Photo by ilumire on Unsplash

“Halo, Aku Menyimakmu!”

Ada kisah berkesan di Festival Anak Bertanya 2018 di Sabuga kemarin. Kudengar percakapan seorang Ibu dan (kemungkinan) anaknya di toilet.

Sepertinya, si kecil sedang (maaf) buang air. Ibu itu antusias menanggapi celotehan si kecil, walau di ruangan sangat sempit. Bayangkan, di ruangan yang tidak sekondusif itu masih sempat-sempatnya berbagi antusiasme! Gemas.

“Try to be interested. Not to be interesting.” Teringat aku pada pepatah itu. Menyimak orang lain ialah seni komunikasi. Lebih jauh lagi, ia adalah seni merengkuh hati.

Kenangan antara si Ibu dan si kecil bukan hanya mengajarkanku soal berkomunikasi pada anak saja, melainkan berkomunikasi pada manusia secara umum.

Bagaimana caranya menciptakan percakapan yang intens?

Pertama, sederhana, jangan sembari bermain ponsel ketika berbicara

Jika memang ingin buka sesuatu, minta izin pada lawan bicara: “Maaf, izin buka HP dulu ya bentar.” Kebiasaan yang kadang aku pun sekip. Tapi harus terus diupayakan.

Kedua, anggap lawan bicaramu sebagai sumber pengetahuan.

Tidak hanya pengetahuan seperti mengapa bumi itu bulat dan tidak datar, atau bagaimana konstelasi perpolitikan Malaysia hingga menaikkan kembali M. Mohammad sebagai Perdana Menteri.

Tetapi bisa sesederhana mengenai kisah kecil hidupnya, polemik kegalauannya, bahkan gerutuannya terhadap sesuatu. Be curious, tanya pertanyaan-pertanyaan pada lawan bicara yang akan memupuk pengetahuanmu tentang ensiklopedi manusia.

Ketiga, stop berbicara terlalu banyak soal diri

Acapkali aku memiliki tendensi untuk bercerita banyak tentang pandanganku, tentang diriku. Perlu pisau pemotong ego dengan berkata “Eh kalau di keluargamu gimana? Aku ingin dengar pendapatmu, siapa tahu ada pendapatku yang keliru atau di lengkapi..”


Tentu, setiap kasus berbeda. Kepada laki-laki dan perempuan saja, cara kita menunjukkan antusiasme berbeda. As far I know, antusiasme pada pria dibangun secara intelektual (kalau pada suami eksklusif menyertakan juga sokongan emosional-psikologis kali ya). Perempuan didekati dari emosi.

Perlu meramu juga apakah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menekan? Atau terdengar superkepo? Nah di sinilah seninya! Masih belajar..***

Like what you read? Give Tristia Riskawati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.