Menikah Itu Masalah
“Aku pengen resign trus nikah biar ayem (tenang).” Saya nggak bisa nggak teriak ketika seorang kawan berkata demikian.
Kepada dedek-dedek budiman di manapun berada, yang terlena mimpi indah pernikahan …
Percayalah,
menikah itu masalah.
Mungkin banyak orang, terutama perempuan, yang tumbuh dengan dongeng istana sentris. Seperti Cinderella yang tinggal di gudang kumuh, dijahatin ibu tiri dan anak-anaknya, lalu tinggal di istana mewah setelah menikah dengan pangeran berkuda putih.
Sayangnya, dongeng Cinderella cuma sampai resepsi nikah lalu serta-merta ditutup dengan “they live happily ever after”!
Penulis dongeng nggak membahas Pangeran yang nggak pernah jemur handuk basahnya habis mandi, atau Cinderella yang tiap hari GO-FOOD karena mager dan nggak bisa masak.
Ok, yang mager dan nggak bisa masak itu saya, dan yang suka lupa jemur handuk basah itu ‘Pangeran’ saya. Hehehe…

Hal seremeh handuk basah bisa jadi panjang dan berujung pertikaian dalam rumah tangga.
Senior saya bahkan pernah curhat dia mau minggat dari rumah karena suaminya suka lupa mengembalikan gunting kuku ke tempatnya.
Senior lain juga pernah cerita males pulang ke rumah karena takut dibawelin istri gara-gara Tupperware-nya hilang.
Masalah saya dan Pak Suami, selera hiburan kami bagai bumi dan langit.
Pada suatu musim Java Jazz Festival, saya beli 2 tiket three-day pass supaya bisa bersenang-senang dengan Pak Suami. Harapannya, dia akan ikut suka musik jazz juga.
Karena Pak Suami ini penganut garis keras sekte Iwan Fals, saya pilih panggung Tohpati. Asumsi saya, Tohpati dan Iwan Fals sama-sama jago main gitar, jadi Pak Suami nggak akan bosan-bosan amat.
Bukan main girangnya saya ketika Pak Suami begitu antusias mengantri. Begitu pintu dibuka, dia pun langsung lari merebut dua kursi paling depan. Jaraknya cuma satu meter dari tempat Tohpati berdiri. Goks!
Nggak lama, Tohpati muncul di panggung. Saya spontan berdiri dan tepuk tangan sekuat tenaga. Pak Suami? Dia pasang hoodie menutup muka, lalu tidur. Beneran tidur!
Saya cuma bengong dan tepok jidat. Musik jazz memang semembosankan itu buat dia. Huft!
Saya pernah punya pacar sesama penggemar musik jazz dan romantis parah. Tetapi kalau waktu bisa diulang kembali, saya tetap nggak akan memilih dia.
Dia nggak suka lihat saya loncat-loncat dan teriak histeris di acara live music. Perempuan menurut dia seharusnya lemah lembut, anggun, pakai rok setiap hari.
Sulit bagi saya membayangkan hidup jadi perempuan anggun dan kalem seperti yang dia inginkan. Bukan gue banget. Mungkin saya akan senang punya teman nonton konser, tetapi saya akan menderita seumur hidup karena nggak bebas jadi diri sendiri. Baru membayangkan setiap hari pakai rok saja sudah payah rasanya.
Lebih baik saya menghabiskan sisa umur dengan jamaah Iwan Fals tetapi selalu mencarikan spot nonton konser terdekat dengan panggung; yang suka lupa jemur handuk basah tetapi selalu berdiri di belakang saya supaya nggak terdorong penonton lain; yang nggak romantis tetapi selalu beliin saya Strepsils ketika suara habis pasca teriak-teriak di konser.
Dan dialah masalah yang saya pilih.
Kalau kamu sedang dekat dengan seseorang dan berencana menikah, pikirkan baik-baik. Bisa nggak kamu hidup dengan sikap sok ngaturnya? Bisa nggak kamu menghadapi sikap tempramennya setiap hari? Kalau waktu masih pacaran aja senyebelin itu, kebayang nggak kamu menghadapi hal yang sama, bahkan lebih parah, setiap hari?
Karena memilih pasangan hidup itu seperti memilih masalah mana yang sanggup kamu hadapi di sisa usiamu.

