Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer

Sadewo AK
Sadewo AK
Sep 4, 2018 · 2 min read

Pertama-tama saya ingin bilang bahwa nasiblah yang membawa saya berkenalan dengan buku ini. Singkatnya, pada waktu itu saya benar-benar kehabisan bacaan, alasannya jelas: Saya tidak punya budget yang cukup untuk beli buku baru, hehe. Terjebak dalam kondisi ini membuat saya melipir ke kamar teman-teman kos dan berharap bisa menjarah beberapa buku untuk saya baca. Alhasil, dipertemukanlah saya dengan buku ini.

Pasar Malam. Sudah barang tentu kita akan segera membayangkan segala hal yang menyenangkan jika mendengar kata ini. Suasana meriah yang menawarkan segala macam wahana yang siap menghibur diri dengan biaya yang murah meriah. Tapi, pernahkan kita memperhatikan aktivitas orang-orang yang pergi ke pasar malam? tidakkah kita cermati bahwa orang-orang selalu pergi begerombol untuk kemudian pulang dengan bergerombol pula? Jarang sekali kita temui ada orang yang datang dan pergi seorang diri. Bagaimana seandainya hidup berjalan seperti pasar malam? Kita lahir beramai-ramai untuk kemudian mati beramai-ramai pula? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh novel ini. Jujur, Bukan Pasar Malam sebenarnya bukanlah perjumpaan pertama saya dengan karya milik Pramoedya Ananta Toer, tapi ini adalah buku pertama beliau yang tunai saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca salah satu karyanya yang termasuk dalam tetralogi buru yang berjudul Bumi Manusia. Tapi apa mau dikata, buku itu keburu lenyap bersamaan dengan orang yang meminjamnya.

Cerita tentang hidup dan mati, hubungan antara ayah dan anak, dan belenggu kemiskinan pasca kemerdekaan adalah tiga kerangka utama yang coba diangkat dalam novel ini. Sepintas, saya teringat novel milik Elie Wiesel yang berjudul Night. Bedanya, Bukan Pasar Malam adalah novel roman, sedangkan Night adalah novel memoar yang menggambarkan kesaksian Eliiezer (Elie Wiesel) pada masa Holocaust di kamp konsentrasi Auschwitz. Kedua-duanya menggambarkan kekuatan hubungan yang terjalin antara seorang ayah dan anak; menjalani hidup yang biasa-biasa saja, mengalami penderitaan yang serupa, hingga akhirnya ia (sang anak) harus menyaksikan kematian ayahnya dengan tragis.

Kehadiran tokoh aku sebagai lakon utama dan anak sulung dalam cerita ini membuatnya merasa paling berdosa atas segala kesialan yang menimpa keluarganya, utamanya dengan penyakit yang diderita ayahnya. Entah sudah berapa kali ia mencoba mengakali semua kesialan hidup yang menimpa keluarganya, mulai dari mencari pinjaman untuk berobat sang ayah sekaligus ongkos pulang kampung, melewati perdebatan dengan istrinya yang cerewet, hingga pergi ke dukun untuk mengakali maut yang terus menguntit ayahnya. Kegamangan yang dirasakan aku dalam cerita ini mengisyaratkan hidup yang pelik dan hanya harus diterima sebagaimana adanya.

Membaca karya ini membuat kita mengamini bahwa hidup bukanlah pasar malam, yang bisa kita datangi beramai-ramai, lalu pulang beramai-ramai pula. Kita datang ke dunia seorang demi seorang lalu pulang seorang demi seorang.

“Seperti mendiang kawan kita itu misalnya, mengapa kemudian kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.” — Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer

    Sadewo AK

    Written by

    Sadewo AK

    Pemain belakang.