AHOK & AKHLAK (Bag 2)

Gaya Ahok & Implication Magnitudenya

Pada saat saya menulis ini, Pilkada DKI Jakarta 2017 tengah berlangsung, terakhir kali saya buka-buka portal berita prosesnya telah sampai pada tahap di mana para Validator berbagai Lembaga Survei kebut-kebutan saling salip mengirim laporan ke pusat.

Saya tidak akan membahas soal perolehan suara siapa yang paling banyak sejauh ini, tidak juga menerka-nerka, menganalisa apalagi meramal siapa yang akan unggul dan sampai di garis finish lebih dulu. Tapi, terlepas dari itu semua, ada satu hal yang pernah saya prediksi jauh sebelum masa pemungutan suara dan kini terbukti, yaitu Mas Agus HY dan Mbak Sylvi.. Kalah. Itu saja.

Saya ingin membicarakan soal pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Jujur, atas nama pribadi saya menyatakan bahwa saya adalah salah satu pengagum beliau, bahkan lewat beberapa post di akun-akun media sosial saya, tidak hanya sekali saya menyatakan itu. Lalu kenapa? Ya tidak apa-apa, ngasih tau aja.

Jadi, apakah kamu merupakan salah satu dari sekian banyak warga DKI Jakarta yang tidak mencoblos foto Pak Ahok hari ini? Kalau iya, saya tebak pasti karena kamu tidak suka beliau, kan? Kenapa tidak suka? Pasti karena menurut kamu beliau adalah orang yang kasar, khususnya dalam sikap dan perkataannya selama ini, ditambah kamu menganggap beliau sudah kelewatan ngawur ketika “main-main” dengan salah satu surat yang terdapat dalam Al Quran, sebuah buku sakral yang menjadi tolok-ukur terbesar guna kiblat pikir dan kiblat aksi umat Islam.

Kalau saya membahas soal Ahok dan kasus agamanya rasanya tidak adil, alasan pertama karena saya pernah menghabiskan 17 tahun sebagai seorang Kristiani, 12 tahun sebagai seorang Muslim hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi Agnostik sejak 5 tahun yang lalu (saya sebenarnya juga tertarik untuk membahas soal ini, tapi mungkin nanti di kesempatan dan tulisan yang lain). Masih di alasan pertama, sampai detik ini pada kolom agama di KTP saya masih tercantum “Islam”, mungkin inilah yang disebut orang-orang sebagai “Islam KTP”, berlabel Islam tapi tidak pernah Sholat, tidak pernah Puasa atau melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya, jadi dengan kata lain dapat dipastikan ilmu dan wawasan agama saya tidak mumpuni guna membahas apalagi hingga berdebat soal itu.

Lalu alasan yang ke-dua? Sederhana saja, karena memang saya tidak akan membahas itu. Iya banget, kan? Iyalah. Iya aja, jangan bikin saya bingung.

Sebentar, saya ambil kertas baru dulu, yang ini mulai lecek.

Bersambung ke Bag 3
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.