#5 Berproses
Minggu, 3 November 2019
Minggu pagi ini kembali aku menuju saraga, ke area lari seperti minggu — minggu sebelumnya. Pukul 06.30 tepat kami berkumpul. Seperti biasa kami melakukan pemanasan bersama. Setelah itu dilakukan tes untuk lari, sit up, push up, dan plank. Kali ini aku menjadi pelari pertama. Aku berlari besama temanku yang sangat menyemangatiku dengan baik. Tujuh belas menit tiga puluh empat detik, waktuku berlari enam keliling pagi itu. Bahkan catatan waktuku saat ini lebih baik dari catatan waktuku saat ujian TPB! Aku benar — benar merasakan dan menikmati prosesku di sini. Terutama teman — teman yang selalu bersedia menyemangati satu sama lain. Lagi — lagi aku bersyukur bisa berada di lingkungan yang sangat mendukung dan mau mengajakku tetap berproses menjadi lebih baik. Selesai lari kami diuji berapa banyak push up dan sit up. Tidak cukup signifikan meningkat seperti lari, namun tetap karena teman — teman yang sungguh baik menyemangati dan mendukung setiap proses yang ada hasil yang kudapatkan selalu melebihi ekspektasiku terhadap diri sendiri.
Selesai melakukan tes fisik kami berkumpul di sekre bersama KM ITB. Kami diberi komando untuk mengunjungi tiga tempat yang sudah ditentukan. Dengan berbekal uang Rp. 15.000 -, dan satu alat komunikasi kami diberi clue untuk mengunjungi tempat — tempat yang sudah ditentukan. Aku sekelompok bersama kak Blek, kak Titin, kak Hilda, Bintan, dan Galih. Semulanya kami menuju monumen perjuangan, namun ternyata tempat yang seharusnya dikunjungi tidak berada di sana melainkan di taman vanda yang berada cukup jauh dari tempat kami berada. Kami memikirkan bagaimana caranya kami ke sana namun akhirnya kami memilih untuk berjalan. Kami berjalan ke sana ditemani obrolan ringan mengenai serangkaian diklat, keterkaitan burung dengan ekosistem, dan ekspedisi maritim yang galih lakukan. Sesampainya kami di taman vanda kami bertemu dengan kak Novan dan kak Anneke. Di sana kami diberi komando untuk mengobservasi apa saja yang ada di tempat tersebut kemudian tampilkan di depan orang — orang. Kami berdiskusi untuk menentukan apa yang akan kami bawakan. Akhirnya kami membawakan tema mengenai kegiatan orang — orang di sana dan isu lingkungan yang cukup memprihatinkan karena sungai kotor di sebelah taman. Penampilan kami disaksikan oleh keluarga yang sedang berkumpul di sana. Bahkan, ibu — ibu di sana pun merespon apa yang kami tampilkan. Jujur saja aku sangat senang melihat adanya interaksi dan keterlibatan warga dengan kami yang sedang berlatih berbicara di depan banyak orang. Aku belajar di sana bahwa meskipun mendadak dan sangat sedikit waktu yang diberikan untuk kami mempersiapkan penampilan yang kami bawakan, akan tetap ada yang mengapresiasi dan menghormati penampilan kami.
Setelah dari taman vanda kami diberi clue yang menunjukkan tempat selanjutnya. Tempat yang kami tuju selanjutnya adalah taman fotografi. Sekitar 2 km dari taman vanda. Akhirnya kami jalan ke sana, tentunya ditemani obrolan ringan sepanjang jalannya. Sesampainya di taman fotografi kami bertemu kak Farhan. Di sana kami diberi komando untuk menunjukkan hasil dokumentasi kami selama perjalanan. Dokumentasi menjadi hal penting dalam sebuah perjalanan untuk menceritakan apa yang terjadi selama perjalanan yang kita lakukan. Selain hasil dokumentasi kak Farhan pun banyak menceritakan bagaimana keadaannya saat ekspedisi. Setelah selesai semua anggota menjelaskan filosofi dan proses dari foto yang diambilnya kami melanjutkan perjalanan dengan clue yang disebutkan kami menuju taman lansia. Namun sebelum ke taman lansia kami sepakat untuk menunaikkan ibadah shalat dzuhur di masjid dekat taman. Ketika perjalanan menuju masjid, hujan turun. Akhirnya untuk beberapa saat setelah shalat kami berdiam diri, menunggu hujan reda. Di sela — sela kami menunggu kami diberi komando untuk langsung pulang ke ITB dan tidak melanjutkan ke tempat selanjutnya.
Perjalanan pulang kami memakai gocar karena hujan yang tak kunjung berhenti. Di perjalanan pulang kami berbincang mengenai banyak hal. Kami berenam dari jurusan yang berbeda sehingga kami menceritakan masing — masing jurusan kami dan mengkaitkannya dengan keadaan yang ada di lingkungan kami. Obrolan tersebut membuatku tersadar bahwa sebenarnya antara jurusan satu sama lain memiliki banyak keterkaitan. Bahkan melalui obrolan tersebut aku pun tahu nama — nama bakteri serta kebersihan makanan yang ada di sekitar lingkungan ITB. Banyak sekali hal yang kudapatkan dalam perjalanan ini. Perjalanan ini cukup mengajarkanku bagaimana kami berbagi makanan, berbagi cerita, dan saling menyemangati satu sama lain.
Setelah sampai di ITB kami kembali bertemu teman — teman dari kelompok lain. Kami mendengar cerita dari berbagai kelompok, perjalanan yang mereka lalui dan bagaimana mereka bisa menghasilkan uang disela — sela perjalanan. Setelah membagi cerita satu sama lain diberitahu tujuan diadakannya kegiatan ini adalah agar kami bisa mengambil keputusan secara cepat dan taktis. Kegiatan ini menunjukkan ada hal — hal yang tidak terduga yang akan terjadi di lapangan nanti, melatih negosiasi, dan cara kami berkomunikasi.

