Menganti di Hati (122km/3jam)

travelin98areng
Sep 5, 2018 · 7 min read

Ini yang dinamakan traveling dadakan. Baru direncanakan satu hari sebelumnya. Malam sebelumnya pun kita ngga tidur awal, justru lembur editing skripsi yang mau di jilid pagi sebelum berangkat. Alhasil, kita baru bisa mengumpulkan nyawa jam setengah 8 pagi. Langsung gas ke pen-jilid-an di daerah Jln. Kaliurang km 4. You know what, penjilidannya ada di utara Jogja, padahal kita mau lewat jalur pantai selatan. Oke, gapapa,di-niat-i short escape keluar Jogja jadi kudu bakoh muter-muter dulu.

Kelar dari penjilidan jam 9.30. Perut kelaparan, akhirnya melipir ke warung nasi rames sebrang kantor polsek Jogja. Setelah makan, Waze kita on-kan untuk tahu jalur mana yang akan dilewati. Kita menderu gas menuju Menganti kira-kira pukul 11 siang.

Waze selalu jadi GPS andalan selain Gmaps

Sampai di patung kuda jln. Wates, si mas tanya “­ke kiri atau lurus?” dan aku pun menjawab sesuai waze “di waze ‘sih lurus mas, gimana?” “Yaudah lurus aja manut waze, tapi kalo belok kiri ‘kan masuk jalur Daendeles”. Mulailah itu keraguan melanda. Namun akhirnya kita memutuskan untuk mengikuti waze. Daan… kebablasan. Ada jalur masuk sebelah kiri jalan sebelum gapura perbatasan Jogja — Jateng yang ditutup dan hanya bisa di lewati motor. Harusnya kita berbelok masuk jalur Daendeles di situ, tapi malah bablas melewati gapura perbatasan Jateng dan harus balik cukup jauh, hehe. Maapin eneng karna salah baca map ya mas.

Jadi, kenapa jalan ditutup? Karena di beberapa bagian jalur Daendeles masih ada perbaikan dan juga digunakan untuk membuat terobosan jalur menuju bandara NYIA (ngga sabar juga pingin liat bandara baru kayak apa jadinya). Memasuki jalur Daendeles, kami disambut oleh serombongan pemotor ber-plat D dengan atribut safety yang lengkap, ada beberapa moge, ada pula motor ber-box. Ngga jelas komunitas apa, tapi pasti mau pulang ke Bandung (karna plat D itu Bandung). Sengaja nututi dari belakang, kita berhenti di lampu merah yang sama. Umumnya, rombongan bikers kalau berhenti bareng di lampu merah pasti nyapa, say hi gitu sambil nanya-nanya dari mana mau kemana. Lah, ini malah kita ngga disapa. Mereka saling ngobrol seakan-akan kita ini ngga ada, padahal jelas-jelas kita nyempil di antara mereka. Tolong jangan ditiru yaa. Setahu aku, mau jenis motor apapun, mau dari komunitas mana pun, kalau di jalan dan kebetulan berhenti bareng, maka sesama bikers akan saling menyapa. Itung-itung menjalin silaturahmi ‘kan.

Jalur Daendeles seperti tak berujung

Oke, lanjut. Lewat jalur daendeles itu rasanya kayak jalur lurus tak berujung. Enak sih jalurnya, tapi kalau malam pasti sepi, penerangan pun hanya dari lampu rumah-rumah. Mungkin pemerintah bisa menambahi lampu jalan, rest area, dan SPBU, karena kami juga sempat kesulitan untuk mengisi bensin dan terpaksa harus mebeli di mini pom dengan harga yang cukup berselisih dengan harga asli di pom.


Jalur daendeles habis dengan arah kiri Cilacap dan arah kanan Kebumen kota. Untuk ke pantai Menganti, silakan ambil jalur kiri arah Cilacap. So sorry kita lupa ngga foto penunjuk arahnya >.<

Sempatkan foto meski ngga mampir ke obwis-nya

Nah, setelah dari obwis Pantai Suwuk ini, kalian akan disuguhi jalur yang berkelok, menanjak, dan sempit. Bisa dibilang bus pariwisata hanya akan mampu sampai ke pantai Suwuk, satu spot pantai sebelum sampai Menganti. Dari pantai Suwuk ke pantai Menganti masih harus menempuh kira-kira 30 menit perjalanan. Kalau dari ujung jalur daendeles tadi, masih sekitar satu jam untuk sampai ke Pantai Menganti.

Tiket masuk Pantai Menganti

Masuk ke pantai Menganti hanya membayar 12.500 per orang. Itu sudah termasuk bayar parkir dan sepuasnya meng-eksplore Menganti. Dari gerbang masuk, kira-kira 10 menit menuju pantai dan akan disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Subhanallaah…

Pemandangan dari perbukitan sebelum Pantai Menganti

Ekstra hati-hati yaa, karena jalur mulai menurun tajam dengan kanan-kiri tebing dan aspal sedikit berpasir. Langsung disambut deburan ombak, kita parkir motor di depan jejeran warung-warung makan. Padahal pantai Menganti yang sebenarnya masih di atas. Tapi jika ingin dapat foto yang bagus tanpa bocor, pilih pantai yang bawah yang dekat dengan warung-warung.

touchdown Pantai Menganti

Hi, Menganti ! Rasanya terkena hembusan angin pantai itu spesial. Kaki buru-buru mencelup ke air laut yang dingin meski saat itu tepat pukul 2 siang. Matahari sungguh menyengat tanpa ampun. Aku dan si mas memilih untuk tidak melepas jaket karena bisa menahan terpaan angin dan sengatan si matahari. Kontur pantainya berkarang, jadi cukup nyaman untuk berfoto ria tanpa terganggu ombak yang deras. Ada bagian pantai yang landai tanpa karang, tapi sayangnya penuh dengan kapal nelayan, jadi menurut kita kurang nyaman untuk berfoto atau mandi-mandi.

Ritual celup kaki dulu setiap ke pantai
Si mas dengan gaya cool-nya
It’s a must to take a wefie

Puas foto sampai muka merah semua, kita pun istirahat di salah satu warung memesan es kelapa muda dan teh hangat. Why? Karena kalau habis panas langsung minum es nanti suhu tubuh langsung turun drastis dan berakibat pusing atau migrain. Harga satu butir kelapa muda utuh dibanderol sepuluh ribu dan teh hangat empat ribu saja. Si mas iseng bertanya ke penjual warung, “Mas, kalo kita ngambil kerang di sini dan dibawa pulang untuk hiasan akuarium boleh ngga ya?” Hahahh, iya memang aku ingin menghias akuarium dengan beberapa kerang cantik. Dan untungnya boleh, menurut si mas penjual warung yaa, hehe.

Sibuk pilih-pilih kerang, waktu tak terasa mulai sore. Kita pun berpindah spot ke pantai Menganti yang atas. Nah, inilah spot pantai Menganti yang sebenarnya. Sudah ada banyak wahana seperti sepeda gantung, gubug-gubug untuk bersantai, warung-warung penjual topi dan baju-baju pantai, serta gardu pandang untuk berfoto. Fasilitas di sini terbilang memadai. Ada banyak pilihan tempat yang sudah tersedia untuk berfoto ria seperti tulisan-tulisan dan bentuk-bentuk love. Karena kita anti mainstream, kita berfoto ditulisan pantai Menganti saja, untuk bukti pernah berkunjung. Ada pula spot foto di mercusuar pantai Menganti, namun sayang sudah terbengkalai dan rumput terlalu tinggi disekelilingnya jadi aku cukup berfoto di depannya saja.

Kami pernah sampai Menganti lhoo..
Banya pilihan spot untuk dinikmati
He always took a candid of me
Sayang sekali padahal foto-able banget mercusuarnya

Lucunya, di setiap gubung ada tulisan harga sewa per gubug sepuluh ribu rupiah. Gimana yah sistemnya? Apa bayar dulu terus duduk-duduk di gubug sepuasnya gitu? Kita sih memilih untuk jalan-jalan karena nanti juga duduk lama di motor, hehe. Menunjukkan pukul 4 sore, kita solat jama’ dhuhur dan ashar di satu mushola yang tersedia. Unik, air wudhunya sama sekali tidak terasa asin, justru tawar seperti air biasa, padahal tepat di pinggir pantai. Setelah sholat, kami segera bertolak kembali ke Jogja.


Sengaja tidak memilih jalur daendeles karena dapat dipastikan akan melaluinya malam hari. Kita memutar lewat jalur Kebumen kota-Purworejo-Jogja. Jadi di ujung jalur daendeles tadi, kita tidak masuk ambil kanan, justru lurus arah Kebumen kota.

Kejutan di tengah-tengah perjalanan, kita lewat di satu kampung yang akan mengadakan acara wayangan. Ada banyak penjual makanan disana. Mata elangku melihat ada penjual serabi tradisional. Masih menggunakan cetakan dari tanah liat yang dibakar di atas bara api. Melipirlah kita untuk membeli 4 potong serabi kelapa. Enak cuyy, ditunjang rasa lapar (karna kita sama sekali ngga jajan makanan di pantai), tapi juga rasa serabi yang asli kelapa dan rasa sedikit gosong dari proses masaknya, jadi perpaduan yang lezat. Cukuplah untuk mengganjal perut keroncongan.

Serabi asli Kebumen

Sampai di Kebumen kota, kita langsung mencari tempat makan. “Mas, enak kali ya kalo makan tongseng kambing biar badannya anget” ujarku. Sempat berburu tongseng, tapi lama tidak ketemu, akhirnya kita makan di warung sa*bel lay*h. Baru mau pesan, si mbak kasir berkata “Maaf mas, karena nasinya habis dan baru dimasak, kalau nunggu 30 menit mau ngga?” Hee… 30 menit itu kita udah bisa bablas dari Kebumen lo mba, yang bener aja cuman nunggu nasi mateng sampe 30 menit? Yaweslah kita pun pergi cari tempat makan lain. Eh lha kok tepat disebrang warung sa*bel lay*h ada warung tongseng kambing. “Yess, makan tongseng” kataku.

tongseng enak di Kebumen

Satu mangkok tongseng kambing, nasi dan teh anget dibanderol 40 ribu per orang. Cukup mahal tapi sepadan dengan isian tongseng yang full daging dan ati kambing tanpa lemak. Kenyang dan puas rasanya. Siap untuk melanjutkan perjalanan pulang. Berangkat dari warung tongseng tepat saat adzan isya berkumandang. Kita memasuki daerah wates, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena dingin dan si mas tidak membawa rompinya, akhirnya dia pakai jas hujan untuk menahan angin malam yang menusuk. Kira-kira pukul setengah sepuluh malam kami sampai di rumah.

Alhamdulillah, puas rasanya keluar sejenak dari kesibukan. Traveling memang tidak pernah gagal memberikan cerita baru. Sungguh Allah telah baik pada kami dengan melancarkan perjalanan hingga pulang kembali ke rumah. Traveling lah agar kamu melihat keindahan ciptaanNya. Traveling lah agar kamu tahu rasanya kangen rumah. Traveling lah agar ceritamu bisa dinikmati oleh orang lain.

Menganti, Kebumen

18 agustus 2018

travelin98areng

Written by

couple | traveler | biker | story teller | 98

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade