Jujur Sejujur-Jujurnya yang Kami Rindukan Emas Sepak Bola

Indonesia dan segala isinya wajib berbangga. Asian Games 2018 ditutup dengan catatan manis. Indonesia sebagai tuan rumah dinilai sukses sebagai penyelenggara dan prestasi, itu sudah pasti. Indonesia di luar dugaan meraih 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu. Total 98 medali menjadikan Indonesia sebagai negara di Asia Tenggara sebagai peraup medali terbanyak selama AG.
Prestasi-prestasi lainnya pun mengiringi Indonesia selama perhelatan pesta olahraga terbesar se-Asia itu. Posisi 4 besar berhasil dikunci Merah-Putih di bawah China, Jepang dan Korea Selatan. Sungguh prestasi luar biasa.
Udah cukup? Tentunya belum. Sejumlah cabor seperti taekwondo, angkat besi, sepak takraw sukses memberi emas kali pertama bagi Indonesia selama Asian Games digelar. Panahan juga tak ketinggalan memberi medali pertama kalinya bagi Indonesia diiikuti perak atletik yang sudah hampir 50 tahun tidak didapat. Apalagi namanya kalau bukan luar biasa?
Catatan-catatan tersebut jauh meningkat dari pencapaian tahun 1962 saat Indonesia menjadi tuan rumah pertama kalinya. Kala itu, Indonesia meriah 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Bandingkan sama torehan kita tahun ini. Kata ‘Kita’ sengaja kusisip, karena memang siapa kita kalau bukan Indonesia.
Cabor pencak silat tentu menjadi primadona dengan 14 emas dan 1 perunggu. Angkat dua jempol buat para pendekar Indonesia yang telah menyumbang 40 persen lebih emas bagi kontingen.
Puas? Kalau aku belum. Kebanggaan itu belum lengkap karena prestasi sepak bola Kita masih jauh panggang dari api. Indonesia tumbang di 16 besar dari UAE. Kita kalah, bahkan di rumah sendiri. Padahal ini peluang terbesar saat AG digelar di Indonesia. Komposisi skuat Luis Milla pun kelas satu semua. Jangan lupa, Luis Milla, pelatih bergaji 2 miliar menjadi nahkoda. Tapi gagal juga.
Sudah sepuluh kali Timnas Indonsia bermain di AG sejak 1951 (1951, 1954, 1958, 1962, 1966, 1970, 1986, 2006, dan 2014). Prestasi terbaik hanya perunggu saat AG 1958 di Tokyo. Iya, 60 tahun lalu.
Mimpi jutaan bangsa Indonesia untuk Timnas sepak bola meraih medali di AG kali ini, harus kembali terkubur dalam-dalam. Emas masih jauh dari perburuan. Jujur, bila boleh jujur, 31 emas yang didapat tahun ini tidak berarti banyak karena sepak bola tak ikut di dalamnya.
Pengakuan ini memang disengaja dituangkan karena masalah rindu takkan pernah palsu. Sebab Jujur sejujur jujurnya, aku bahkan kita sudah rindu melihat Timnas sepak bola juara.
Christopel Naibaho
ditulis dari ruang kerjanya
