Mengapa Belajar Shirah?

Disarikan dari Kajian Fiqh Shirah oleh Ustadz Muhammad Elvandi, Kamis (18 Mei 2017) di Masjid Salman ITB.

Di Yastrib (nama lain Madinah sebelum Nabi Muhammad SAW hadir) yang dikelilingi perkebunan kurma, peperangan bagai biasa. Sebuah kabilah bernama Aus memiliki frenemies setia bernama Khazraj.

Mereka kerapkali berperang. Begitu mudah mereka dipicu hal-hal kecil.

Ditambah lagi, ada kabilah Yahudi yang meramaikan hubungan di antara mereka berdua. Yahudi Yastrib memiliki industri senjata. Dengan cara apa industri senjata mereka dapat laris manis?

Ialah dengan mengkelikiti sumbu kebencian kedua kaum itu. Maka Yahudi mengadu-domba. Bangkitlah permusuhan di antara Aus dan Khazraj. Terjadilah perang dan larislah senjata mereka.

Merasa familiar dengan drama di atas? No wonder, karena hal itulah yang sampai saat ini masih terjadi di berbagai belahan dunia!

Kemarin, aku baru mengikuti Kajian Fiqh Shirah dari Ustadz Muhammad Elvandi. Kajian ini akan rutin dilaksanakan tiap Kamis sore, di Masjid Salman ITB (atau tempat lain jika tidak memungkinkan).

Dari pertama aku menyimak kajiannya bersama Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), hingga lanjut mewawancarainya, kemudian menyimak kajiannya di Gerakan Subuh Jemaah Nasional di Salman — aku berpikir, inilah tipe kajian yang kucari!

Aku mencari kajian bagaimana umat Muslim dapat berkontribusi di tiap jengkal isu-isu strategis seperti ketahanan negara, pertambangan, keinsinyuran, lingkungan, media, dan lain sebagainya — dengan merujuk pada Alquran dan Assunnah.

Apa yang selama ini ditawarkan oleh Ustadz Elvandi dkk memfasilitasi background perjalanan hidupku yang seringkali dibenturkan antara kalangan Islam utopis, kalangan Islam hijrah yang sederhana, kalangan kiri yang pandai meramu isu-isu kritis kemasyarakatan, hingga kalangan entrepreneurship yang antusias dengan disruptive innovation..

He he. Malah curhat. 
Lanjut dulu, deh, ya.

Industri senjata paling kuat berada di Amerika. Amandemen undang-undang senjata takkan berhasil, karena Amerika hidup dari industri senjata tersebut.

Perang-perang di timur tengah, salah satunya disuplai oleh senjata-senjata Amerika. Ketika pemerintah Arab Saudi takut ada pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan Islam tertentu, angkatan bersenjata Amerika siap menjaga!

Weleh-weleh.

Jika ada konflik di antara sesama, ada pihak ketiga yang ambil keuntungan. Hal-hal sederhana seperti perang urat syaraf di facebook pun bisa dimanfaatkan.

“Udeh, lo bedua konflik aja terus di facebook. Biar finansial, properti, dan urusan-urusan ekonomi lainnya gua yang urus!”

Damn, man.

Yep, inilah yang dimanakan sunatullah. Sejarah, termasuk shirah nabawiyyah, akan berulang. Kejadian-kejadian di masa lalu tak pernah usang. Pasti selalu relevan. Dan alasan inilah yang seharusnya menjadi urgensi umat Islam untuk gemar dan rutin mempelajari shirah nabawiyyah.

Shirah adalah petunjuk untuk membandingkan pola masa lalu, menghubungkannya dengan konteks fenomena sekarang, hingga dapat memprediksi masa depan.

Maka, jarang sekali pemimpin-pemimpin besar dunia yang tak gandrung sejarah. Sejarah ialah bahan dasar dari ilmu-ilmu sosial.

Keistimewaan shirah nabawiyyah lain ialah komprehensif. Shirah Nabawiyyah merunut dari zaman sebelum Rasulullah SAW lahir, hidup, hingga akhir hayatnya. Berbeda dengan tokoh-tokoh dunia lain yang kehidupannya baru detail dirunut ketika beranjak tenar.

Rasulullah SAW, dalam rentang perjalanan hidupnya berperan dalam banyak topi. Beliau pernah menjadi gembala, pengusaha, suami, ayah, negarawan, ahli strategi perang, guru spiritual, dan lain sebagainya.

Ini membuat semua muslim-muslimat, sepatutnya menjadikan pola hidup beliau sebagai rujukan utama — dibanding tokoh-tokoh lainnya.

Belum lagi Shirah Nabawiyyah, memiliki metode pengumpulan data yang valid. Bahkan lebih valid dari pengumpulan data sejarah peradaban Islam selanjutnya, seperti dinasti umayyah atau abassiyah.

Shirah Nabawiyyah memiliki metode sanad dan matan? Familiar? Yes! Wong ini metode dalam ilmu hadits!

Sanad adalah rantai pencerita yang menarasikan hadits Rasulullah. Matan ialah kata-katanya. Bisa belajar sedikit ilmu hadits bila tertarik mempelajari metode ini.

Hal terpenting, menurutku, mengenai keistimewaan yang sepatutnya membuat kita semakin greget ‘berpacaran’ dengan Shirah Nabawiyyah adalah kepraktisannya. Inilah salah satu hikmah mengapa Allah tidak menurunkan malaikat sebagai Nabi.

Karena Rasulullah SAW adalah manusia, sama seperti kita. Sering tepat, namun terkadang keliru.

Sehingga tidak ada lagi alasan bagi kita untuk bilang, “Ah, dia kan malaikat. Kita kan manusia. Nggak usah terlalu gimana banget, lah.”

Padahal diikuti walau bertahap kan nggak apa-apa, ya? Daripada engga sama sekali.***