Payung Teduh

Masih sama seperti malam sebelumnya, aku yang masih terjaga disaat yang lain sedang menikmati bunga tidurnya, aku yang masih terjaga disaat yang lain terlelap dalam pejamnya.

Aku yang hanya ditemani linting linting tembakau yang kuhisap. Entah mengapa diujung malam selalu dapat kurasakan tenang,tak ada satupun yang menari nari dikepalaku. Namun setiap kucari kamu tetap saja tidak dapat kutemui. Karena memang pada kenyataannya,kamu,entah kamu itu siapa yang nantinya datang dengan membawa cintamu yang begitu besar dan tulus untukku, kamu masih menjadi rahasia Tuhan untukku.

Baiklah, biarkan saja Tuhan yang mengatur jalan kita untuk dapat bertemu. Hingga pada akhirnya, hanya kita berdua saja yang menikmati jalan itu, tanpa ada orang lain yang tiba tiba saja berada dipertengahan jalan kita.

Yang pada akhirnya,entah kau atau aku akan dibuatnya resah.

Sudah kubayangkan betapa indahnya, jika aku dapat berjalan berdua denganmu, menuju senja, menikmati angin pujaan hati.

Untukmu,

Untuk perempuan yang sedang dipelukanku. Jika telah tiba saatnya, aku akan mengakatan kepadamu, bahwa kita adalah sisa sisa keikhlasan yang mengantarkan kita kepada temu dan menyatukan kita.

Membawa kita kepada bahagia kita berdua, dan akan menuntun kita ke dalam akad dibawah payung teduh.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Aden Tio’s story.