Four Stages of Competence

Sebenernya hal ini pernah sedikit dibahas di tulisan ini https://medium.com/@tirta/gaming-stuff-5734b137e330#.lu4d4tazc

Tapi kali ini bakal ngebahas lebih detail dan penerapannya.

“Hierarchy of Competence”

Masuk di tahap pertama yaitu unconscious incompetence. Menurut wikipedia, dalam tahap ini individu tidak mengerti atau tahu bagaimana melakukan suatu hal dan tidak tahu kekurangannya. Mereka menyangkal kegunaan suatu skill. Untuk keluar dari tahap ini, kalian harus bisa menilai diri sendiri alias tahu kekurangan kalian dimana. Kalo menurut tulisan di wikipedia, tahap ini bergantung pada stimulus kita untuk belajar. Tahap ini pasti dirasakan ketika kita ingin mempelajari skill baru. Kita yang tidak tahu apa-apa ataupun tahu dikit akan mencoba suatu hal. Kalo di game first person shooter, dalam tahap ini mereka hanya peduli aim and shoot. Yang penting nembak lah intinya. Kalo di dunia olahraga sih biasanya yang penting ngelakuin tanpa tahu esensinya. Itu juga dari hasil niru atau tutor orang lain.

Tahap kedua yaitu conscious incompetence. Di tahap ini individu masih belum mengerti atau tahu bagaimana suatu hal tetapi dalam tahap ini mereka sudah mengetahui kekurangan serta solusinya. Kalo di game FPS, orang yang merasa aiming nya ga kena-kena akan sadar bahwa ada faktor lain yaitu recoil. Mereka akan ngulik bagaimana recoil mempengaruhi tembakan. Kalo di olahraga, contohnya kenapa saya kalo lari kecapean, ternyata nafas saya tidak teratur.

Tahap ketiga yaitu conscious competence. Pada tahap ini, individu sudah mengerti atau tahu bagaimana melakukan suatu hal. Tetapi untuk melakukan skill tersebut, individu ini harus berkonsentrasi untuk melakukannya. Perlu kesadaran sangat tinggi untuk melakukan skill yang kita mau di tahap ini. Kalo di game FPS atau MOBA biasa nya map awereness. Kita harus konsentrasi untuk mengira-ngira posisi kawan dan teman. Kalo di olahraga kaya lari, kita udah aware ama form kita waktu lari tapi tetep harus konsentrasi buat jaga form.

Tahap keempat yaitu unconscious competence. Seorang individu sudah banyak latihan sehingga skill tertentu sudah menjadi second nature alias kebiasaan. Skill ini juga mudah dilakukan. Hasilnya, ia bisa melakukan suatu skill berbarengan dengan skill lain. Kalo di game, orang-orang ini biasanya udah ga perlu mikir tentang recoil dan map awareness karena udah selalu ada di kepala. Kalo di olahraga kaya lari, orang-orang ini udah ga usah mikirin ritme nafas dan form yang bener waktu lari.

Sebenernya hal-hal ini udah sering dilakuin di berbagai aspek hidup. Pattern-nya selalu sama dan ga mungkin diloncati. Yang berbeda cuma masalah waktu dan kegigihan saja.