Awaken Your Brand
“Kita bisa menginspirasi orang, tapi apakah semudah itu menginspirasi?”
Jumat, 1 November 2019
Dinginnya malam setelah hujan sepanjang jalan Jatinangor — Bandung lagi -lagi tidak menghalangiku untuk bertemu teman — teman berprosesku. Di malam Jumat ini kami kembali diberi materi. Kali ini materi dibawakan oleh seorang pengajar dan pembelajar yaitu kak Umar Al — Faruqi. Kak Umar membawakan sebuah materi mengenai personal branding. Namun sebelum masuk ke materi, kak Umar bercerita banyak mengenai personal branding dirinya sendiri. Kak Umar menyampaikan bagaimana pada akhirnya beliau bisa mendapatkan branding sebagai seorang pembelajar dan seseorang yang selalu mengajar.
Setelah kak Umar menceritakan personal branding nya kami diberi pertanyaan mengenai apa yang membedakan goal dan purpose. Menurut kak Umar, goal merupakan sesuatu hal yang ingin dicapai sedangkan purpose merupakan hal yang dijalani. Sebagai contoh untuk goal adalah ‘aku ingin bisa mendirikan rumah’, ‘aku ingin menjadi ketua’. Sedangkan tujuan itu seperti ‘aku ingin terus mengajar orang’. Kedua hal ini memang terlihat sama namun dalam keberjanannya sangat berbeda satu sama lain.
Untuk mencapai hal — hal seperti goal dan purpose, yang dapat kita lakukan adalah membuat citra diri kita (brand). Brand merupakan citra diri yang melekat pada diri kita. Proses untuk mendapatkan brand yang sesuai dengan diri kita dilihat dari kacamata orang lain disebut branding. Branding didefinisikan dengan bagaimana cara kita membangun dan mengkomunikasikan brand / citra kita. Setelah mendapat brand dan melaksanakan branding maka seseorang akan mendapatkan personal branding — nya sendiri.
“Your brand is what people say about u when u’re not in the room”
Bagaimana cara mencari tau brand state?
Salah satu hal yang paling sederhana untuk mendapatkan brand state adalah dengan menanyakan kepada orang lain pertanyaan seperti ‘menurutmu aku seperti apa’. Dari tanggapan orang lain maka kita akan mendapatkan sebuah output berupa pandangan mengenai diri kita. Apa saja hal yang terlihat oleh orang lain di diri kita, itulah salah satu personal branding yang ada di dalam diri kita.
Bagaimana membuat personal brand?

Salah satu cara dalam membuat personal brand adalah menanyakan pertanyaan kepada internal dan eksternal diri. Tuliskan sebenarnya apa yang kamu lihat dari dirimu? Apa yang sebenarnya menjadi hal yang sangat melekat dalam dirimu namun sesuai pendapat diri sendiri. Untuk mengkomunikasikan diri kita dalam bentuk personal brand maka terlebih dahulu kita harus mengetahui siapa kita. Selain itu menanyakan juga kepada orang lain. Bagaimana orang lain memandang kita. Irisan dari kedua jawaban tersebut adalah personal brand yang kita miliki.
Bagaimana cara mengkomunikasikan brand yang kamu miliki?
Komunikasikan personal branding dapat dengan cara kita melakukan hal — hal yang sesuai dan mendukung brand nya tersebut. Harus ada sesuatu yang selalu dilakukan dan diceritakan secara terus menerus agar brand — nya terjaga. Untuk memaksimalkan hal tersebut maka buat cerita brand menjadi suatu kebiasaan yang harus dilakukan agar tetap terbiasa.
Balanced communication
Ada tiga hal yang menjadi aspek keseimbangan dalam berkomunikasi. Tiga hal tersebut adalah Ethos (Credibility), Pathos (Emotion), dan Logos (Logic). Pendekatan untuk ketiga aspek ini berbeda — beda. Dalam keadaannya nanti pun kemungkinan ada aspek — aspek yang dominan. Bergantung pada lawan bicara kita dan culture yang mereka jalani.
#DiseminasiKhususAMI2020
#AkuMasukITB2020
#AMI100TahunITB
#MenjelajahiNegeriBersamaAMI
