Apa Itu Teknologi Tepat Guna?

Memangnya ada teknologi yang tidak tepat guna? Teknologi dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Setiap individu di lokasi yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda, maka dari itu dibutuhkan teknologi yang berbeda-beda pula.

Tapi sebetulnya apa yang kita butuhkan? Bagi saya pribadi kadang masih sulit untuk membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Karena suka ada bisikan setan yang bilang:

“Kalau kamu ingin berarti kamu butuh.”

Rasionalisasi belaka.

Mari kita tanya Kamus Besar Bahasa Indonesia apa itu keinginan dan kebutuhan.

ke·i·ngin·an n peri-hal ingin; hasrat; kehendak; harapan
ke·bu·tuh·an n yg dibutuhkan

Sederhananya, keinginan adalah sesuatu yang melengkapi kebutuhan. Contohnya makan, agar kita tidak mati kelaparan atau malnutrisi maka kita butuh makan. Makanan seperti apa? Barulah keinginan yang berbicara. Mau makan bakmi, bakso, mie ayam, ayam penyet, gado-gado, tempe bacem, gudeg, rujak, salad, sandwich, steak, dan seterusnya.

Kebutuhan primer kita adalah sandang, pangan, papan. Dan pemenuhan kebutuhan ketiganya jelas saling berhubungan, terutama untuk di daerah dengan kondisi sosial dan ekonomi tertentu semakin terasa betul keterkaitannya.

Maksudnya begini, untuk kita dapat memiliki sandang atau pakaian, seseorang harus membeli atau membuatnya. Perlu uang dong untuk membeli barang, cara mendapatkan uang adalah dengan bekerja. Ketika lapangan pekerjaan yang tersedia mengharuskan seseorang bekerja di malam hari namun tidak ada penerangan; tentu akan menghambat dan menyulitkan orang tersebut untuk bekerja. Kalaupun dapat membuat pakaiannya sendiri, keterbatasan listrik dan penerangan akan menghambat pengerjaannya ketika langit sudah gelap.

Varian lampu tenaga surya.

Sama halnya dengan papan atau tempat tinggal. Perlu uang, perlu upaya, dan akan lebih cepat bila ada uang lebih banyak dan dapat dikerjakan pada saat malam hari untuk bagian-bagian tertentu.

Dan yang paling penting adalah makan dan minum alias pangan. Manusia menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya untuk aktivitas yang berhubungan dengan makan, baik yang secara langsung yaitu seperti memasak, maupun yang tidak langsung seperti bekerja untuk mendapatkan upah yang akan digunakan untuk membeli bahan makanan.

Kita semua butuh mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan minum air bersih agar sehat dan dapat beraktivitas optimal. Untuk bisa menikmati makanan yang bernutrisi perlu dimasak. Memasak perlu bahan bakar. Begitu juga air, ada air yang dapat diminum setelah dimasak namun ada air yang tidak aman untuk diminum sekali pun sudah di masak.

Tech fair atau sosialisasi teknologi tepat guna di Desa Kobasoma bersama Mama Yoh. Demonstrasi penggunaan kompor biomassa.

Nah teknologi tepat guna adalah teknologi yang diperuntukkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas. Dari wikipedia saya menemukan penjelasan soal teknologi tepat guna:

“…teknologi tepat guna umumnya dikenal sebagai pilihan teknologi beserta aplikasinya yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, berskala relatif kecil, padat karya, hemat energi, dan terkait erat dengan kondisi lokal.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.
Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif seminimal mungkin dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.

Di Indonesia banyak wilayah yang kesulitan air bersih. Yang saya lihat dan alami langsung adalah ketika saya di FLores Timur dan Lembata saat menjadi relawan untuk Kopernik dalam program Indonesian Women for Energy. Air sebetulnya tersedia, tapi tidak dapat dikonsumsi karena kandungan kapur (di Flores) dan belerang (di Lembata) terlalu tinggi. Sehingga memasak air hanya membunuh bakterinya saja, kotorannya tetap ada dalam kandungan airnya. Apabila dikonsumsi terus-menerus tentu akan berdampak buruk pada kesehatan, seperti gangguan fungsi ginjal.

Bila mengonsumsi air yang kurang bersih, anak-anak bisa terkena diare. Diare dapat mengganggu anak-anak untuk mendapatkan haknya belajar dan menuntut ilmu. Semakin lama diare, semakin lama tidak sekolah, semakin tertinggal pendidikannya. Bahkan diare yang berkepanjangan bisa menyebabkan kematian.

Belum lagi jumlah minyak tanah untuk memasak air akan sangat banyak. Pengeluaran semakin besar dan semakin memberatkan masyarakat. Maka kompor biomassa bisa menjadi jawaban. Seperti di Desa Tuakepa, Flores Timur, selama ini kulit kemiri hanya dianggap sampah namun sekarang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kompor biomassa. Cek VLOG perjalanan saya ke Tuakepa di sini.

Penerapan teknologi tepat guna in sejalan dengan Sustainable Development Goals dari PBB. Terutama poin 3, 4, 6, dan 7.

Elektrifikasi yang belum merata di Timur Indonesia juga masih menjadi masalah. Lampu tenaga matahari bisa menjadi solusi untuk penerangan. Penerangan di malam hari ini selain berguna untuk bekerja, terutama nelayan yang melaut di malam; juga bagi pelajar sekolah agar dapat belajar di rumah.

Sebetulnya teknologi lampu tenaga surya dan panyaring air juga dapat digunakan di kota besar untuk menghemat penggunaan listrik. Jauh lebih hemat!

Selama dua minggu saya berkesempatan bertemu dengan perempuan-perempuan hebat, seperti Mama Merry, Mama Kris, Mama Mia, dan Mama Rovina. Saya belajar banyak dari para #IbuInspirasi yang saya temui selama di Flores terutama dari Mama Yoh dan Mama Esi. Begitu pula yang dirasakan oleh dua relawan lainnya yaitu Febrian dan Lovi.

Pengalaman yang menarik bagi saya untuk melihat langsung bagaimana pemanfaatan teknologi sederhana yang tepat guna. Bagaimana teknologi tersebut dapat membantu menghemat pengeluaran rumah tangga, dan dampak positif yang dirasakan langsung oleh warga. Sekaligus bisa menjadi alternatif mata pencaharian bagi para #IbuInspirasi ini.

Saya ingat ucapan Mama Mia:

“Menjadi #IbuInspirasi adalah berbagi kasih.”

Sedangkan bagi Mama Yoh:

“Menjadi #IbuInspirasi bersama teknologi tepat guna adalah membantu diri sendiri, membantu keluarga, dan membantu sesama.”
Hari terakhir di Larantuka bersama Mama Yoh sebelum saya pindah ke Lembata. Kami sedih berpisah.

Secara umum teknologi tepat guna adalah pemanfaatkan teknologi paling efektif untuk menjawab kebutuhan daerah yang masih tertinggal. Sekaligus, memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan dan ramah sosial di negara maju.

I have more stories to tell. Wait for my next post and don’t forget to hit that “Follow” button. 😀