Positive Vibes

Kalian masih suka baca koran? Saya kadang masih baca koran. Di rumah orang tua saya masih berlangganan koran Pikiran Rakyat dan Kompas. Terkadang saya baca kalo lagi butuh bahan bacaan. Kalo kalian pernah baca koran, isinya kebanyakan berita-berita yang membawa negative vibes. Hal ini bikin orang jadi skeptis ama keadaan sekitar. Namanya juga koran, kita ga bisa milih content apa saja yang akan ditampilkan.

Kalian pernah pake news aggregator (biasa disebut juga feed aggregator, feed reader, news reader, RSS reader, simply aggregator)? Saya biasanya nyebut ini news reader. News reader ini merupakan suatu perangkat lunak yang ngebantu kita mengumpulkan berita-berita dari beberapa portal menjadi satu. Jadi enaknya pake news reader itu kita cuma mampir ke satu website buat baca berita dari beberapa portal berita. Terus kita juga bisa milih content sesuai dengan topik yang kita suka. Saya sendiri sekarang pake feedly buat newsfeed. Portal apa saya yang saya ikuti? Buat portal bisnis saya mengikuti forbes dan bloomberg. Buat game saya ngikuti steam news, kotaku, polygon, PC gamer, dan GosuGamers. Buat teknologi saya ngikutin gizmodo, lifehacker, dan The Next Web. Saya juga mengikuti beberapa blog travel dan parkour. Kebanyakan berita yang saya baca dari kumpulan portal ini kebanyakan ngasih berita-berita baik daripada masalah(Jelas lebih banyak berita baik karena content nya sudah kita pilih berdasarkan tema yang kita sukai).

Tampilan antar muka feedy. Setiap harinya kurang ebih ada 700 artikel dan hanya ada beberapa saja yang ngasih inspirasi.

Lalu apa hubungan antara berita dan positive vibes? Saya dulu pernah baca/denger suat kalimat yang kurang lebih seperti ini, “Kalo mau bahagia, kita harus dikelilingi orang-orang yang bahagia. Kalo kita dikeliling orang-orang sedih, ga mungkin kan kita bahagia sendirian”. Analogi tersebut berlaku juga untuk hal-hal lainnya. Kalo kita mau dapet ide hebat, kita juga harus dikelilingi orang-orang hebat yang mau diajak tukar pikiran. Jadi sebisa mungkin isi kepala saya diisi dengan hal-hal baik daripada buruk. Dengan hal-hal baik ini jugalah kita menyiapkan diri untuk menyel

Saya juga pernah mengikuti sebuah seminar yang intinya adalah “Solusi dari masalah itu bukan dipikirin sendiri tapi dicari. Cara nyarinya bisa dengan tanya ke orang lain atau dengan menyiapkan diri dengan ilmu yang kita dapat(sekolah, buku, dll.). Diluar sana udah ada orang yang berhasil menyelesaikan masalah. Kita cuma butuh nyari solusinya.”

Saya sangat ingin menjadi orang yang menebarkan positive vibes. Lagian siapa juga yang mau berteman dengan orang-orang yang menyebarkan negative vibes (toxic people). Saya jelas-jelas menghindari orang-orang toxic, karena saya ga mau mood saya hancur. Saya juga ga mau ngerusak mood orang jadi kalo saya lagi moody sebisa mungkin saya ga keluar rumah buat ngerusak mood orang. Saya juga berusaha untuk tidak membagikan segala macam artikel yang tidak menyebarkan negative vibes (Artikel-artikel berbau sara. Saya juga biasanya menghidari artikel berbau agama karena menurut saya masalah ini terlalu sensitif di Indonesia dan ga semua orang siap diajak diskusi baik-baik).

Baca juga artikel bagus ini 10 Toxic People You Should Avoid At All Costs — http://www.forbes.com/sites/travisbradberry/2015/11/10/10-toxic-people-you-should-avoid-at-all-costs/

Diluar itu, terkadang saya juga butuh orang-orang skeptis. Kenapa? Dari pernyataan/pertanyaan mereka saya jadi tahu diluar sana ada masalah yang harus saya selesaikan atau minimal saya bisa beri solusinya(Minimal kalo ada masalah kita bukan jadi bagian dari masalah. Kalo jadi bagian dari solusi malah lebih baik).

“Great minds discuss ideas, average ones discuss events, and small minds discuss people.” — Eleanor Roosevelt

Oh iya satu hal lagi. Information diet juga bagus. Semua teman saya di facebook udah saya unfollow. Kenapa? Semakin saya ga tau masalah orang semakin bahagia saya. Dulu facebook bener-bener toxic karena isinya curhatan orang(Kalo mau curhat, ya sekalian lah kita minum-minum cantik). Sekarang facebook kayanya udah ditinggal sebagai media curhat. Sekarang udah kaya news feed yang isinya campur aduk ga karuan. Toleransi saya ke bigot juga tampaknya ga ada sama sekali. Saya nge-block orang-orang bigot di facebook saya. Too much hatred…

Menjauhi orang-orang toxic bukan berarti saya ga punya empati ataupun simpati terhadap masalah orang lain.

Gambar header diambil dari : https://www.flickr.com/photos/rentalnetworksoftware/12118993974

Like what you read? Give Adrianus Tirta a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.