AHOK & AKHLAK (Bag 3)

Gaya Ahok & Implication Magnitudenya

Saya pikir begini; syarat dalam memilih pemimpin haruslah yang cakap. Cakap dalam melaksanankan tugasnya sebagai pemimpin, tentunya.

Kemudian muncul argumen; bahwa attitude atau kepribadian atau polah-tingkah-laku atau apalah itu namanya memegang peranan terpenting di atas syarat-syarat lainnya.

Soal itu, mohon maaf saya tidak sepenuhnya setuju. Itu penting, ya saya setuju, tapi kalau dianggap paling penting, tidak. Seberapa penting sih attitude seseorang untuk dapat menentukan kelayakannya dalam memimpin atau menjalankan tugas? Apakah ada tolok-ukurnya? Kalo kata saya mah ada.

Menurut saya; perilaku seseorang, kepribadiannya, kebiasaan-kebiasaannya, tingkah-lakunya tidaklah berbanding lurus dengan kinerjanya dalam menjalankan tugas atau dalam melakukan hal apapun. Lalu dalam hal bad attitude (perilaku buruk), batasan apa yang dapat digunakan? Kadar apa yang dapat dijadikan ukuran? Izinkan saya memperkenalkan sebuah istilah yang mungkin baru:

IM (Implication Magnitude)

Seberapa besar dampak yang diakibatkan perilaku buruk seseorang kepada tugas atau pekerjaannya? Atau lebih sederhana lagi; apakah perilaku buruk seseorang memberikan dampak kepada kinerjanya?

Saya punya contoh:

Saya cukup lama bermain musik, tahun 2001 saya mulai bermusik komersil sebagai pemain bass, bermain di Kafe-kafe, Bar, Pub, Resto, dsb; Kemudian karena satu dan lain hal, saya “gantung bass” sekitar tahun 2010. Dalam perjalanan selama hampir 10 tahun itu saya telah mengalami begitu banyak pergantian band dan/atau personilnya. Saya berani bertaruh, dalam situasi dan penalaran yang wajar siapapun yang pernah atau masih berkutat dengan musik dan panggung -khususnya Live Music Entertainment Band- pasti sangat familiar dengan kalimat “jago atau nggak itu belakangan, yang penting attitude-nya” apalagi jika berurusan dengan mencari personil band.

Saya sudah belajar, merenung, berdamai dengan diri sendiri hingga akhirnya menyadari bahwa ternyata hal itu sebenarnya adalah dinding, ternyata itulah sekat yang selama ini menahan kita untuk melanjutkan perjalanan menuju kemajuan. Betapa kita selama ini memperlakukan hal yang disebut perilaku (baik maupun buruk) seakan tidak memiliki tolok-ukur, seakan-akan hanya ada dua pilihan di sana, baik berarti ya dan buruk berarti tidak.

Sudah berapa banyak kita menemukan yang berperilaku baik ternyata penjahat? Atau sebaliknya, para penyelamat kita ternyata adalah mereka yang menyebalkan dan bergaya berandalan? Jangan munafik, that’s happened, way too much in our lives.

Sebentar, jempol agak kram, peregangan dulu sambil nyeduh kopi.

Bersambung ke Bag 4
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.