Hujan Bulan Juni

Aku tidak tahu lagi tentang musim. Katanya hujan harusnya turun di bulan Mei, bukan Juni. Ini sudah hujan kesekian di bulan Juni. Lalu, malam ini hujan rintik-rintik tak mau berhenti. Aku duga dia akan berhenti nanti, saat akan menjelang pagi.

Aku selalu bertanya, “Adakah hubungan hujan dan ingatan ?”.

Saat hujan rintik-rintik seperti ini. Persis. Waktu itu juga malam, kita berteduh agar hujan segera reda dan kamu bisa mengantar aku pulang. Diam-diam sebenarnya waktu itu aku berdoa, agar hujan tak lekas reda.

Lalu kamu memutuskan untuk kita berteduh sambil minum kopi, di warung agak jauh dari tempat kita berteduh. Kamu bilang pemilik warungnya baik, aku kenal. Kita berlari kecil, menghindari basah hujan. Kamu tak menggenggam tanganku, tak juga melepas jaket untuk melindungiku. Kamu memang bukan lelaki seperti itu. Namun, aku tahu bahwa kamu melindungi lebih dari sekedar jaket atau genggaman tangan.

Warung itu sederhana, meja dan bangku kayu dengan penerangan yang lampu tidak begitu terang. Aku memilih duduk berhadapan denganmu. Alasannya sederhana, kenapa aku memilih duduk berhadapan. Aku suka tenggelam pada mata itu, matamu.

Tak lama ibu tua menghampiri kami dan duduk di sebelahmu. Dia menyapamu, kamu jawab dengan hormat. Sesekali ibu itu memandangku dan tersenyum. Rupanya kamu sudah mengenal baik ibu pemilik warung ini.

“Bukan, dia bukan pacarku. Kami teman dan dia sudah punya pacar”, katamu memberikan penjelasan atas curiga ibu tua.

Ibu tua itu seorang janda, baru beberapa bulan yang lalu ditinggal mati suaminya. Dia bercerita banyak, tentang usahanya, tentang anaknya dan tentang suaminya. Bagian tersedih dari semua cerita, mungkin saat dia bercerita tentang suaminya.

“Ditinggal tiba-tiba, Nak. Sebelumnya tak pernah sakit”, ibu itu berkata sambil berusaha membendung air di kelopak matanya.

Ibu tak pernah membayangkan sebelumnya, akan ditinggal bapak secepat ini.

Hening..

Lalu, ibu itu menyeka air matanya yang jatuh tak tertahankan.

Di tempat aku suka tenggelam itu, di mata itu. Aku melihat ada mendung juga.

Kami jalan menerjang rintik itu, karena hari semakin malam dan aku harus segera pulang.

“Kamu suka ya makan di warung itu ?”, kataku sambil menghindari genangan air.

Iya. Aku suka mendengarkan ibu itu bercerita.

Kenapa ?

Dari dia aku sadar bahwa setidaknya ada yang lebih menyakitkan dari mencintai tapi tak bisa memiliki, yaitu ditinggal mati suami.

Kemudian mendung itu berganti berada di kelopak mataku. Entah ini basah karena rintik hujan atau apa.

Tiba-tiba dering handphone menyadarkanku dari lamunan panjang, udara dingin menyergap dan ternyata jendela belum ditutup. Sambil menutup jendela, aku lihat di luar masih hujan rintik-rintik. Seperti dugaanku, mungkin akan sampai pagi.