Thoughts

Di suatu sore yang indah ada yang nanya ke Saya, “Lu mau jadi dosen Tir?”

Ga ada pemikiran sama sekali buat jadi tenaga pengajar. Pengennya jadi professional.

Terus temen saya yang lain dengan percaya diri bilang, “Ga mungkin Tirta jadi pengajar. Dia […]”

2 teman saya tadi berasal dari circle yang berbeda. Circle A, teman-teman dari komunitas Parkour Bandung. Mereka tahu saya karena saya mencoba menjadi bagian dari komunitas itu. Saya mencoba membantu sebisa saya karena komunitas ini sudah memberikan banyak hal ke diri saya. Hanya orang-orang dari circle ini yang mengerti akan hal ini(bisa saja orang lain mengerti). Dari komunitas ini saya belajar bagaimana saya memposisikan diri sebagai coach. Saya harus membagikan apa yang saya tahu ke orang-orang yang mengikuti kelas saya di saat itu. Dari pertanyaan-pertanyaan peserta jugalah yang membuat saya semakin tahu. Diluar dari fisik yang saya dapat dari sesi latihan, disini juga saya belajar public speaking, presentation skill, kepercayaan diri yang didapat karena menguasai materi, bekerja secara team, inisiasi project, dan lainnya yang saya sendiri tidak bisa jelaskan dengan kata-kata. Mungkin dari semua anggota team, skill parkour dan fisik saya bisa dibilang paling jelek tetapi saya punya kelebihan lain di bagian presentasi, menjelaskan hal-hal kecil, dan bagaimana meng-break-down sebuah gerakan agar mudah dipelajari untuk pemula.

Circle B, teman-teman bermain yang hanya tahu saya saat keadaan senang(mostly i meet them to hangout and traveling, nothing else). Mereka hanya tahu apa yang saya lakukan adalah untuk bersenang-senang karena mereka ga tahu proses dan apa yang saya lakukan.

Dipikir-pikir circle-circle ini lucu. Circle B bisa menilai diri saya tanpa tahu apa yang sudah saya lakukan. Circle A lebih banyak tahu saya dalam beberapa hal karena saya lebih banyak share ke mereka.

Bahkan di sesi ngobrol kemarin malam, saya sadar kalo saya lebih banyak diberi insight ketika ngobrol di circle A. Saya juga lebih nyaman cerita ini itu ke circle A.

Hidup terkadang terlalu lucu untuk dibicarakan dan terkadang kita perlu hal kecil supaya ingat suatu hal yang lebih penting.

Kemarin saya sudah mempunyai beberapa rencana setelah lulus S2 saya akan berbuat apa. Dari obrolan kemarin malam tampaknya rencana ini akan semakin bertambah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.