Rekam Jejak #5 — Personal Branding

Titin Alfiani
Nov 2 · 3 min read

Jumat, 01 November 2019 pukul 19.30 WIB, kak Umar Al Faruqi berhasil membuatku terbuka mata untuk menyimak materi yang beliau sampaikan.

Personal Brand

Kak Umar memulai dengan Unique Self Introduction ala Kak Umar yang menjadi salah satu “how to DISCOVER his personal brand?”

Pelajar, pengajar, dan pembelajar.

Unik sekali bukan? Kata-kata yang melekat pada diri beliau sangat menginspirasiku.

Brand — Branding — Personal branding

Apasih brand itu? — brand merupakan sebuah identitas yang sangat memerhatikan stickyness factor yaitu seberapa melekat identitas tersebut di mata orang lain.

Semua orang pasti setuju kalau mendengar kata air mineral yang terpikir pertamakali adalah aqua.

Itulah poin kemenangan aqua pada brand air mineral.

Dan contoh-contoh brand lainnya yang terkenal.

“Your brand is what people say about you when you are not in the room” — Jeff Bezos

Kutipan yang membuatku terenung sejenak dan berpikir “Apa ya yang dipikirkan oleh orang lain tentangku saat aku tidak ada disana?”

Kaos kaki beda warna sepertinya sedang hits melekat padaku akhir-akhir ini karena kekeosan yang membuatku lupa untuk memerhatikan kaos kaki wgwgwg

“If you are not a brand, you are commodity” — Robert Kiyosaki

Aku setuju dengan kalimat diatas, memang benar kalau kita tidak punya brand ya akan menjadi komoditas saja staff biasa saja. Mungkin lebih tepatnya tidak terlalu dikenal ciri khasnya oleh orang lain.

Lantas bagaimana cara mengetahui personal brand kita?

Kita bisa memakai Ask Internal/External Question dan menentukan poin-poin apa saja sih yang beririsan. Bisa jadi poin tersebut adalah personal brand yang sudah ada pada diri kita.

Tegas, totalitas, berkemauan keras, keras kepala, nge-gas, emosional, impulsif adalah jawaban dari how i see myself sedangkan partnerku ulya melihatku sebagai orang yang strong, bisa mengkomunikasikan apa yang dipikirkan dengan baik, berprinsip, nge-gas, dan anak sekper. Hahaha ternyata benar nge-gas sudah jadi brandku sejauh ini.

How to communicate our brand?

—untuk memulainya hal pertama yang harus diperhatikan adalah self attributes.

Traits, works, values, skills, goals menjadi bagian utama dari self attributes

Poin-poin yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa mengkomunikasikan brand nya.

Lalu, bagaimana sih brand yang baik itu?

— ARCC mungkin bisa jadi salah satu alternatif membangun brand yang baik

  • Authentic : keaslian brand yang ingin dibangun
  • Relevant : harus relevant di masyarakat, bisa diterima dan membawa nilai-nilai yang baik
  • Consistent : terus diulang-ulang
  • Commitment : terus berusaha menjadi yang terbaik di brand itu

How to communicate our personal brand?

  • Strengthen our user selling point : memperkuat pengaruh “apa sih yang bisa saya tunjukkan ke orang lain dari apapun yang saya punya?”. Masing-masing orang pasti punya jawabannya sendiri. Dan memperkuat jawaban itu adalah salah satu trik brand communication.
  • Focus on two or three keywords : contohnya bisa hanya fokus pada dunia pendidikan, human resource, dan pengajaran
  • Craft brand statement
  • Practice elevator pitch : bagaimana cara berkomunikasi dalam waktu singkat untuk mengefisienkan waktu
  • Communicate with passion : tentu saja semua yang melekat harus sesuai dengan passion kita. Kita cocok dimana dan tidak cocoknya dimana. Itu akan sangat membantu.

How to INSPIRE other using our own colour?

— sejatinya setiap insan sudah memiliki warnanya masing-masing. Yang belum terbangun dan belum tau adalah tebal tipis dari warna tersebut. Apakah dengan warna yang sudah dimiliki mampu mengangkat citra diri sendiri atau tidak.

Mengkomunikasikan hal yang menginspirasi.

Jadi sebenarnya bukan brand yang menjadi pesan untuk kita sampaikan. Brand hanyalah pembungkus kado sedangkan hal yang menginspirasi itulah isi kado tersebut.

Lantas, bagaimana sih cara sebenarnya untuk mengkomunikasikan brand kita?

— V3

  • Verbal (7%) : bagaimana kata-kata menjadi pamungkas untuk menyampaikan pesan ke orang lain
  • Vocal (38%) : bagaimana intonasi, ritme, tempo berbicara dapat menjadikan kita powerful speaker dan menarik orang lain.
  • Visual (55%) : bagaimana gestur, kontak mata, gerak-gerik yang kita lakukan mampu menarik perhatian orang lain dan dapat men-ciri-kan kekhasan kita.

Semua hal diatas harus di COMPARE dengan baik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah

Ethos — bagaimana kita menunjukkan credibility yang kita miliki

Pathos — bagaimana kita mampu membawa emosi dalam segala hal yang kita komunikasikan

Logos — bagaimana logika dapat mendukung apa-apa yang kita gunakan untuk membangun brand

Intinya adalah bagaimana cara supaya kita memiliki brand sendiri dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik. Menemukan warna yang kuat dari diri sendiri merupakan hal yang menarik bukan? Lalu, warna yang kita punya bisa menginspirasi dan bermanfaat orang lain. Ahhh benar kata kak Umar kalau investasi kepada manusia itu bersifat seterusnya.

#DiseminasiKhususAMI2020

#AkuMasukITB2020

#AMI100TahunITB

#MenjelajahiNegeriBersamaAMI

    Titin Alfiani

    Written by

    masih harus banyak belajar

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade