AHOK & AKHLAK (Bag 4)

Gaya Ahok & Implication Magnitudenya

Jadi, alaminya seseorang pasti akan memilih sesuatu hal dengan pertimbangan selera atau kesukaan mereka masing-masing dan alaminya juga bahwa siapapun tidak akan menyukai orang yang berperilaku buruk, yekan? Kecuali kamu orang gila, maka bisa jadi mungkin.

Kembali pada Pak Ahok, begitu banyak yang tidak suka pada beliau karena perilaku buruknya yaitu jika bicara terkadang suka semaunya saja, bahkan cenderung kasar untuk telinga “tipis” kaum melayu. Baiklah, kalau itu saya masih bisa setuju, Pak Ahok bicaranya memang kasar -kek tangan kuli selesai ngebobok tembok-. Tapi, apa hanya itu alasan kamu tidak suka dan akhirnya tidak menginginkan beliau untuk kembali jadi pemimpin? Apakah karena calon lainnya begitu santun dan lemah lembut bagai dewa-dewi lalu kamu menganggap mereka lebih layak menjadi pemimpin?

Pada bagian sebelumnya saya sudah menyinggung soal IM (Implication Magnitude). Saya coba mengingat-mengingat kembali dengan seadanya -karena saya lagi malas googling dan jempol saya sedang semangat mengetik- bermacam-macam perkataan kasar yang pernah keluar dari mulut Pak Ahok, antara lain seperti: Anjing, Babi, Monyet, Bodo amat, Gua nggak peduli, Setan, Tai kucing, Bodoh, Goblok, Tolol, Nggak punya otak, sampai yang agak viral dan populer seperti “pemahaman nenek lo!”

Apa implikasi perkataan-perkataan tersebut terhadap program dan kinerja beliau dalam memimpin kota? Hayoo, apa hayoo? Hmm, apa ya? Kalau menurut saya, implikasinya adalah.. Tidak ada. Menurut saya lho ya, nggak tau deh kalo mas Anang. Yang pastinya, yang terkena dampak dari hal-hal di atas itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah perasaan. Ya, kan? Ngaku aja deh wahai kalian manusia dengan jiwa-jiwa yang lemah dan hati-hati nan rapuh.

Kawanku-kawanku, pola pikir kalian dalam memilih pemimpin jangan seperti memilih barang untuk acara tuker-tukeran kado, tidak mengerti untuk apa -yang penting lucu, imut, selalu menyenangkan, model baru kekinian, murah tapi nggak keliatan murahan, dll-

Duh, kebelet pipiiiis, sebentar.

Bersambung ke Bag 5
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.