AHOK & AKHLAK (Bag 5)

Gaya Ahok & Implication Magnitudenya

Ahok punya attitude yang nggak bagus!Mulutnya kasar! Kotor! Sembarangan! Pemimpin harusnya jadi teladan buat generasi selanjutnya! Gimana kalo dicontoh sama anak-anak kita?!

Nah, saya sudah sering mendengar protes yang semacam itu, untuk itu saya ingin memperkenalkan seorang gadis yang pintar dan cantik, namanya Gendis, dia baru akan masuk Sekolah Dasar tapi sudah bisa membaca, menulis dan sedikit berhitung, walaupun tulisannya kurang keren dan kalau baca masih suka tebolak-bolak, namun untuk ukuran anak seusianya kemampuannya sudah jauh di atas rata-rata; Gendis adalah anak saya dan protes yang ada di awal tulisan ini adalah protes yang banyak keluar dari mulut masyarakat kebanyakan.

Saya punya pandangan sendiri soal itu, bahwa untuk mengajar dan mencontohkan tata-krama, sopan santun serta budi pekerti yang baik kepada Gendis bukanlah tugas Pak Ahok, bukan pula tugas pejabat lain ataupun tugas figur publik manapun; itu semua tugas saya, tugas istri saya, tugas keluarga Gendis, tugas lingkungan sekitarnya, tugas para pendidiknya di sekolah.

Tugas Pak Ahok adalah memimpin dan membimbing pembangunan Jakarta dengan program-programnya. Tugas Pak Ahok adalah untuk memberikan, memperbaiki dan memantau pelayanan bagi warga Jakarta. Itu saja. Jika dalam perjalanannya begitu banyak pihak yang merasa dirugikan atau bahkan sakit hati, mungkin karena mereka tidak melihat gambaran besarnya, sehingga merasa ada hak atau kepentingan yang seakan dirampas begitu saja dari mereka.

Apa yang dimaksud dengan gambaran besar? Yaitu kenyataan bahwa membangun dan mengembangkan peradaban tidak bisa hanya dengan sekedipan mata, tidak bisa dilakukan dengan azaz pemakluman atau dengan dalil-dalil untuk membenar-benarkan segala yang salah. Pembangunan yang dirasa tidak adil? Kesenjangan antara warga kaya-warga miskin, jarak antara rakyat besar-rakyat kecil adalah sebuah fenomena yang telah ada sejak zaman negeri di awan, bukankah justru tujuan pembangunan yang tengah dilakukan adalah sebenar-benar perjuangan untuk meretas jarak dan kesenjangan tersebut?

Yang mengidamkan perubahan wajib menikmati prosesnya.

Sampe sini pada ngerti nggak, sih? Saya sih nggak.

Wait, bagian ini sepertinya agak kepanjangan dan mulai ngelantur. Sebats dulu kita?

Bersambung ke Bag 6
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.