MALANG-SIDOARJO (part2)

memasuki perbatasan Jawa Timur

Si Bapak terus-terusan menggeleng, lalu pergi begitu saja. Terbaca jelas di matanya kalau Si Bapak itu ketakutan. Kok bisa ketakutan?! Hmm,,, mungkin ini karena stigma buruk anak touring atau anak motor yang suka berkendara seenaknya tanpa memperhatikan pengendara lain. Memang sih masih banyak ditemui rombongan touring satu komunitas tertentu yang mengganggu hak-hak pengendara lain kayak misalnya mbleyer-mbleyer, memakan jalur pengendara lain, dan menghentikan laju kendaraan saat lampu hijau demi agar rombongannya bias lewat. Seolah-olah polisi aja. Yah, itulah satu alasan kenapa kami lebih suka ber-solo touring daripada ikut komunitas. Sebenarnya cukup banyak tawaran ikut bergabung di komunitas seperti KOMBO atau YVCI, tapi Mamas bukan tipe yang suka kumpul-kumpul atau kopdar, jadi kami secara halus menolak tawaran-tawaran itu.

Oke, kembali ke perjalanan kami. Tak lama kami disambut oleh pagar-pagar bercat hijau. Eh, kawasan apa sih ini? Oow,, rupanya kawasan Ponpes Gontor Putri 3. Baru tahu jugak aku nii, kudet yah? Hehe.. Mari berfoto dulu.

Di seberang Ponpes Gontor Putri 3

Melewati Ponpes Gontor, kami disuguhi pemandangan hutan pohon jati kering. JATI KERING?! Yup, sangat kering dan panas hingga aku dan Mamas berfikir kalau-kalau ada angin kencang dan ranting-ranting saling bergesekan maka akan terjadi kebakaran, saking keringnya hutan itu. Kawasan hutan jati itu bernama Jatisari, Kabupaten Ngawi. Kalau saja saat itu pohon-pohonnya hijau, pasti sejuk dan cocok banget untuk berfoto ria. Tapi maaf ya, kami tidak sempat berfoto karena jalur tersebut penuh dengan mobil pribadi dan bus pariwisata yang lajunya ngga kira-kira. Yah, wajar ‘sih karena itu memang jalur cepat dan main road kalau mau lintas Jatim.

bye Ngawi, welcome Madiun

Jalur hutan itu tidak terlalu panjang, kira-kira 45 menit untuk sampai ujung hutan jati. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Mamas menyarankan untuk meneruskan perjalanan sambil cari makan semacam warung super sambel (SS) kalau di Jogja. Supaya tetap harga pelajar bukan pelancong. Tetooot,,, satu jam berlalu sampai akhirnya kami tiba di Caruban, Madiun dan tetap saja belum bertemu dengan warung makan incaran kami. Haiih,, perutku sudah lapar sekali dan kakiku pun mulai kesemutan.

“Dek, ada ayam bakar tu, mau disitu aja po ma’em nya?” Tanya Mamas. “Ya ya ayok” sahutku bersemangat. Akhirnya makaan!! Kami makan di suatu warung tepat di depan kantor KUA kota Caruban, desa Purworejo. Hehe, jauh-jauh kami sampai Caruban, eh ketemunya Purworejo juga. Lupa ngga foto warungnya ataupun makanannya, yang ada di pikiran kami hanya makan dan selonjor.. ahh.. Alhamdulillah. Ayamnya enak, sambelnya pun pas. Apapun kalau lapar emang jadi nikmat yah hehe, tapi asli emang enak masakannya. Kami makan ditemani seekor kucing cantik yang setia menunggu pemberian suwiran-suwiran ayam.

Masuk wilayah kabupaten Nganjuk

Kira-kira pukul satu siang kami mulai kembali on track. Tak butuh waktu lama, kami masuk ke wilayah Kabupaten Nganjuk. Kalau kalian pernah tahu ada lagu dungdat Alun-Alun Nganjuk? Ahh,, pasti ngga tau. Kami sempat melipir untuk tahu seperti apa alun-alun Nganjuk. Hehe, di luar ekspektasi kami. Selalu membayangkan kalau alun-alun tuh kayak alun-alun utara-nya Jogja, tapi ternyata alun-alun Nganjuk jauuh.. lebih kecil.

Coba dengerin lagu dangdut judulnya Alun-alun Nganjuk

Mari lanjutkan perjalanan karena baru setengah rute yang kami lalui. Jam di tangan menunjukkan pukul 2 siang saat kami memasuki wilayah Kertosono. Ketika itu aku membaca Waze dan jalur yang ditunjukkan justru masuk melalui jalur yang sungguh sangat sepi. Kanan kiri hanya ada hutan kecil dan dinding-dinding pabrik. Tak banyak kendaraan yang lewat dan lebar jalan hanya bisa dilalui mobil satu arah. Hmm,,, perasaan ngga enak mulai timbul. Oke, putar arah aja kembali ke jalur jalan utama.

Di jalan utama, kami dihadapkan dengan persimpangan arah Jombang, kembali ke arah Kota Nganjuk, dan arah Kediri. Satu kata yang bisa menggambarkan saat itu, BINGUNG. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada pak polisi (untungnya pas ada pak polisi karena jalanan lagi super padet siang itu). Gini percakapan dengan Si Pak Pol:

Mamas : Permisi, Pak. Mau Tanya arah ke Batu, Malang tercepat lewat mana ya?

Pak Polisi : Loh, mas nya muter jauh ini mas kalo lewat sini ( -_____- ‘) iya pak, kita juga dari tadi tau kalo ini salah rute

Mamas : Iya e pak, kami salah ambil rute. Jadi kalau dari sini tercepat lewat mana ya?

Pak Polisi : Lha mas nya itu dari mana dan mau apa ke Batu ? hissh,, si Bapak ini malah kepo pulak

Mamas : Kami dari Jogja mau main aja ke Batu, Pak. Jadi lewat mana nih pak? Mamas mulai ngga sabar nih

Pak Polisi: Hoalah,, jauh banget mas dari Jogja ke Malang pake motor,, Salut saya

Si Mamas : Iya pak (-_______-”) wkwkw, sabar mas, si Bapak ini malah ngga menjawab pertanyaan

Pak Polisi : Oh gini aja mas, ini kan kalo lurus ke arah Jombang. Kalo lewat Jombang nanti mas nya muter jauh, jadi lewat Pare, Kediri saja. Penjelasan selanjutnya ngga tak dengerin wkwk. Gitu mas. Semoga selamat sampai tujuan ya mas, hati-hati karna nanti jalur masuk ke Batu berkelok.

Si Mamas : Ya, Pak. Trimakasih atas bantuannya Pak. Akhirnyaaa……

Dan kami pun mulai perjalanan menyusuri jalanan Kediri. Dua kali kami salah jalan karena sinyal timbul tenggelam jadi Waze pun tak dapat diandalkan. Setelah melewati kampung Inggris, Pare, kami break sebentar di salah satu masjid besar. Ahh, mungkin kami beberapa kali nyasar karena butuh istirahat dan sholat. Pukul 4 sore kami melanjutkan perjalanan kembali.


Udara mulai terasa dingin ketika jalanan mulai menanjak dan berkelok. Kanan kiri kami disambut oleh deretan perkebunan macam-macam. Yup, kami memasuki wilayah Batu, Malang. Tepat pukul 5 sore kami masuk di gapura Batu. hehe

Gapura Kota Batu

Abaikan muka lelah saya yah. Itu lelah bercampur dingin karena bawa jaket hanya yang kupakai aja dan itu tidak cukup menahan dinginnya kota Batu memasuki malam hari. Dari gapura itu, butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke Kota. Brrr, duingin nyaa…. Sampai di kota langsung kami cari makan. Sembari makan, kami searching hotel terdekat dari lokasi kami makan dan dari Jatim Park 2 agar esok pagi tidak perlu jauh-jauh ke Jatim Park.

to be continued….