Ketika Namamu Bersanding Gelar

Membaca tulisan

“Secantik apapun seorang wanita, setinggi apapun pendidikan seorang wanita, karir terbaiknya adalah di dalam rumahnya, bayaran termahalnya adalah ridha suaminya, prestasi terbaiknya adalah ketika mampu mencetak anak-anak yang shalih, sehat dan cerdas.”

tulisan lain memperkuat

“Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi lelaki, tetapi untuk membangun generasi.”

Tanpa menyalahkan sepenuhnya pendapat tersebut, ada beberapa hal yang (menurut sya) perlu diperjelas, agar tidak sekedar menjadi pembenaran namun juga melihat realitanya.

Gelar

Bukan hanya deretan huruf tanpa makna

Di salah satu sudut pandang, Gelar adalah pengakuan legal tentang kredibilitas keilmuan seseorang. Rekomendasi bahwa pemiliknya sudah mempelajari bidang tersebut secara terstruktur dan memenuhi standar minimal sehingga pantas disebut berilmu

Sudut pandang lain menunjukkan bahwa Gelar membuka pintu-pintu yang awalnya tertutup. Pintu perusahaan, Pintu menjadi pembicara disuatu seminar misalnya atau mungkin, pintu rumah calon mertua (?) hehe

Godaan

Wanita cerdas dengan pendidikan tinggi beserta rentetan gelarnya, tetaplah wanita dengan dominansi perasaan dalam kebanyakan tindakan. Pendidikan tinggi yang dijalani dengan kepayahan, waktu bertahun-tahun hingga akhirnya mendapat ‘bonus’ gelar bersanding nama harus diakui sebagai sisi yang menambah value seorang wanita. Tapi kitapun tidak bisa mengelak, bahwa gelar adalah godaan yang menggiurkan bukan? Maka tidak heran para wanita ikut berlomba-lomba ‘meningkatkan value’ dengannya.

Pendidikan tinggi

Apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang pendidikan tinggi di zaman ini? Bukankah pendidikan tinggi selalu dikaitkan dengan gelar berderet, universitas mentereng dengan IPK cume laude?

Saat ini, universitas-universitas hanya dijadikan tempat singgah untuk meraih gelar. Maka mengaitkan pendidikan tinggi dan kecerdasan (karenanya) dengan kemampuan seorang wanita dalam pendidikan anak hendaknya perlu dipertimbangkan kembali.

Pendidikan tinggi sebagai bekal muslimah dalam mendidik anak bukanlah ushul-nya, hanya sebatas asumsi. Yang menjadi pokok adalah bagaimana ia mau untuk terus belajar dan berbekal. Tidak melulu soal universitas maupun IPK, tapi tentang apa yang ia pelajari, dengan siapa ia belajar dan bagaimana ia mengambil manfaat dari ilmunya untuk diterapkan kemudian.

Ujian

Maka, ketika namamu (wahai para wanita) bersanding gelar, maka sadarilah bahwa itu ujian yang berat. Saat kecantikan, kecerdasan dan pendidikan yang tinggi tidak diniatkan sebagai sebab mendekatkan diri kepada Allah, maka akan menjadi bumerang bagi wanita. Bahkan yang telah mengukuhkan niat sejak awal, godaan itu akan terus datang sebagai ujian atas tekadnya.

Godaan dari keluarga untuk mengambil bagian dari pekerjaan (walaupun tidak terlarang secara mutlak)

Godaan dari masyarakat atas sebuah pencapaian yang seakan ‘tidak berbuah’ dan ‘sia-sia’

Godaan dari diri sendiri, saat gelar bertambah, psikologi pun berubah. Sementara di saat yang sama ada kewibawaan suami yang harus dijaga.

Seorang Ustadz memberikan faidah (secara makna), “Termasuk faidah disyariatkannya wanita lebih banyak di rumah dan laki-laki yang mencari nafkah adalah agar wanita merasa butuh kepada suaminya, dan dari sanalah kewibawaan suami sebagai pemimpin terjaga. Sedangkan saat wanita keluar dari rumah, untuk bekerja padahal suaminya mampu memenuhi kebutuhannya, maka wibawa suami sebagai pemimpin akan turun.

Betapa sering kita mendengar wanita meminta cerai kepada suaminya dengan alasan kebutuhan belum terpenuhi dan ia merasa bisa menghidupi diri sendiri tanpa suami. Salah satu penyebabnya? Gelar.. ia merasa mampu. Mendapatkan pekerjaan yang lebih layak atau suami yang lebih mapan dengan ’value’ dibalik gelar.

Tanpa menafikan

Tentu saja, tidak selalu begitu keadaanya. Kita mendapati banyak wanita berpendidikan tinggi dengan gelar mentereng yang rendah hati dan tau kodrat diri. Mereka berkarya dan bermanfaat, namun kecerdasannya berbekas baik pada anak-anaknya. Pun pada banyak keadaan, wanita-wanita bergelar ini sangat dibutuhkan. Bukan gelarnya, tapi ilmunya. Para obgyn wanita (yang mereka harus belajar dan mengabdi hingga 10 tahun untuk dapat diakui dan legal berpraktek), para guru untuk wanita dan anak-anak, para dokter, perawat, akuntan, dll. Betapa banyak manfaat yang mereka berikan dengan ilmunya sehingga dimudahkanlah urusan banyak orang, khususnya sesama kaum wanita. Tanpa menafikan semua kebaikan itu, hendaknya wanita tetap melihat kepada dirinya. Apakah berpendidikan tinggi menjadi jalan pilihan membangun generasi?

Buah Ilmu

Buah ilmu adalah Amal

Amal yang selamat dilandasi dengan ikhlas

Ikhlas tidaklah diterima kecuali dengan mengikuti syari’at (ittiba’)

Maka, bukanlah buah dari ilmu apabila kita pertentangkan ilmu dengan syariat yang Allah tetapkan

Karena menulis adalah menasehati diri sendiri