Tilang, Itu Perlu Mental!

Seumur-umur saya melewati razia SIM dan STNK belum pernah lebih dari 10 kali, dan memang dokumen saya tidak pernah tidak lengkap, tapi kena tilang itu sepertinya saya pernah 1 kali, suatu pagi saya buru-buru interview kerja, jadwalnya jam 9 pagi di dekat keraton Jogja, saya berangkat dari rumah Wonogiri jam 4 pagi tapi ke Solo sebentar, seharusnya waktunya cukup banget jika motos saya tidak tiba-tiba mogok di daerah Klaten, dan harus masuk bengkel sekitar 50 menitan, dan usai dari bengkel itulah ritme berkendara saya agaknya mulai kecepetan!

Melewati ring road Jogja bukannya saya lewat jalur motor saya malah melintasi jalur roda empat dan priiiittt, Saya siap setoran tilang, nah sebenarnya pak polisi tidak harus bekerja sampai kayak gini, ntar nyegat saya kalo ketabrak kan juga berabe, nah saya pikir ada ide sedikit minimal buat mereka yang melanggar lampu merah atau masuk ke jalur yang tidak semestinya, sederhana sekali sebenarnya, CCTV Plat nomor….

Mungkin sistem ini sudah diaplikasikan di negara lain, karena sesungguhnya bukan sesuatu yang canggih, karena memang Internet of Things itu tak selalu tentang hal-hal futuristik nan canggih, hal sederhana yang bisa jadi fungsional, hmm paling tidak memudahkan pak polisi agar tidak perlu panas-panasan, dan bisa jadi juga untuk menambah pendapatan asli daerah/negara (bukan pendapatan polisi), tapi pak polisi bisa punya kegiatan asik yakni motretin plat nomor, juga bisa jadi loh melatih ‘Mental’ pengendara jalanan.

Sekarang di jalan-jalan strategis itu sudah mulai ada CCTV, kurang tau itu dikelola siapa, nah sekalian bisa dipasang CCTV di posisi bawah, agak dekat dengan lokasi kendaraan berhenti di lampu merah sehingga bisa mencapture nomor plat kendaraan, tigasnya sederhana menjadi input bagi pengawas lalu lintas aka poltas yang siap mencapture kendaraan dan plat nomor sewaktu-waktu pada kendaraan yang melanggar, pastilah sistem harus sinkron pula dengan kondisi lampu merah, sehingga pasti bahwa pelanggaran adalah fix pelanggaran, tanpa negosiasi lagi.

Lah trus, cara menilangnya gimana? negara harus punya database kendaraan dan pemilik kendaraan termasuk alamat rumahnya, foto bukti pelanggaran dikirim beserta tagihan tilang ke alamat, kepolisian juga memiliki website atau aplikasi resmi tempat pengendara bisa mengecek keabsahan data tilang, dan pengendara bisa membayarnya via web atau aplikasi, nah jika tidak membayar saat itu maka tilang akan ditagihkan ketika membayar pajak kendaraan bermotor.

Nah, ini membuat pengendara jadi tetap hati-hati berkendara, karena tilang terjadi secara invisible mana pakai bukti pula, tiba-tiba dapet tagihan, nah karena semua terdokumentasi dengan baik maka pengendara pun boleh saja mengajukan sengketa asal dasar-dasar dan alasannya kuat.

Cara ini bisa diterapkan di banyak situasi, seperti lampu lalu lintas, jalur satu arah, jalur cepat atau lambat dan sebagainya.

Like what you read? Give Tri Untoro a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.