AHOK & AKHLAK (Bag 6)

Gaya Ahok & Implication Magnitudenya

Setelah rentetan lanturan di 5 bagian sebelumnya, maka pada bagian ini -yang mana merupakan bagian terakhir di mana saya sudah mulai bete dan kehabisan bahan- saya akan mengakhirinya dengan cara yang agak kurang tapi nganu namun berusaha agar tetap elegan. Duileh


Ada sebuah keluarga kecil nan sederhana yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak mereka yang masih kecil. Pada suatu kesempatan, mereka mendapatkan undangan untuk menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu kerabat dekat mereka.

Pada saatnya, seluruh anggota keluarga telah siap dengan pakaian dan penampilan terbaiknya masing-masing sampai kemudian tiba-tiba turunlah hujan dengan begitu derasnya, tepat sesaat sebelum mereka akan berangkat.

Rumah sang kerabat di mana pesta tersebut akan dihelat terletak tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Keluarga kecil yang kebetulan tidak memiliki kendaraan ini pada awalnya berencana pergi menggunakan jasa Go-Jek, karena sang ayah kebetulan tidak suka menumpang mobil, entah apa alasannya pokoknya dia benci sekali naik mobil.

dua motor juga cukup, lagian deket aja kok”, kira-kira begitu ujar sang ayah beberapa waktu sebelumnya. Sang istri serta anak-anaknya hanya tersenyum dan mengangguk.

Karena tidak ingin terlambat, sang ayah tetap memesan dua motor Go-Jek. Hujan masih cukup deras dan sang istri tampak khawatir.

Kita nggak pake Grab Car aja, yah? Ujannya deres gini, sekali-sekali nggak apa-apa ya? ” bisik sang istri pelan.

Nggak, kamu kan tau aku nggak suka naik mobil, udah naik Go-Jek aja, nanti pasti ada jas ujannya kok” Jawab sang suami ketus.

Maka meluncurlah mereka di tengah hujan, hingga akhirnya tiba di rumah sang kerabat dengan keadaan tubuh yang basah kuyup dan pakaian yang kotor akibat cipratan-cipratan genangan air dan tanah basah. Salah seorang anaknya yang paling kecil tidak henti-hentinya bersin, batuk dan menggigil, tampaknya begitu kedinginan dan mulai terserang flu.


Kawan-kawanku; Rumah kalian adalah Jakarta. Kalian adalah sang ayah, sang suami. Istri dan anak-anak kalian adalah penduduk Jakarta lain, yang memiliki hak dan harapan sama seperti kalian, lalu kendaran itu? Itu adalah pemimpin pilihan kalian.

Ketika kalian mengorbankan terlalu banyak hanya demi kepentingan sendiri, demi kesukaan sendiri, kepuasan sendiri, ideologi sendiri, keyakinan sendiri atau demi alasan apapun yang hanya untuk dirimu sendiri; saat itulah kalian lupa pada kenyataan, bahwa ini bukanlah soal diri kalian sendiri, melainkan juga soal orang-orang lain yang tinggal di dalam rumah bersama kalian.

Hadapi saja, bahwa dalam hidup akan tiba suatu saat di mana kalian akan dihadapkan pada begitu banyak pilihan, namun ternyata kenyataan “memaksa” kalian untuk memilih sesuatu yang telah digariskan.

Ada sesuatu di masyarakat yang tidak dapat dinilai hanya dengan suka atau tidak; melainkan lebih jauh, dinilai dengan bermanfaat atau tidak. Coba renungkan sekali lagi, ini hanya untukmu atau untuk rumah dan semua keluargamu yang tinggal di dalamnya? Jika menurutmu ini memang hanya untukmu sendiri maka lupakan bahwa kalian pernah menghabiskan waktu sia-sia hanya untuk membaca tulisan ngelantur ini.

Kawan, perkara memilih pemimpin, tidak sesederhana itu.

Tamat,

Baik atau buruk; dalam hidup, beberapa hal memang lebih baik dibiarkan apa adanya.

Q:

“Maswid, trus tulisan soal pembajakan CD, VCD, DVD, Dsb itu di bagian mana nih kl blh tw?”

A:

“Nggak ada, itu bo’ongan, Wle”.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.