tobasatu.com, Medan | Saat ini materi atau ilmu yang didapatkan para mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT) kerap berbeda dengan yang dibutuhkan oleh industry di lapangan. Oleh karenanya USAID HELM (USAID Higher Education Leadership and Management) menjembatani celah (gap) yang terjadi ini melalui forum diskusi antara Perguruan Tinggi di Wilayah Barat Indonesia.

Forum diskusi diselenggarakan selama 2 hari yakni pada Rabu-Kamis (27–28/4/2016) bertempat di Hotel Swissbel Medan.

Hari pertama forum diskusi membahas peluang Program Magang (Internship) yang dipaparkan oleh Didiek Hari Nugroho dari Poltek Aceh, Dr. Refinaldon dari Universitas Andalas Padang, dan Dr. Muhtadi dari Universitas Muhammadiyah Solo, Kamis (28/4/2016).

Masing-masing menceritakan mengenai kisah sukses program magang dari setiap perguruan tinggi tersebut. Contohnya di Universitas Andalas mempunyai fasilitas untuk UKM Center, dimana para mahasiswa dapat magang dan mempraktekkan ilmu yang didapatkan di fakultas masing-masing yang menciptakan job creator dengan Gerakan Seribu Pengusaha sejak tahun 2007. Selanjutnya dibentuk kelompok kerja untuk Divisi Riset, Divisi Pelayanan Masyakat, Divisi Publikasi dan Forum Ilmiah dan divisi Komersil dan Inovasi.

Pada hari kedua Forum membahas mengenai Pengembangan Kurikulum (DACUM atau Developing Curriculum) terutama celah antara Kurikulum Pendidikan Tinggi dengan Kebutuhan Industri oleh Didiek Hari Nugroho, MT.

Panelis lokakarya membahas mengenai penulisan proposal riset, penulisan proposal untuk kelompok masyarakat, membuat jurnal COIN (Collaboration and Innovation Network), dan penulisan buku pedoman inovasi. Acara ini dimoderatori oleh Prof. Dr. Armin Arsyad, M.Si dari Universitas Hasanuddin Makassar.

Dikdik mengakui bahwa dalam beberapa hal informasi yang berada di lapangan jauh meninggalkan ilmu yang didapatkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Pada beberapa perusahaan malah mahasiswa magang terkadang dianggap mengganggu kerja perusahaan terutama pada perusahaan yang menggunakan tekhnlogi tinggi.

“Tetapi sebaliknya beberapa perusahaan sangat terbantu denagn adanya para peserta magang ini terutama yang membutuhkan banyak tenaga kerja,” tutur Didiek.

Oleh karena itu, kata Didiek, dalam DACUM ini perlunya penyesuaian pada kedalaman kurikulum Perguruan Tinggi agar mahasiswa dapat memenuhi kompetensi yang dibutuhkan, dan juga bagaimana aplikasi dari pendidikan yang didapatkan di kampus dapat diterapkan di tempat kerja.

USAID-HELM berkewajiban memastikan bahwa kerjasama antara peguruan tinggi ini akan terus berlanjut dan membudayakan kerjasama diantara mereka dengan para pemangku kepentingan. (ts-09)

The post Atasi Ketimpangan, Perguruan Tinggi Perlu Penyesuaian Kurikulum appeared first on tobasatu.com.

via tobasatu.com http://ift.tt/1Uj2arY