24 Jam Bersama Gaspar, Sabda Armandio
“Orang — orang baik melakukan hal jahat dan beralasan apa yang dia lakukan demi kebaikan. Kita akan selalu menemukan pembenaran terhadap apapun..” — 24 Jam Bersama Gaspar, hal 139
Membaca buku ini ibarat melunasi hutang, entah pada diri sendiri atau pada Gaspar, penjahat yang berhasil memberi saya sudut pandang baru untuk menegakan kebenaran dengan cara yang tidak biasa. Sejak kali pertama kemunculannya di tahun 2017, saya merasakan sebuah kekuatan jahat yang mulai merasuki saya dan terus memengaruhi saya untuk mengenalnya lebih dekat. Semakin lama saya semakin tak berdaya dan mulai kehilangan kendali atas kehendak saya sendiri. Alhasil, Gaspar mendarat di kos saya pada 12 Februari, tepat 2 hari sebelum orang-orang merayakan hari kasih cokelat yang menurut golongan tertentu penuh kontroversi itu.
Cerita dibuka oleh sebuah pengantar dari seorang pria bernama Arthur Harahap yang mewanti-wanti saya agar menanggalkan seluruh keyakinan saya tentang hal-hal baik yang selalu menang dari hal-hal buruk; Kalau kita menyimpulkannya dari cerita-cerita masa kecil yang sering kita dengar dari mulut orang tua kita, tentu hal ini adalah keniscayaan, namun kalau bicara realita, ya lupakan saja. Awalnya tentu saya menolak, karena sejak kecil saya selalu dicekoki cerita-cerita macam itu oleh sebuah tabung berbentuk kubus yang sering menyita waktu masa kecil saya. Tapi saya sadar bahwa segala penolakan saya akan berahir sia-sia, apalagi kalau koka1 sudah ditodongkan ke kepala. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, sejak kecil saya juga lebih terobsesi untuk menjadi seorang supervillain ketimbang superhero. Gaspar adalah supervillain, dan dia berhasil membangkitkan obsesi masa kecil saya.
Coba anda bayangkan seekor kelabang, lalu bayangkan jika kelabang itu merayap dan masuk ke dalam lubang telinga anda. Rasakan tiap gerakan dari langkah-langkah kecilnya di sekitar gendang telinga anda2. Jika hal itu sudah membuat anda terganggu, maka hal itu juga yang saya rasakan ketika mengenalnya. Gaspar, bisa jadi adalah orang yang paling anda benci di antara banyak orang yang pernah anda temui. Dan di antara banyak sifat lain yang dimilikinya, sikap usilnya yang selalu ingin mengorek sisi tergelap dalam diri setiap orang adalah yang paling mengganggu. Bagaimana tidak, ia mampu membuat anda menertawakan diri sendiri sekaligus merasakan kengerian yang juga berasal dari diri anda sendiri. Ia selalu berhasil memaksa anda untuk membuka wajah buruk anda sendiri.
Hadirnya Gaspar membawa sebuah kesegaran baru di tengah situasi yang sedang kacau balau akhir-akhir ini. Saat kejenuhan mulai mengelus kepalamu dan minta terus diperhatikan, tentu yang di butuhkan adalah senjata baru untuk mengusirnya jauh-jauh, entah dengan alat semprot nyamuk atau pemukul kasur milik ibumu. Gaspar hadir membawa senjata yang lebih keren tentunya. Salah satu senjata paling menonjol di antara banyak senjatanya yang lain adalah obsesinya untuk menegakan kebenaran melalui cara-cara yang bisa kita anggap tidak bajik, jauh berbeda dari cerita-cerita orang tua pada waktu kecil. Terkadang cara-cara kasar jauh lebih berguna untuk menyadarkan orang-orang yang berperilaku buruk. Kita butuh kejahatan untuk membongkar kejahatan. Gaspar berhasil membuktikannya.
Tepat pukul 3 dinihari, percakapan kami tutup. Gaspar undur diri untuk beristirahat, katanya ia lelah dan butuh rehat. Saya pikir ia sedang ingin sendiri untuk merencanakan kejahatan-kejahatan lain, di tempat lain.
Catatan:
1. Sebuah senjata yang menyerupai handgun tetapi dibuat dari alat — alat seadanya; 24 Jam Bersama Gaspar, hal 116.
2. Sebuah kesaksian deskriptif mengenai Gaspar, menurut Arthur Harahap.
