Nostalgia.

Tentang kenangan di kota ini.
9 tahun yang lalu, saya menjadi anak rantauan untuk pertama kalinya. Keluar dari rumah, keluar dari zona nyaman. Dulu, Ambon terasa begitu jauh dari rumah. Dan terasa lebih asing. Satu hal yang paling mencolok adalah di kota ini saya harus belajar hidup rukun antar umat beragama, belajar toleransi. Sementara sepanjang hidup saya (kala itu) saya tidak pernah samasekali menemui hal itu sebelumnya (saya berasal dari daerah dengan mayoritas ah bukan, seluruh warganya memiliki 1 agama). That’s the beauty of this city.
Singkat cerita, 3 tahun berlalu dan saatnya merantau lagi. Berhubung saya tinggal di asrama, saya tidak terlalu mengenal dan mendalami seluk beluk kota ini. Bahkan rute angkutan kota yang dihafal hanya sebatas asrama dan rumah keluarga saya. Yang paling berkesan? Hanya cerita cinta anak remaja baru gede. Not to mention the whole life story in my school (itu beda cerita).
Dan kini setelah 6 tahun beranjak dari Ambon, saya kembali lagi. Namun kini kota ini bukan lagi rumah bagi saya, hanya tempat singgah. Selagi saya singgah sedapat mungkin menikmati kenangan yang tersisa di kota ini. Selain fakta bahwa kota ini semakin maju, padat dan macet, kota ini kembali menjadi sedikit asing bagi saya. Namun rasa rindu terpenuhi, dengan rasa asing menyisip diantaranya..
Kota ini kembali membangkitkan kenangan masa lalu yang bersamaan terasa pahit dan manis.
