mental mobil sang walikota


Yeah. Walikota Bengkulu menyiapkan anggaran Rp20miliar untuk warga kota yang rajin salat berjemaah di masjid.

Beliau akan menghadiahi mobil Kijang Innova bagi warga yang paling rajin ikut program ini. Indikasi rajin adalah jika ia lebih dari 52 kali salat zuhur berjamaah.

Usut punya usut, anggaran tersebut berasal dari APBD kota.

Sebelum mengulas cacatnya ide ini, apresiasi dulu aja dah upaya si Pak Walikota ini. Betapa ia ingin warganya berlomba-lomba menunaikan salah satu ibadah penanda keislaman tersebut. Betapa ia ingin warganya dapat terhindar dari marabahaya siksa neraka.

Mungkin begitu yaa jika kita mau khusnuzon.

Handai taulanku menyatakan ketaksetujuannya. Alasannya, “Nanti niatnya jadi nggak bener! Salat malah dilaksanain buat dapet tu mobil jadinya!”

Aku juga jadi “reuwas”, Lur (“Reuwas” is “khawatir” in Sunda). Alasanku lain lagi. Aku reuwas pada “mental mobil” sang walikota.

Dengan mengiming-imingi warganya mobil, ia meneruskan sebuah logika yang menurutku fatal. Logika tersebut berbunyi “Memiliki mobil itu lebih oke dibanding punya sistem transportasi umum kota yang yahud.” Dengan kata lain, ia melanggengkan paham “Punya mobil itu asyik!” yang sudah tertanam kuat di masyarakat kini.

Saya tidak anti “punya mobil”. Tapi saya anti “mental mobil”.

Mengapa saya anti “mental mobil”? Pertama, mobil itu mahal. Kedua, mobil lebih besar potensinya untuk menghilangkan keseimbangan lingkungan (mobil biofuel butuh tanaman dalam jumlah yang banyak. berapa banyak air yang dihabiskan untuk menyiram tanaman tersebut?). Ketiga, bikin macet. Biasanya ada keluarga yang punya lebih dari 1 mobil gitu, kan.

Tak hanya walikota bengkulu yang melanggengkan logika ini. Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Industri, serta Menteri ESDM pun turut serta berpartisipasi dengan meloloskan konsep low cost green car. Mungkin kawan baik dapat baca ulasan Faisal Basri di http://faisalbasri01.wordpress.com/2013/09/18/sesat-pikir-mobil-murah-lcgc/. Saya ngeri.

Lalu solusinya apa agar warga rajin salat, tanpa harus ditanamkan “mental mobil” dalam benak?

Oke, Pak Walikota Bengkulu, Anda ingin warga Anda rajin salat di masjid kan? Coba dana APBD yang cukup besar tersebut dipakai untuk menunjang pelayanan masjid. Jika pelayanan prima, warga betah datang.

Kemudian jika sudah betah, insyaa Allah warga pun akan gemar mengikuti kajian-kajian sederhana tentang Islam— termasuk salat dengan niat dan cara yang benar. Warga pun tidak menjadi materi-oriented. Namun menjadi masjid-oriented.

Sementara itu, Bapak bisa pikirkan pula bagaimana membangun sistem transportasi massal yang yahud. Warga pun tak terlalu terpaku lagi dengan paham “memiliki mobil itu lebih oke dibanding nransportasiumum”.

Gampang banget ya aku ngomong kayak nggak tahu susahnya menjadi walikota. Hehe. Tapi inilah pendapat sederhanaku. Wallahu’alam.

Email me when Tristia Riskawati publishes or recommends stories