Tinta

Permanenkah?

Katanya, bila piring terjatuh dan pecah, ketika direkatkan kembali, rupanya tak ‘kan sama seperti semula.

Katanya, bila kita berkhianat sekali saja, kedepannya orang lain akan sulit untuk berbagi kepercayaan.

Katanya, sekali saja hati kita tercemar oleh hitam (perilaku jahat), maka tak ada lagi kata suci.

Lalu, bagaimana dengan diri ini yang terlanjur berlumuran tinta?

Akhir-akhir ini pikiranku diselimuti ketakutan.

Takut bilamana tanpa kusadari ketika bangkit dari tidur dan membuka mata, yang kulihat bukanlah ruang kamarku,

melainkan lautan api panas.

Iya, neraka, tempat orang-orang yang penuh dosa, kan? Siapa yang tau kalau besok bahkan hari ini ajalku tiba?


Aku sadar betul dibalik tampang polos dan gadis-baik-baik-ku ini, ada catatan perilaku jahat yang menggunung.

Aku tulis jahat, karena bila diungkapan secara terang-terangan kau pun juga akan memikirkan kata yang sama.

Saking banyaknya amalan burukku, aku bingung harus melakukan apa untuk menebus semua itu.

Memohon maaf?

Oh, gengsiku tinggi sekali!

Payah. Aku sungguh payah. Sebulan lagi genap berkepala dua, mentalku masih saja seperti anak kecil.

Kadang aku juga takut untuk berkata maaf. Entah sejak kapan otakku ini enggan sekali menerima kata tidak, sehingga aku menolak berbagai penolakan, juga ungkapan negatif lainnya.

Aku takut bila orang yang kutuju tidak akan memaafkanku. Aku takut bila itu terjadi dia akan menganggapku orang yang sejahat itu.

Padahal dengan tidak meminta maaf aku malah menjadi semakin jahat.


Duh.

Siapapun tolong aku.

Apa yang harus aku perbuat?

Apa? Minta tolong kepada Allah?

Sudah pasti! Aku tahu itu!

Tapi sekarang pun, aku sudah berani sekali meninggalkan salat subuh berhari-hari, padahal sudah dibangunkan Mama lewat telepon.

Telepon, lho, pake pulsa, bukan WhatsApp Voice Call yang tak berbayar.


Apa ndak tambah berdosa aku ini?

Berbuat jahat iya,

minta maaf ngga.

Lalai kewajiban terus berulang,

mohon ampunan-Nya pun jarang.


Kalau dideskripsikan, sekujur tubuhku ini hampir hitam. Hanya tersisa dot-dot putih pertanda setidaknya aku masih punya hati nurani.

Ah, tunggu.

Apa iya hati nurani?

Yah, pokoknya, bukan karena ngesok, tapi aku pikir merasa ketakutan begini juga artinya Allah masih sayang, menyuruhku untuk awas.

Sekarang, yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya untuk menghapus tinta hitam ini. Aku nggak tau dosaku ini digores dengan permanent marker atau tidak…

Tapi, apa benar ada dosa yang sama sekali tidak bisa dimaafkan?

Duh.

Pokoknya, sebanyak apapun dosaku ini, aku harus cepat-cepat mandi.

Basuh sekuat-kuatnya agar tak ada jejak.

Eh, tunggu sebentar, balik lagi.

Harus bagaimana aku mandi?
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tiara Pakeeza’s story.