor, Captain America, dan Ant-Man, Doctor Strange juga punya cerita mengenai kemampuan supranatural yang dimilikinya.

Kisah berawal dari Stephen Vincent Strange (Benedict Cumberbatch) dokter bedah jenius tapi tinggi hati. Hidupnya berubah total setelah ia mengalami kecelakaan mobil. Nahas itu membuat kemampuan tangannya menjadi terbatas. Tangannya selalu gemetar ketika memegang peralatan bedah.

Strange Diburu Hydra | PT. Kontak Perkasa Futures Cabang Plz. Marein

Pendekatan Doctor Strange dengan jagat sinema Marvel, dilakukan melalui berbagai objek maupun dialog yang dilontarkan oleh beberapa karakternya.

Di pertengahan film, Anda bisa melihat tempat suci yang menjaga bumi dari ancaman supranatural. Kala itu, saat Doctor Strange bersama Wong sempat terselip percakapan Avengers. “Pahlawan seperti Avengers melindungi dunia dari bahaya fisik, kita lebih menjaganya dari ancaman mistik,” kata Wong kepada Doctor Strange.

Setelah nama Avengers disebut lewat ucapan, penonton akan semakin diyakinkan dengan eksistensi tim pahlawan super itu melalui mata sendiri. Dalam sebuah adegan aksi yang disuguhkan, terdapat momen ketika penjahat utamanya mengacak dimensi di kota New York sebagai targetnya. Dari kejauhan, Anda bisa melihat menara Avengers berada di antara bangunan kota tersebut.

BILA memerhatikan detail kisah Doctor Strange, maka latar filmnya mengambil tempat sebelum dan sesudah dalam The Avengers pertama. Pasalnya, dalam Captain America: The Winter Soldier, nama sang karakter utama, Stephen Strange, disebut oleh salah satu anggota Hydra yang menyamar sebagai agen S.H.I.E.L.D. Stephen Strange menjadi salah satu target pemusnahan oleh Hydra. Menelusuri film tersebut, banyak unsur yang secara tak langsung mengaitkannya dengan jagat sinema Marvel. Memang, tak ada satu pun karakter dari Avengers yang muncul dari awal hingga akhir, namun bukan Marvel bila tak punya spoiler sebelum mendekati kredit.

Ya, Doctor Strange kala itu terlihat bersama dengan Thor.

Benedict Effect | PT. Kontak Perkasa Futures Cabang Plz. Marein

Namun siapa yang tak sepakat bila akting Benedict Cumberbatch juga punya peran penting dalam mendongkrak kesuksesan film tersebut. Penggemar tentu tau akting Benedict lewat serial televisi BBC, Sherlock Holmes. Atau sebagai aktor watak yang tampil dalam film-film drama seperti The Imitation Game atau 12 Years a Slave. Jika memerhatikan, gaya perannya tak terlalu jauh berbeda. Bisa disebut memang ciri khasnya Benedict, namun karakter bawaan tersebut berubah saat Doctor Strange menjadi The Sorcerer Supreme.

Ya, Benedict memang berhasil menata aktingnya dari tingkat serius hingga adegan-adegan konyol yang menjadi bumbu khas Marvel. Aktor tampan tersebut juga menyampaikan dialog-dialog berisi ilmu bedah saraf secara fasih. Sehingga, fans Marvel tentu akan senang melihat si dokter bedah Stephen Strange menjadi hidup di layar lebar.

Dalam film tersebut, Benedict juga sukses menggambarkan karakter yang kehilangan kemampuan menggunakan tangannya karena kecelakaan. Beberapa kali Benedict membuat penonton merasa ngilu dengan aktingnya, terlebih ketika tangannya gemetar usai lakukan operasi. Boleh dikatakan, Benedict Cumberbatch mampu mengimbangi akting para pemain superhero lain seperti Robert Downey Jr. (Iron Man), Chris Evans (Captain America), hingga Paul Rudd (Ant-Man). Dia berjaya menangkap seluruh momen serius dan jenaka secara tepat.

Rotten Tomatoes menunjukkan skor 97 persen atau 33 ulasan positif dari 34 review film, sementara Metacritic yang jarang memberi skor di atas 70 terhadap film-film Marvel, langsung memberikan skor 74 terhadap dr Strange. Ini menjadi yang ke sekian kalinya bagi Marvel Studios bisa mendapat skor positif di Rotten Tomatoes hingga 90 persen. Sebelumnya, skor tersebut pernah diraih Iron Man, The Avengers, Guardians of the Galaxy, dan Captain America: Civil War.

Di Rotten Tomatoes, pengamat bernama Christopher Orr dari laman The Atlantic menilai film ini memiliki kualitas seperti Captain America: The Winter Soldier arahan sutradara Russo Bersaudara.

Doctor Strange dianggap memiliki keseimbangan plot, aksi, humor, dan drama yang jarang ditemukan di film-film lain. Keseluruhan film ini didasarkan pada karakternya, seperti halnya The Winter Soldier.

Sementara itu, pengamat film dari laman TheWrap, Alonso Duralde, menyebutkan adanya klimaks yang mengesankan di akhir cerita. Seperti halnya Christopher Orr, Duralde juga mengatakan banyak hal dalam Doctor Strange yang jarang ditemukan pada film-film lainnya. Efek visual film ini juga sangat dipuji.

PENAYANGAN Doctor Strange pekan lalu memang menarik perhatian. Sebelum dimulai, para pengamat sekaligus kritikus film mancanegara sudah menyaksikan terlebih dahulu film tersebut. Hasilnya melebihi perkiraan. Sejak akhir pekan lalu, para pengamat yang berasosiasi dengan situs kritik film seperti Rotten Tomatoes maupun Metacritic, langsung memberikan skor positif terhadap Doctor Strange.


Originally published at tiaratna1.livejournal.com.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tia Ratna’s story.